Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Harga Tiket Pesawat Bua-Makassar Masih Rp1,2 Juta

Namun, dampaknya belum dirasakan di aktivitas penerbangan Bandara Lagaligo, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Tayang:
Tribun-timur.com/Muh. Sauki Maulana
BANDARA LAGALIGO - Bandara Lagaligo Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Setelah harga bahan bakar pesawat (avtur) mengalami lonjakan, harga tiket di Bandara Lagaligo masih normal. (Sumber: muh sauki) 

"Komponen pertama ditanyakan wisatawan adalah harga tiket. Ini sangat fluktuatif dan bisa lebih mahal dari paket tur," ujarnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga tiket tidak hanya berdampak pada jumlah perjalanan wisatawan, tetapi juga berpotensi menaikkan harga paket wisata secara keseluruhan.

Kondisi ini dikhawatirkan dapat menekan sektor pariwisata.

Meski demikian, pemerintah telah menetapkan batas maksimal kenaikan harga tiket pesawat sebesar 13 persen.

Menyikapi situasi ini, Asita Sulsel mengambil langkah antisipatif dengan memperkuat promosi destinasi wisata.

"Kami akan lebih gencar mempromosikan objek wisata serta meningkatkan kualitas pengelolaan destinasi agar tetap diminati wisatawan," jelasnya.

Upaya tersebut dilakukan agar pergerakan wisatawan tetap terjaga di tengah potensi kenaikan biaya perjalanan.

Ia juga menekankan pentingnya perencanaan perjalanan yang dilakukan jauh hari oleh wisatawan, termasuk mempertimbangkan kondisi ekonomi global.

Ongkos Haji Turun Rp2 Juta di Tengah Tekanan Avtur

Di tengah kenaikan harga avtur global hingga 72 persen, pemerintah justru menurunkan ongkos haji 2026 sebesar Rp2 juta.

Kebijakan ini dinilai sebagai langkah populis yang menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat di tengah tekanan biaya global.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Erwin Aksa (52) menilai keputusan ini tidak hanya bernuansa sosial, tetapi juga mencerminkan upaya efisiensi dan reformasi tata kelola.

"Kami melihat ini sebagai sinyal kuat bahwa biaya masih bisa ditekan melalui pengelolaan dan koordinasi yang baik," ujarnya.

Anggota DPR RI tersebut menilai langkah Presiden Prabowo Subianto (74) lebih didorong pertimbangan sosial dibanding tekanan ekonomi global.

Menurutnya, pemerintah sebenarnya memiliki ruang untuk menaikkan biaya, namun memilih menjaga beban masyarakat tetap ringan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved