Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dokter di Makassar Korban Love Scam

Perempuan Dokter di Makassar Terjerat Love Scam: Modus Perhatian, Proteksi, dan Ilusi Masa Depan

Untuk meyakinkan DR, AB kerap memamerkan mutasi rekening di ponselnya, termasuk ke orang terdekat DR. 

Tayang:
Penulis: Siti Aminah | Editor: Edi Sumardi
Tribun-timur.com/FREEPIK
KORBAN LOVE SCAM - Ilustrasi dokter korban love scam. DR, seorang dokter kecantikan di Makassar, Sulawesi Selatan, sementara AB bertopeng sebagai pengusaha tambang asal Kendari, Sulawesi Tenggara. 

Sepekan di Makassar, DR melayani mereka dengan tulus, membawa jalan-jalan di berbagai tempat hingga membiayai makan minumnya, AB tak pernah mengeluarkan uang untuk kebutuhan dan keperluan keluarganya, semua ditanggung DR.

Ketulusan DR tak terhingga, ia bahkan jadi orang terdepan yang mengurus ayah AB saat dirawat di rumah sakit Siloam, Makassar

Klinik miliknya sudah tak lagi diperhatikan karena sibuk mengurus keluarga sang kekasih.

DR pernah kehilangan ayah, kehilangan yang datang tanpa kesempatan merawat. 

Maka merawat ayah AB terasa seperti menebus sesuatu yang tak sempat ia lakukan. 

Ia merasa sedang melakukan hal yang benar untuk orang yang dicintai.

Kesempatan ini juga dimanfaatkan AB untuk mengikat DR, AB merencanakan lamaran saat keluarga besarnya berkumpul di rumah DR.

Di momen inilah, keluarga AB mengultimatum, mereka memberi peringatan tegas untuk tidak mempernainkan DR seperti perempuan lainnya yang sudah terperangkap tipu daya AB. 

Sinyal bahwa tabiat buruk kerap menipu dan mempermainkan perempuan sudah disampaikan oleh keluarga AB, namun lagi-lagi AB begitu berpengalaman, ia selalu punya jawaban yang menenangkan, narasi yang dibungkus penyesalan, dan janji yang terdengar dewasa. 

Di hadapan keluarganya dan DR, ia mengaku sudah berubah.

“Keluarganya bilang ke AB kalau kau sakiti DR atau tipui, kami semua lawanmu. Karena mereka semua lihat bagaimana saya rawat bapaknya di Siloam, saya bawa keluarganya keliling Makassar,” beber DR.

Rencana lamaran saat itu batal, keluarga DR belum merestui. 

Ada firasat buruk keluarga DR terhadap AB, apalagi melihat pengorbanan DR sejauh ini terlihat tak terbalas, timpang, dan tak tampak. 

Namun DR tetap kokoh pada pilihannya, hasutan AB sangat kuat sehingga suara keluarga sendiri terdengar jauh. 

DR selalu berkorban untuk AB dan keluarganya, ia ikut ke Kendari merawat calon mertuanya yang sakit hingga kembali ke pangkuan Tuhan. 

Mulai dari ganti pasang cairan infus, rumah sakit hingga ambulance semua diselesaikan DR.

Namun di saat DR larut dalam pengabdian dan kepercayaan, ruang lengah itu justru dimanfaatkan AB. 

Dengan leluasa ia mulai menembus batas-batas privat, akses ke telepon genggam terbuka, hingga PIN mobile banking yang semestinya menjadi rahasia paling rapat. 

Sudah banyak transaksi tak terhitung yang dilakukan AB, ia diam-diam mengirim uang ke rekening ibunya, saudara, hingga teman AB yang tak dikenal DR.

”Setelah dia transfer baru sampaikan ke saya,” ujarnya.

AB kembali mengibuli DR, ia akan membayar seluruh hutangnya pasca ruko milik keluarganya laku terjual, katanya Ruko tersebut seharga Rp1,2 miliar. 

Hasilnya akan dibagi, 50 persen untuk kakak AB dan 50 persen untuk DR.

DR, yang kelelahan secara fisik dan emosional, memilih percaya. 

Kepercayaannya bukan tanpa alasan, ia telah memberi terlalu banyak untuk mulai curiga. 

Dalam relasi yang ia anggap sebagai persiapan menuju pernikahan, DR tak menyadari bahwa kejujuran telah lama bergeser menjadi alat manipulasi, dan cinta perlahan diperas hingga tersisa kepatuhan yang sunyi.

Ibu DR melunak, restu terpaksa diberikan melihat kesungguhan DR kepada keluarga AB yang sangat tinggi. 

Ibunya mengizinkan DR memulai bahtera rumah tangga bersama AB, lelaki yang pandai memanipulasi perasaan. 

Pertunangan kemudian dijadwalkan pada 4 November 2025 di Kabupaten bone, bersamaan dengan peresmian klinik baru dokter DR.

AB menjanjikan mahar yang fantastis, cek senilai Rp300 juta, perusahaan tambang, hingga kebun sawit. Mahar itu seakan menunjukkan kemapanannya sebagai pria yang layak dan pantas membahagiakan perempuan dengan kekuatan finansial yang dimiliki.

Sepanjang hubungannya, DR merasa kekasihnya (AB) memberikan proteksi yang sangat meyakinkan, perhatian yang hadir nyaris setiap waktu dan membuatnya percaya bahwa ia sedang dijaga.

Beberapa hari setelah bertunangan, keduanya berangkat ke Jepang. 

AB lagi-lagi membohongi DR untuk kesekian kalinya. 

AB bilang, ia akan mendapat santunan kematian ayahnya sebagai pensiunan polisi sebesar Rp87 juta. 

Uang itu kata AB cukup untuk keberangkatannya ke negari sakura, DR diminta menalangi biayanya sambil menunggu santunan tersebut.

“Pakai uangku lagi bikinkan paspor dan beli tiket, total Rp50 juta. Mahal karena pengurusannya H-5 sebelum berangkat, dia mau ikut juga,” beber DR lagi.

Selama di Jepang, timnya diam-diam menelusuri rekam jejak AB. 

Rupanya AB seorang duda, ia pernah menikah dengan perempuan. 

Hubungannya hanya sesaat, kandas karena tabiatnya terungkap. 

Bahkan AB juga mengiming-imingi mantan istrinya dengan mahar fantastis, cek senilai Rp300 juta dan embel-embel lainnya. 

Namun mahar tersebut fiktif, tak berwujud.

DR bukan satu-satunya korban AB, ada banyak deretan perempuan yang sudah ia target, masing-masing dengan kisah yang nyaris serupa. 

AB memang piawai memainkan perannya sebagai lelaki yang mapan, punya visi, dan sosok pelindung. 

Ia membuat korban selalu percaya dengan tipu daya dan narasi manipulatifnya. 

Ini adalah love scam, modus penipuan yang memanfaatkan hubungan romantis atau emosi cinta untuk mengelabui korban, biasanya demi keuntungan finansial, status, atau kepentingan pribadi lainnya.

DR dijegat tim dan keluarganya saat hendak ikut ke Kabupaten Bone bersama kekasih usai pulang dari Jepang. 

Mereka membujuk DR untuk menemui anaknya lebih dulu. 

DR seorang single parent beranak satu. 

Di situlah mereka mengungkap kelakukan bejat AB. 

Namun DR justru berbalik marah, ia menganggap timnya lancang, merasa privasinya dilanggar, dan menganggap penelusuran itu sebagai bentuk pengkhianatan.

“Waktu itu saya masih di pihaknya AB, karena saya anggap semua orang punya masa lalu, saya pun begitu, yang penting dia sudah komitmen untuk berubah. Jadi saya marah sama timku,” ujarnya.

AB kemudian membujuk DR untuk tinggal di Kendari bersamanya, sebelum ke sana, DR transit ke Bone untuk mengecek perkembangan kliniknya yang baru ia buka. 

Ada banyak kesibukan yang diselesaikan DR saat itu, hingga akhirnya ucapan tim dan keluarganya merengsek ke ruang-ruang pikirannya. 

DR sudah merasa janggal dengan pola yang selama ini dimainkan oleh AB, seluruh janjinya tak pernah ditepati, citra yang diperankan seolah semu, hingga DR memberanikan diri menagih seluruh janji dan hutang yang menggantung tanpa kejelasan. 

Cek yang dijanjikan tak lebih dari simbol kosong, tambang hanya hidup dalam narasi, dan kebun sawit tak pernah bisa ditunjukkan batas maupun lokasinya. 

Keberanian Bersuara, Dibalas Ancaman dan Laporan

Langkah itu menjadi ujian pertama bagi kepercayaan yang selama ini ia pertahankan, sekaligus awal dari retaknya ilusi yang telah lama menutup matanya.

Respon AB tak disangka, ia justru berbalik mengancam DR untuk mengganggu kliniknya. 

Kemarahan DR memuncak, ia kemudian mengunggah di Instagram terkait ceritanya ditipu calon suami. 

Video itu viral, mendapat perhatian publik. 

Keberanian DR mengungkap segalanya didasari tekad besar. 

Ia ingin memutus rantai kebohongan yang selama ini tumbuh subur. 

Semoga tak ada lagi korban lain yang terperangkap.

Dalam relasi ini, cinta, perlindungan dan janji masa depan menjadi alat AB. 

Modus ini membuat DR tak sekadar kehilangan uang, tetapi juga terjerat secara emosional dalam relasi yang dibangun di atas kebohongan.

“Bukan karena saya sakit hati, bukan karena saya tidak jadi menikah, bukan karena uangku terkuras banyak, tapi saya mau penipuannya berhenti di saya, tidak ada lagi korban setelahnya,” harap DR.

Belakangan, AB kembali bereaksi, ia terus mencari celah untuk menjatuhkan DR. 

Sampai suatu ketika AB menjalin komunikasi dengan PD, pengusaha asal Kota Palopo yang pernah melaporkan DR ke Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel terkait dugaan pencemaran nama baik.

Menjelang tutup tahun 2025, DR diterpa masalah bertubi-tubi, ancaman AB semakin nyata. 

Kliniknya dilaporkan tak memiliki izin praktik hingga diduga melakukan malpraktik.

Dugaan persekongkolan tersebut membuat DR memperteguh keberaniannya untuk terus melawan. 

Di titik itu, DR paham, ini bukan lagi sekadar urusan cinta yang berakhir buruk. 

Ada upaya terstruktur untuk melemahkannya, menguras tenaga dan psikisnya lewat jalur hukum dan opini. 

Komunikasi AB dengan PD memperkuat dugaan itu.

“Jadi saya dapat informasi bahwa AB mencari kontak PD, begitu juga dengan PD. Bahkan PD membuat sayembara, siapa yang mendapat nomor Whatsapp AB akan dikasi Rp10 juta,” beber DR.

Sebenarnya, awal mula DR membuka hati untuk AB karena ia percaya, relasi sosial yang selalu diperlihatkan 

AB bisa membuatnya aman dan terlindungi. 

Di berbagai kesempatan, saat keduanya bertemu, AB kerap berkomunikasi telepon dengan sesorang yang ia sebut sebagai penyidik di Polda Sulsel.

Saat itu juga, DR berhadapan dengan hukum atas laporan PD terkait pencemaran nama baik. 

DR dilaporkan karena memposting percakapan para calon jemaah umrah yang diduga sebagai korban penipuan PD. 

DR berdiri untuk membela para korban. 

Namun di mata hukum, langkah tersebut dipersoalkan. 

Posisi DR kembali terbalik, dari pihak yang merasa membantu, ia didudukkan sebagai terlapor bahkan telah ditetapkan tersangka pada 15 Januari 2026 lalu. 

Situasi ini kian menegaskan paradoks yang ia alami, sosok yang ia yakini mampu memberi perlindungan justru berdiri di sisi yang membuatnya semakin rentan. 

Perlahan, DR mulai menyadari bahwa relasi sosial yang selama ini dipamerkan AB bukanlah perisai, melainkan bagian dari ilusi kekuasaan yang menenangkannya di awal, tujuannya untuk menggerogoti finansial DR.

Penasihat Hukum (PH) dokter DR, Ida Hamidah mengatakan sedang menyiapkan dokumen utuk membawa masalah ini ke ranah hukum. 

“Kita sementara siapkan untuk laporannya, termasuk kerugian yang dialami klien kami,” kata Ida Hamidah singkat, Rabu (21/1/2026)

Bahaya Ilusi Cinta di Media Sosial

Penipuan dengan modus asmara yang marak terjadi di media sosial bukan semata persoalan individu, melainkan telah berkembang menjadi masalah sosial yang dipengaruhi oleh struktur budaya, rendahnya literasi digital, dan normalisasi kedekatan semu di ruang digital.

Hal tersebut disampaikan sosiolog Universitas Negeri Makassar (UNM) Andi Octamaya Tenri Awaru. Katanya, penipuan ini kerap menimpa perempuan lintas usia dan latar belakang sosial, termasuk kalangan profesional.

Dalam banyak kasus, relasi bermula dari pendekatan berbasis cinta dan perhatian. Namun setelah korban terikat secara emosional, relasi berubah menjadi alat manipulasi, bahkan pemerasan.

“Awalnya itu asmara. Pelaku membangun kedekatan emosional, memberi perhatian, lalu ketika korban sudah terikat, mulai muncul tekanan, baik materi, ancaman, hingga pemerasan,” papar Andi Octamaya Tenri Awaru, Minggu (25/11/2026)

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNM ini mengulas, media sosial mempercepat pembentukan relasi tanpa fondasi kepercayaan yang nyata. Identitas yang tampil di layar kerap kali merupakan konstruksi semu yang mudah direkayasa.

Ilusi kedekatan sangat cepat terbangun. Seseorang merasa dikenal, padahal yang dihadapi bisa jadi identitas palsu.

Dalam pengamatannya, korban penipuan asmara didominasi perempuan, terutama ibu-ibu berusia 40 tahun ke atas dan remaja perempuan. Kelompok usia tersebut dinilai rentan karena memiliki kebutuhan emosional yang kerap dimanfaatkan pelaku.

“Pelaku biasanya menyasar rasa sepi, kebutuhan akan perhatian, ingin dihargai dan didengarkan. Itu kebutuhan yang sangat manusiawi,” ujarnya.

Untuk perempuan dewasa, tekanan sosial terkait status pernikahan menjadi faktor penting. Dalam konteks budaya Bugis-Makassar, perempuan yang belum menikah di usia tertentu masih dianggap sebagai aib sosial atau siri’.

Sementara pada remaja dan perempuan lajang, pelaku kerap menggunakan kedok profesi yang memiliki simbol kekuasaan dan pDRse sosial, seperti tentara, polisi, atau pelaut. Foto berseragam dan narasi pekerjaan mapan menjadi alat untuk membangun kepercayaan dengan cepat.

Pendidikan Tinggi Tak Menjamin Aman

Kasus seorang dokter kecantikan di Makassar yang menjadi korban penipuan asmara turut menjadi sorotan. Publik sempat mempertanyakan bagaimana seorang profesional dengan pendidikan tinggi bisa terjerat relasi manipulatif.

Menurut perspektif sosiologi, kerentanan terhadap penipuan asmara tidak ditentukan oleh tingkat pendidikan atau kecerdasan intelektual.

Relasi asmara bukanlah relasi rasional, tapi relasi emosional. Saat jatuh cinta, secara biologis dopamin meningkat, sehingga kemampuan berpikir rasional bisa menurun. Dalam kondisi tersebut, korban cenderung hanya melihat sisi baik pelaku, terlebih ketika disertai janji-janji besar dan narasi masa depan yang meyakinkan.

“Media sosial memungkinkan pelaku menyasar kebutuhan emosional terdalam manusia diterima, dihargai, dan didengarkan,” ujarnya.

Melihat contoh banyak kasus yang terjadi, perempuan juga menjadi pihak paling rebtan disalahkan. Terutama ketika perempuan berusaha keluar dari relasi toksik. Ancaman penyebaran rahasia pribadi kerap digunakan pelaku untuk mempertahankan kontrol.

“Karena kepercayaan itu sudah terbangun, korban membuka banyak hal yang seharusnya bersifat privat. Di situlah pelaku punya alat untuk mengancam,” katanya.

Menurutnya, keberanian perempuan untuk bersuara dan melaporkan pengalaman kekerasan atau penipuan harus dipandang sebagai langkah penting memutus rantai kekerasan, bukan justru disalahkan.

Ia menambahkan, ketika seseorang sudah berada dalam relasi berbahaya, dukungan sosial, lingkungan yang percaya pada cerita korban, serta perlindungan hukum menjadi kunci penyelamatan diri.

“Ruang digital seharusnya menjadi ruang aman, bukan ladang subur manipulasi. Itu hanya bisa dicapai jika literasi dan empati sosial kita diperkuat bersama,” pungkasnya. 

Love Scam Jadi Ancaman Serius

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat maraknya penipuan daring bermodus asmara atau love scam sepanjang 2025.

Melalui Indonesia Anti Scam Centre (IASC), OJK menerima 3.494 laporan terkait praktik penipuan tersebut, dengan total kerugian mencapai Rp49,198 miliar.

Love scam menjadi salah satu bentuk penipuan digital yang terus meningkat.

Tingginya jumlah korban menunjukkan bahwa love scam tidak lagi bersifat insidental, melainkan telah menjadi kejahatan terorganisir yang memanfaatkan relasi emosional korban. 

Tren penipuan berkedok asmara juga tercermin dari laporan pengaduan ke Komunitas Relawan Siaga Cerdas-Waspada Scammer Cinta (RSC-WSC).

Dalam satu dekade terakhir, jumlah korban dan nilai kerugian menunjukkan fluktuasi.

Pada 2016, tercatat 19 korban dengan kerugian Rp2,6 miliar. Jumlah tersebut meningkat pada 2017 menjadi 55 korban dengan kerugian Rp1,9 miliar, lalu relatif stagnan pada 2018 dan 2019.

Namun, pada 2020 terjadi lonjakan tajam dengan 199 korban dan kerugian mencapai Rp12,6 miliar.

Dalam lima tahun terakhir, pola kejahatan love scam menunjukkan fluktuasi jumlah korban, namun dengan kecenderungan nilai kerugian yang kian membesar.

Pada 2021, tercatat 107 korban penipuan berkedok asmara dengan total kerugian mencapai Rp4,9 miliar.

Angka tersebut menurun pada 2023, ketika laporan korban susut menjadi 50 orang dengan kerugian sekitar Rp1,83 miliar.

Namun, tren itu kembali berbalik pada 2024. Jumlah korban melonjak menjadi 111 orang, hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, dengan total kerugian mencapai Rp11,3 miliar.

Meski demikian, eskalasi paling mencolok terjadi pada 2025.

Sepanjang 2025, jumlah korban justru menurun menjadi 58 orang, tetapi nilai kerugian melonjak tajam hingga Rp18,8 miliar.

Lonjakan ini mengindikasikan bahwa sindikat love scam kian menargetkan korban dengan kapasitas finansial lebih besar atau menggunakan skema penipuan yang lebih kompleks dan sistematis.

Penipuan daring bermodus asmara atau online love scam tidak lagi bisa dipahami sekadar kejahatan finansial.

Di balik rayuan dan janji cinta, terdapat proses sistematis untuk menundukkan korban secara emosional, psikologis, hingga sosial. Modus ini bahkan kerap menjadikan korban sebagai alat kejahatan lanjutan.

Ketua RSC-WSC Diah Agung Esfandari, menyebut love scam sebagai kejahatan berbasis grooming, proses manipulasi bertahap yang bertujuan mengontrol korban secara total.

“Online love scam adalah bagaimana scammer memanipulasi korban agar tunduk berdasarkan cinta. Bukan hanya diambil uangnya, tapi korban dibuat mau melakukan apa saja. Itu proses grooming,” kata Diah lewat Podcast Awas KBGO bertajuk Love Scam: Modus KBGO dengan Total Kerugian Mencapai Miliaran.

Menurutnya, scammer sejak awal telah memetakan calon korban yang bisa dieksploitasi lebih jauh. Korban tidak hanya dijadikan sumber uang, tetapi juga ATM berjalan, kaki tangan pengambil dana di bank, bahkan objek eksploitasi seksual. Scammer tahu siapa yang bisa dijadikan ‘budak’.

Diah-sapaannya menepis anggapan bahwa korban love scam adalah individu yang lemah secara intelektual atau emosional.

Berdasarkan pendampingan yang dilakukan komunitasnya, justru banyak korban berasal dari kelompok berpendidikan, memiliki pekerjaan mapan, stabil secara emosi, dan bermoral baik.

Kemampuan scammer dalam membaca psikologi korban membuat siapa pun berpotensi terjebak.

Apalagi, kejahatan ini tidak dijalankan oleh individu tunggal, melainkan komplotan terorganisasi yang terus memperbarui strategi.

“Kita bukan cuma berhadapan dengan pelaku, tapi sistem dan sindikat. Mereka selalu improvisasi. Sementara korban di Indonesia terus bertambah,” ujar Diah.

Diah menjelaskan, love scam diawali dari perkenalan melalui akun palsu atau identitas fiktif.

Scammer membuat persona yang menarik agar korban merespon. Jika akun tersebut terbongkar, pelaku bisa dengan mudah menyangkal karena tidak pernah menggunakan identitas asli.

Proses grooming bisa berlangsung cepat.

Dalam waktu satu minggu, korban dibombardir pesan, perhatian intens, dan kalimat manis yang menciptakan ikatan emosional semu.

“Mereka punya guide book. Kalau korban seperti ini, harus pakai pendekatan apa. Kalau mulai curiga, harus bilang apa. Itu semua sudah ada skenarionya,” kata Diah.

Dalam tahap lanjutan, korban mulai diuji, dimintai uang dengan alasan sakit, bisnis, atau darurat.

Lalu meningkat ke permintaan dokumen pribadi seperti KTP. Jika semua telah diberikan dan korban mulai menolak, permintaan berubah menjadi pengorbanan lain, termasuk yang bernuansa seksual.

“Uang, dokumen pribadi, sampai harga diri, semua sudah diberikan. Dalam seminggu saja, minimal mereka bisa dapat Rp500 ribu dari satu korban,” ujarnya.

Ketika korban mulai menyadari penipuan atau menolak permintaan, nada komunikasi berubah.

Rayuan berganti ancaman dan pemerasan.

Tidak sedikit korban akhirnya dipaksa menjadi bagian dari jaringan penipuan.

Meski kerugian emosional dan material sangat besar, banyak korban memilih diam.

Rasa malu dan jijik karena pernah menjalin hubungan virtual membuat mereka enggan melapor.

Karena itu, WSC berupaya mendampingi korban agar berani melapor dan memulihkan kembali martabatnya.

“Kami yakinkan mereka,Anda bukan pelaku, Anda korban. Harga diri, keluarga, hidup mereka hancur. Yang kami lakukan adalah mengembalikan mereka sebagai manusia yang berdaya,” kata Diah.

Menurutnya, selama literasi digital dan perlindungan korban masih rendah, sementara penanganan aparat belum sepenuhnya berpihak pada korban, kejahatan ini akan terus menemukan ruang.

Love scam pada akhirnya bukan hanya soal cinta palsu, tetapi tentang sistem penipuan yang memanfaatkan kepercayaan manusia.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved