Festival Media
Festival Media 2025 Ulas Pergeseran Tradisi Adat ke Modernisasi dan Krisis Lingkungan
Tetapi juga menghadirkan diskusi serius mengenai perubahan tradisi masyarakat adat di tengah arus modernisasi.
TRIBUN-TIMUR.COM - Festival Media 2025 tidak hanya meriah dengan gelaran seni dan literasi.
Tetapi juga menghadirkan diskusi serius mengenai perubahan tradisi masyarakat adat di tengah arus modernisasi.
Diskusi bertema “Ritual dan Rasa: Reaksi Masyarakat Adat dengan Pangan dan Energi”.
Membahas bagaimana arus modernisasi memengaruhi praktik budaya masyarakat adat sekaligus kaitannya dengan kelestarian lingkungan.
Dua pemateri yaitu jurnalis dan peneliti Eko Rusdianto dan Grantee Pulitzer Center, yang banyak meneliti perubahan tradisi di Toraja.
Baca juga: Foto: Festival Media 2025 di Gedung E Benteng Ujung Pandang
Ia mengurai bagaimana simbolisme, pangan, hingga ritual adat perlahan bergeser akibat interaksi dengan dunia modern.
Eko mencontohkan makna ukiran ayam pada Tongkonan rumah adat Toraja.
Menurutnya, posisi ukiran ayam memiliki filosofi spiritual, seperti ayam yang menghadap barat melambangkan hubungan dengan Tuhan.
Sementara ayam koro yang menghadap timur menjadi simbol kehidupan.
“Pertanyaannya, bagaimana modernisasi memandang makna itu?” ujarnya.
Ia juga menyinggung tradisi Bulu Londong atau adu ayam.
Dahulu, ritual ini tidak sekadar hiburan dalam upacara kematian, tetapi juga menjadi sarana damai menyelesaikan sengketa tanah.
Pemenang aduan menentukan pihak yang berhak, dan ayam yang kalah dimakan bersama sebagai wujud persaudaraan.
Namun, belakangan, tradisi tersebut mengalami pergeseran.
Masuknya ayam impor dari Filipina dan Peru mengubah pola, sebab masyarakat kini lebih memilih ayam ras yang harganya jauh lebih murah dibanding ayam lokal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250913-Diskusi-di-Festival-Media-Fesmed-2025.jpg)