Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Lebih 500 Warga Sulsel Terjebak di Timur Tengah Imbas Perang Iran Vs AS–Israel

Keberadaan ratusan warga Sulsel itu berpotensi terdampak eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Tayang:
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
IRAN Vs ISRAEL - Pesawat milik maskapai nasional Arab Saudi, Saudia Airlines. Saudia menghentikan sementara sejumlah jadwal penerbangannya menyusul dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Lebih 500 warga Sulsel dilaporkan masih tertahan di sejumlah negara Timur Tengah. (SAUDIA.COM) 

TRIBUN TIMUR, MAKASSAR - Lebih 500 warga Sulawesi Selatan (Sulsel) dilaporkan saat ini tengah berada di kawasan Timur Tengah.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (DPD ASITA) Sulsel, Didi Leonardo Manaba. 

Ia menyebutkan, keberadaan ratusan warga Sulsel itu berpotensi terdampak eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Utamanya terkait gangguan dan pembatalan penerbangan internasional di kawasan tersebut.

Didi menjelaskan, angka tersebut merupakan estimasi warga Sulsel yang sedang berada di Timur Tengah saat ini. 

Sementara jika dihitung secara akumulatif sejak awal Ramadan hingga mendekati Idulfitri, jumlah warga Sulsel yang melakukan perjalanan ke kawasan tersebut bisa mencapai ribuan orang.

“Kalau seribu itu akumulasi. Ada yang sudah pulang, ada yang baru mau berangkat, dan ada yang sedang di sana. Jadi tidak bersamaan. Yang sedang di sana mungkin ratusan orang, sekitar lima ratusan,” kata Didi saat dikonfirmasi, Senin (2/3/2026).

Ia menyebutkan, perjalanan warga Sulsel ke Timur Tengah saat ini didominasi wisata religi atau umrah

Namun, terdapat pula sebagian yang melakukan perjalanan wisata umum ke negara-negara lain di kawasan tersebut, seperti Turki.

Menurut Didi, dampak paling nyata dari eskalasi konflik adalah munculnya penundaan (delay) hingga pembatalan (cancel) penerbangan oleh sejumlah maskapai, khususnya maskapai yang berbasis di Timur Tengah. 

Keputusan tersebut umumnya diambil dengan mempertimbangkan faktor keamanan.

“Ada informasi soal delay dan cancel flight. Kalau situasinya seperti ini, nanti akan dilihat apakah masuk force majeure atau tidak. Masing-masing pihak tentu akan mengambil kebijakan,” jelasnya.

Dalam kondisi tersebut, Didi mengatakan pihak travel umumnya akan melakukan komunikasi intensif dengan maskapai untuk mencari solusi terbaik bagi jemaah dan wisatawan. 

Namun, tidak menutup kemungkinan ada penumpang yang harus tertahan sementara di bandara atau di negara tujuan.

“Bisa saja airline memberikan kompensasi, atau jemaah dalam tanda petik terlantar di bandara. Ada juga yang belum mengetahui jadwal pulangnya karena masih menunggu kepastian,” ujarnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved