Kotak Kosong Antar Chaidir Syam Raih 2 Doktor, Prof Armin Arsyad: Lebih Hebat dari Pengujinya!
Bupati Maros dua periode, Andi Syafril Chaidir Syam meraih doktor dari Program Studi Ilmu Politik Universitas Hasanuddin
TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS- Rabu, 12 Februari 2026, menjadi hari yang akan selalu dikenang Bupati Maros, Andi Syafril Chaidir Syam (49).
Di ruang sidang Program Studi Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), suasana penuh akademisi itu terasa hangat sekaligus bergemuruh tepuk tangan.
Sekretaris DPW PAN Sulawesi Selatan ini sedang menjalani sidang terbuka promosi doktor, momen yang mengukuhkan dirinya sebagai kepala daerah pertama di Sulsel menyandang dua gelar doktor.
Tak sekadar sidang formal, momen itu juga menjadi ajang pujian publik dari promotor, Prof Armin Arsyad, Guru Besar Ilmu Politik dan Sosial Unhas.
Dalam sambutannya, Armin bahkan membandingkan kemampuan Chaidir dengan para penguji.
“Chaidir Syam ini lebih hebat dari pengujinya. Satu-satunya yang punya dua gelar doktor di ruang ini,” kata Armin, disambut tepuk tangan hadirin.
Baca juga: Tak Pernah Bolos, Chaidir Syam Tuntaskan Pendidikan Doktor Ilmu Politik saat Pimpin Maros
Sidang ini dipimpin Prof Phill Sukri, Ketua Sidang sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unhas.
Fakultas ini dikenal mendidik lulusannya untuk menjadi kritis, analitis, dan solutif terhadap isu sosial-politik melalui pendekatan interdisipliner.
Chaidir bukanlah orang baru di dunia akademik.
Sebelumnya, ia telah meraih gelar doktor Ilmu Hukum dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar pada 2024.
Kini, disertasinya di bidang Ilmu Politik menyoroti fenomena calon tunggal dalam Pilkada Maros 2024, sebuah isu yang selama ini kerap menjadi sorotan publik.
Dalam disertasinya berjudul “Partai Politik dalam Perspektif Demokrasi: Studi Fenomena Calon Tunggal pada Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Maros Tahun 2024”, Chaidir mengkaji secara akademis bagaimana Pilkada tunggal memengaruhi partisipasi pemilih dan kualitas demokrasi lokal.
Fenomena ini, menurutnya, penting untuk menjadi refleksi dalam memperkuat demokrasi substansial di tingkat kabupaten.
Refleksi Politik
Pengalaman politik Chaidir pada Pilkada 2024 menjadi bagian utama disertasinya.
Awalnya, ia maju bersama Suhartina Bohari, Wakil Bupati Maros dan Ketua Golkar Maros, didukung koalisi sembilan partai.
Namun, rencana itu berubah ketika Suhartina tidak lolos tes kesehatan, memaksa Chaidir mencari pasangan baru hanya dalam waktu tiga hari.
Akhirnya, Muetazim Mansyur dipilih sebagai pasangan, dan mereka menghadapi fenomena kolom kosong yang “tidak benar-benar kosong” di Pilkada.
Menurutnya, spanduk kolom kosong bahkan terlihat lebih besar dibanding calon tunggal mereka.
Hasilnya, pasangan Chaidir-Muetazim memenangkan Pilkada dengan 64,01 persen suara, sementara kolom kosong memperoleh 35,99 persen.
Meski menang, partisipasi pemilih hanya 69,62 persen, sebuah catatan penting yang menjadi bahan analisis akademik.
Catatan Penguji
Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, hadir sebagai penguji eksternal.
Ia mengaku harus meminta izin khusus kepada Menteri Dalam Negeri untuk hadir di tengah padatnya agenda.
“Pak Bupati memilih meneliti selama tiga tahun untuk menjawab secara akademis dan argumentatif fenomena calon tunggal,” ujarnya.
Meski memberi apresiasi, Bima juga memberi catatan kritis, terutama terkait penurunan partisipasi warga yang disebutkan dalam disertasi.
Menurutnya, demokrasi menjadi cenderung prosedural, sementara substansi partisipasi warga turun.
Di tengah suasana akademik, Chaidir menampakkan sisi manusiawi.
Ia mengenang almarhum ayahnya, Andi Syamsuddin, yang banyak membentuk karakter dan semangat pendidikannya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada ibundanya, Hj Andi Nadjemiah, dan sang istri, Ulfiah Nur Yusuf, yang terus memberi dukungan hingga studi doktoralnya rampung.
“Semoga Allah menempatkan beliau bersama orang-orang beriman,” ucapnya mengenang ayahnya.
“Istri saya yang terus mendorong. Saya hampir menyerah, tetapi beliau terus memberi semangat,” katanya.
Chaidir pun berencana membukukan pengalaman akademik dan politiknya sebagai referensi bagi generasi muda yang ingin berkecimpung di dunia politik.
“Insya Allah kita buat buku untuk jadi pengalaman, jadi cerita-cerita baik untuk pelajaran teman-teman yang bergelut di politik,” katanya.
Di mata banyak pihak, Chaidir bukan hanya seorang kepala daerah, tetapi juga simbol perpaduan antara politik praktis dan kecerdasan akademik, yang mampu menoreh sejarah sekaligus membuka wawasan baru bagi demokrasi lokal di Indonesia.(nur)
Data Pribadi Chaidir Syam
Nama: Andi Syafril Chaiidir Syam
Lahir: 2 Februari 1977
Orangtua: Andi Syamsuddin dan Andi Nadjemiah
- S1: Program Studi Ilmu Pemerintahan, FISIP, Unhas (1995-2001)
- S2: Program Studi Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum, UMI (2015-2018)
- S3: Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, UMI (2021-2024)
- S3: Ilmu Politik, FISIP, Unhas (2023-2026)
Bupati Maros
Chaidir Syam
Universitas Hasanuddin
Sulawesi Selatan
Universitas Muslim Indonesia
Meaningful
| Stadion Estadio Azteca Venue Pembuka Piala Dunia, Saksi Kejayaan Pele dan Gol Tangan Tuhan Maradona |
|
|---|
| Tabrak Truk Parkir di Soreang, Mahasiswa Google Student Ambassador Unhas Meninggal di RS Wahidin |
|
|---|
| MK Stadion Untia Makassar Pakai Konsultan Proyek Stadion GBK Jakarta |
|
|---|
| Jumat Bersih Karuwisi Utara, Warga dan RT/RW Gotong Royong di Jalan Barawaja |
|
|---|
| Kemarin IAS Eks Wali Kota Makassar Undang Ketua DPD II Golkar Sulsel, Hari ini Minta Maaf |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/PROMOSI-DOKTOR-Bupati-Maros-Chaidir-Syam.jpg)