Haul AGH Abdurrahman Ambo Dalle
Teladani AGH Ambo Dalle, Prof Muammar Bakry: Transformasi Dakwah Lewat Medsos
Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar hadir dengan mengenakan setelan sarung putih dan baju hitam sambil membawa tasbih.
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Ansar
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Haul ke-29 AGH Abdurrahman Ambo Dalle di Ponpes Al Mubarak Darul Dakwah Wal Irsyad (DDI) Tobarakka Siwa, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu (30/11/2025)
Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar hadir dengan mengenakan setelan sarung putih dan baju hitam sambil membawa tasbih.
Prof Nasaruddin Umar duduk di kursi kehormatan berdampingan Ketua Majelis Istisyary PB DDI, AG Prof Dr Sayyed Agil Ali Al-Mahdali Al Husein.
Lalu ada Ketua Umum PB DDI AG Prof Dr KH Andi Syamsul Bahri A.Galigo, Sekjend PB DDI AG Prof Dr Muhammad Suaib Tahir.
Ada Putra Kandung AGH Abdurrahman Ambo Dalle, AG Dr Rasyid Ridha Ambo Dalle, Alfaditu Syekh Murtada Masud Achmed, MIN Al Azhar Qairo Mesir, Mudarris Liddaridakwah Wal Irsyad.
Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) Prof Muammar Bakry mengajak masyarakat meneladani ajaran AGH Abdurrahman Ambo Dalle di Haul ke-29.
Prof Muammar Bakry menyebut AGH Ambo Dalle sebagai sosok yang gemar berdakwah.
AGH Ambo Dalle aktif keliling menyiarkan Islam kepada masyarakat.
Masyarakat pun terus diajak mampu menyebarkan syiar Islam mengikuti perkembangan zaman.
"Dakwah tentu itu harus ditransformasi dalam bentuk kekinian, nilai-nilainya paling utama, bagaimana itu ditransformasi melalui media sosial," kata Prof Muammar Bakry kepada Reporter Tribun-Timur.com, Faqih.
Dalam Haul ke-29 ini, Hadir pula Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulsel AG Dr Ali Yafid, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif yang duduk berdampingan Wakil Bupati Wajo dr Baso Rahmanuddin Serta Ketua PD Kabupaten Wajo, AG Dr Muhammad Yunus.
Selain itu, pimpinan Ponpes DDI Mangkoso sekaligus Majelis Syuyukh, AG Prof Dr KH Muhammad Faried Wadjedy dan pimpinan Ponpes Al Mubarak DDI Tobarakka, AG Andi Muhammad Yusuf Andi Galigo.
AGH Prof Muhammad Faried Wadjedy menyampaikan hikmah napak tilas perjuangan dakwah AG KH Abdurrahman Ambo Dalle dihadapan ribuan orang.
Ia mengungkap selama masa dakwahnya, AG KH Abdurrahman Ambo Dalle tak sekalipun pernah merasa lelah.
"Ini adalah catatan bagi kita semua, murid-murid beliau. Apakah kita siap melakukan dakwah dimana saja itulah yang harus kita persiapkan mulai hari ini," ucap AG Faried.
Ambo Dalle dilahirkan di Desa Ujunge, Kecamatan Tanasitolo, sebuah kampung di pinggiran Danau Tempe yang terletak sekitar tujuh km dari Kota Sengkang, Ibu Kota Kabupaten Wajo.
Tak tercatat tangga kelahirannya. Dalam berbagai literatur dan data, Sang Maha Guru ditulis lahir pada hari Selasa siang tahun 1900. Ayahnya bernama Puang Ngati Daeng Patobo dan ibunya Puang Candara Dewi (Puang Cendaha).
Saat mengandung, konon Puang Cendaha bermimpi melihat cahaya yang keluar dari perutnya.
Bayi itu diberi nama Ambo Dalle. Dalam Bahasa Bugis, Ambo berarti bapak dan Dalle berarti rezeki. Jadi, Ambo Dalle berarti sumbernya rezeki.
Ambo Dalle mula-mula belajar mengaji pada tantenya, I Midi. Tapi hanya berlangsung 15 hari. Puang Cendaha khawatir Ambo Dalle terpengaruh dengan perilaku anak sebayanya yang lebih banyak bermain saat pergi mengaki di rumah I Midi, maka sang ibu memutuskan mengajari langsung anaknya di rumah sendiri sehingga lebih mudah mengawasinya.
Setamat mengaji, Ambo Dalle dimasukkan mengaji tajwid (massara’ baca) pada pengajian yang diasuh oleh Puang Caco, kakeknya, yang kebetulan Imam UjungE. Selain belajar, ia juga membantu kakeknya mengajari anak-anak lainnya.
Selanjutnya, Ambo Dalle melanjutkan pelajaran tajwidnya (baca pituE), menghafal Al Quran, serta belajar Nahwu dan Sharaf pada H Muhammad Ishaq, ulama setempat yang dikenal ahli dalam bidang ilmu tersebut, selama tiga bulan.
Dalam usia tujuh tahun, Ambo Dalle sudah mampu menghafal Al Quran dengan baik. Sejak itulah ia populer di kalangan masyarakat Tancung dan sekitarnya (Wajo) dan banyaklah anak-anak yang berdatangan untuk belajar mengaji kepadanya.
Karena di Tanasitolo belum ada lembaga pendidikan formal, Ambo Dalle ke Sengkang yang berjarak 7 km dari kediamannya, untuk menuntut ilmu lebih lanjut. Di kota ini ia memasuki sekolah Volk-School (sekolah desa tiga tahun) dan kursus Bahasa Belanda di Hollands Inlands School (HIS).
Yang dapat diterima di sekolah ini hanya kaum bangsawan pribumi.
Ambo Dalle muda nyaris tak punya waktu untuk bersantai. Hampir seluruh waktunya digunakan untuk belajar. Kalaupun ada waktu luang yang tersisa, itu digunakan untuk berolah raga. Olah raga yang digemarinya adalah sepak bola. Ambo Dalle dikenal sebagai pemain yang andal.
“Oleh teman-temannya, ia dijuluki si rusa karena memiliki nafas kuat dan lari yang kencang. Dalam kesebelasan, ia bisa menempati posisi mana saja. Baik posisi penyerang, gelandang, maupun pertahanan belakang. Selain itu, ia pun bisa memainkan sepak raga dengan gaya yang menawan,” jelas sejarawan DDI, Ahmad Rasyid Amberi Said.
Waktu itu, banyak ulama yang berasal dari Wajo yang belajar di Mekah pulang kampung membuka pengajian. Pelajaran yang diberikan meliputi Tafsir, Fiqhi, Nahwu dan Sharaf.
Pemerintah Kerajaan Wajo, Arung Matoa dan Arung Enneng, sangat senang pada ulama. K
arena itu, kerajaan sering kedatangan tamu dari Saudi Arabiyah, dan tinggal bersama selama beberapa waktu untuk memberikan pengajaran atau pengajian.
Antara lain Syekh Mahmud Al-Jawad, Sayyid Abdullah Dahlan, dan Sayyid Hasan Al-Yamani (kakek Dr. Zaki Yamani, mantan Menteri Perminyakan Arab Saudi).
Ambo Dalle tidak melewatkan kesempatan baik itu.
Dia menimba ilmu dari ulama-ulama tersebut dengan mengikuti pengajian mereka dengan cara halakah (duduk bersila).
Rupanya, ia tidak merasa puas dengan mempelajari bidang agama saja.
Maka, Ambo Dalle meninggalkan Wajo menuju Makassar dan belajar pada sekolah guru yang dilaksanakan Syarikat Islam (SI). Setelah tamat, ia kembali ke Sengkang memperdalam ilmu agamanya.
Tahun 1928, KH Muhammad As’ad Bin Abd. Rasyid Al-Bugisy, ulama Bugis yang berasal dari Wajo dan lahir di Mekah pada tahun 1907, kembali ke tanah leluhurnya dalam usia 21 tahun.
Kiai As’ad hafal Al Quran pada usia 14 tahun. Dia membuka pengajian di Sengkang yang dilaksanakan di masjid dan di rumahnya sendiri.
Dalam memberikan pengajian, Kiai As’ad menggunakan bahasa Bugis dengan fasih sebagai bahasa pengantar, meskipun ia sendiri lahir dan dibesarkan di Mekah.
Hal itu karena bahasa Bugis sebagai bahasa ibu tetap dipelihara dan digunakan dalam lingkungan rumahnya.
Suatu ketika, Kiai As’ad (Anregurutta Sade’) mengunjungi tempat Ambo Dalle memberikan pengajian Alquran.
Santrinya cukup banyak. Saat itu, selain mengajar mengaji, Ambo Dalle juga telah diangkat sebagai jurutulis pembantu pada kerajaan bawahan (Sullewatang) Tancung.
“Itu karena ia mempunyai kelebihan diantara kelebihan lainnya, yakni kemahiran dan kecepatan tangan kirinya menulis indah sama dengan tangan kanannya,” ujar Ahmad Rasyid.
Melihat Ambo Dalle, Anregurutta As’ad mempunyai firasat bahwa orang ini bakal menjadi ulama besar. Ia lantas mengajaknya bergabung dalam pengajiannya, hal mana ternyata dipenuhi oleh Ambo Dalle.
Sejak itu, ia mengikuti pengajian Anregurutta As’ad dengan tekun.
Rupanya, sang kiai sering mengamati secara diam-diam santrinya yang satu ini. Dalam penglihatanya, Ambo Dalle adalah adalah murid yang cerdas.
“Suatu ketika, diadakan ujian secara lisan dengan menanyakan berbagai pelajaran yang pernah dipelajari.
Ternyata, jawaban Ambo Dalle lah yang dinilai paling benar dan tepat. Ia mampu menjawab seluruh pertanyaan dengan baik. Ia pun dipermaklumkan oleh Anregurutta As’ad sebagai asisten karena ilmunya dianggap setaraf dengan sang guru,” jelas Ahmad Rasyid.
Mulanya, Ambo Dalle tidak percaya dengan pengakuan gurutta itu. Tetapi, karena hal itu keluar dari lubuk hati Anregurutta, spontan Ambo Dalle menjabat dan mencium tangan Anregurutta As’ad sebagai tanda penghormatan murid pada gurunya.
Bersamaan dengan itu, Arung Matowa Wajo dan Arung Lili (Arung EnnengE) menemui Anregurutta As’ad dan menyarankan agar pengajian dengan sistem halaqah (mengaji tudang) yang sudah berkembang ditingkatkan dengan membuka madrasah atau sekolah, selain tetap mempertahankan sistem lama.
Pemerintah kerajaan bersedia membantu dengan menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan.
Usul diterima dengan baik oleh Anregurutta. Pada tahun 1930 dibukalah madrasah dengan tingkatan awaliyah, ibtidaiyah, i’dadiyah, dan tsanawiyah.
Madrasah yang kemudian bernama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) diberi lambang yang diciptakan sendiri oleh Ambo Dalle atas persetujuan Anregurutta As’ad dan ulama lainnya.
“Bukan hanya itu, ia pun ditunjuk sebagai pimpinan perguruan yang baru didirikan itu. Sementara Anregurutta As’ad tidak melepaskan diri begitu saja. Beliau pun turut pula mengajar sambil meneruskan pengajian sistem halaqah seperti semula,” kata Ahmad Rasyid.
Saat itu, Ambo Dalle memasuki babak baru dalam kehidupannya sebagai manusia. Tahun 1930 ia memasuki kehidupan rumah tangga dengan mengawini Andi Tenri.
Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz
| Gurutta Faried Wadjedy: AGH Ambo Dalle Tak Pernah Terima Amplop saat Berdakwah |
|
|---|
| Ponpes Al Mubarak DDI Tobarakka Siwa Dapat Rp600 Juta dari Kementerian Agama |
|
|---|
| Syaharuddin Alrif Hadiri Haul AGH Abdurrahman Ambo Dalle di Wajo sebagai Alumnus DDI |
|
|---|
| Syaharuddin Alrif Hadiri Haul AGH Ambo Dalle di Siwa Wajo, dr Baso Dampingi |
|
|---|
| Prof Nasaruddin Umar Akui AGH Abdurrahman Ambo Dalle Ulama Disegani di Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/HAUL-AGH-Potret-tokoh-dan-ulama-hadiri-Haul-ke-29-AGH.jpg)