Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun RT RW

Sosok Nuraini Dg Sunggu, Ketua RT yang 'Berteriak' Demi Warganya

Sebagian besar warga di wilayah yang dipimpinnya tak memiliki kartu tanda penduduk (KTP).

Tayang:
Penulis: Makmur | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN TIMUR
SOSOK RT - Ketua RT 5 RW 3, Kelurahan Pandang, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Nuraini Dg Sunggu menjadi tempat terakhir warga mengadu. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Di lorong sempit Kampung Pemulung, Jalan Mirah Seruni, RT 5 RW 3, Kelurahan Pandang, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Nuraini Dg Sunggu menjadi tempat terakhir warga mengadu.

Di balik statusnya sebagai ibu rumah tangga, perempuan 48 tahun itu memikul beban persoalan kependudukan, kemiskinan, hingga keselamatan warganya persoalan yang tak kunjung menemukan ujung.

Sebagian besar warga di wilayah yang dipimpinnya tak memiliki kartu tanda penduduk (KTP).

Tanpa identitas resmi, akses terhadap bantuan sosial, layanan kesehatan, bahkan pengurusan kematian, nyaris ia dapatkan. 

Nuraini sering kali menjadi perantara tunggal antara warga dan birokrasi.

“Mereka datang mengadu sama saya karena mau mengadu ke mana lagi,” kata Nuraini lirih.

Warga Kampung Pemulung mayoritas adalah pendatang yang menggantungkan hidup dari pekerjaan serabutan.

Bagi mereka, mengurus administrasi kependudukan kerap kalah penting dibanding mencari makan untuk hari itu.

Nuraini memahami dilema tersebut.

“Mereka bilang ke saya, ini masalah perut. Kalau ambil waktu pulang urus surat, lebih baik cari uang,” ujarnya.

Masalah tak berhenti pada identitas.

Fasilitas dasar di kampung itu jauh dari kata layak. 

WC umum terbatas, sementara penerangan jalan minim.

Pada malam hari, kondisi ini berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga.

“Kalau mau buang air tengah malam, mereka turun ke kanal. Pernah ada yang jatuh, tidak lama meninggal,” tutur Nuraini

Tekanan ekonomi warga kian berat sejak penertiban parkir di Lorong MP.

Sebelumnya, sebagian besar warga menggantungkan hidup sebagai juru parkir. Penutupan parkir itu memutus sumber penghasilan tanpa disertai alternatif pekerjaan.

“Parkir ditutup, tidak ada solusi. Mereka mau makan bagaimana,” katanya.

Sebagai Ketua RT, Nuraini mengaku sudah berulang kali menyuarakan kondisi warganya kepada berbagai pihak.

Ia mengaku bahkan harus 'berteriak' demi menarik perhatian.

Namun, upayanya kerap disalahartikan.

“Saya sudah teriak. Tapi dibilang cuma mau tenar,” ucapnya.

Nuraini, yang lahir di Takalar pada 3 November 1976 dan berpendidikan terakhir SMA, kini memimpin sekitar 40 kepala keluarga terdaftar di RT 5 RW 3.

Ia bukan pejabat, bukan pula aktivis, hanya seorang ibu rumah tangga yang dipercaya menjadi RT jabatan lingkungan yang membuatnya berada di garis depan persoalan sosial.

Di Kampung Pemulung, harapan warga sederhana, identitas yang diakui negara, fasilitas dasar yang aman, dan pekerjaan yang memberi kepastian.

Hingga kini, Nuraini masih berdiri di tengah lorong kampung, menjadi suara mereka yang tak terdengar.

 
PROFIL 

Nama: Nuraini Dg Sunggu
Tempat, Tanggal Lahir: Takalar, 3 November 1976
Usia: 48 tahun
Pendidikan Terakhir: SMA
Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga
Jabatan Lingkungan: Ketua RT

 DATA WILAYAH
RT / RW: RT 5 / RW 3
Kelurahan: Pandang
Kecamatan: Panakkukang
Kota: Makassar

 DATA DEMOGRAFI
Jumlah RT di RW 3: 5 RT
Jumlah KK di RT 5: ± 40 KK (terdaftar sebagai pemilih)
 
KONDISI UMUM WARGA
Mayoritas warga pendatang
Sebagian besar tidak memiliki KTP
Akses bantuan sosial dan layanan kesehatan terbatas
Fasilitas dasar minim (WC umum, penerangan jalan)
Sumber penghasilan utama: pekerjaan serabutan, eks juru parkir

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved