Saat Rumah Tak Lagi Aman bagi Anak Makassar
DPPA Makassar tangani 1.222 kasus kekerasan perempuan dan anak sepanjang 2025.
Kecamatan Panakkukang, Rappocini, Tallo, dan Manggala juga menunjukkan angka yang cukup tinggi, dengan Manggala mengalami lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Ita, selain di rumah, kekerasan juga ditemukan di sekolah, tempat kos, fasilitas umum, hingga ruang digital.
DPPA Makassar memandang meningkatnya jumlah laporan bukan semata-mata menunjukkan bertambahnya kekerasan, tetapi juga mencerminkan meningkatnya keberanian masyarakat untuk melapor.
Pencatatan kasus tahun ini dilakukan lebih komprehensif dengan melibatkan tiga sumber layanan, yakni UPTD-PPA, Puspaga Kota Makassar, serta jaringan Shelter Warga yang telah terbentuk di 100 kelurahan.
Pemerintah Kota Makassar menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sistem perlindungan perempuan dan anak.
Penguatan regulasi, perluasan shelter warga, serta kampanye pencegahan kekerasan diharapkan dapat mengembalikan fungsi rumah sebagai ruang aman bagi anak-anak di masa mendatang.(*)
| Perpisahan Siswa Jangan Bebani Orangtua, Wali Kota Makassar: Awasi Ketat Sekolah Nekat Pungut Iuran! |
|
|---|
| Pemkot Makassar Siapkan Insentif Warga Aktif Berolahraga, Begini Ketentuannya |
|
|---|
| Sampai Jumpa di Luwu Timur 2028, Maros Juara Umum MTQ Sulsel |
|
|---|
| Siswa Yatim Piatu Diduga Korban Bullying Gurunya hingga Dikeluarkan dari Sekolah |
|
|---|
| Giring Ganesha ke Makassar Siapkan Event Konferensi Musik Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251121-kekerasan-anak.jpg)