Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Festival Media

Festival Media 2025 Ulas Pergeseran Tradisi Adat ke Modernisasi dan Krisis Lingkungan

Tetapi juga menghadirkan diskusi serius mengenai perubahan tradisi masyarakat adat di tengah arus modernisasi.

Tayang:
Editor: Sudirman
Ist
DISKUSI - Diskusi di Festival Media (Fesmed) 2025 di Gedung E Benteng Ujung Pandang, Makassar, Sabtu (13/9/2025). Bertajuk "Ritual dan Rasa: Reaksi Masyarakat Adat dengan Pangan dan Energi” yang menyoroti dampak modernisasi terhadap kehidupan masyarakat adat.  

TRIBUN-TIMUR.COM - Festival Media 2025 tidak hanya meriah dengan gelaran seni dan literasi.

Tetapi juga menghadirkan diskusi serius mengenai perubahan tradisi masyarakat adat di tengah arus modernisasi.

Diskusi bertema “Ritual dan Rasa: Reaksi Masyarakat Adat dengan Pangan dan Energi”.

Membahas bagaimana arus modernisasi memengaruhi praktik budaya masyarakat adat sekaligus kaitannya dengan kelestarian lingkungan.

Dua pemateri yaitu jurnalis dan peneliti Eko Rusdianto dan Grantee Pulitzer Center, yang banyak meneliti perubahan tradisi di Toraja.

Baca juga: Foto: Festival Media 2025 di Gedung E Benteng Ujung Pandang

Ia mengurai bagaimana simbolisme, pangan, hingga ritual adat perlahan bergeser akibat interaksi dengan dunia modern.

Eko mencontohkan makna ukiran ayam pada Tongkonan rumah adat Toraja.

Menurutnya, posisi ukiran ayam memiliki filosofi spiritual, seperti ayam yang menghadap barat melambangkan hubungan dengan Tuhan.

Sementara ayam koro yang menghadap timur menjadi simbol kehidupan.

“Pertanyaannya, bagaimana modernisasi memandang makna itu?” ujarnya.

Ia juga menyinggung tradisi Bulu Londong atau adu ayam.

Dahulu, ritual ini tidak sekadar hiburan dalam upacara kematian, tetapi juga menjadi sarana damai menyelesaikan sengketa tanah.

Pemenang aduan menentukan pihak yang berhak, dan ayam yang kalah dimakan bersama sebagai wujud persaudaraan.

Namun, belakangan, tradisi tersebut mengalami pergeseran.

Masuknya ayam impor dari Filipina dan Peru mengubah pola, sebab masyarakat kini lebih memilih ayam ras yang harganya jauh lebih murah dibanding ayam lokal.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved