Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dokter di Makassar Korban Love Scam

Banyak Orang Berpendidikan, Mapan, Emosi Stabil, Bermoral Baik, tapi Terjebak Cinta Palsu

OJK menerima 3.494 laporan terkait praktik penipuan tersebut, dengan total kerugian mencapai Rp49,198 miliar.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Siti Aminah | Editor: Edi Sumardi
Tribun-timur.com/FREEPIK
LOVE SCAM - Ilustrasi love scam. Dokter di Makassar, Sulsel berinisial DR menjadi korban love scam. Korban dijanjikan akan dinikahi dan diberi mahar fantastis. 

Jumlah korban melonjak menjadi 111 orang, hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, dengan total kerugian mencapai Rp11,3 miliar.

Baca juga: Dokter di Makassar Terpedaya Bos Tambang, Bermula dari IG hingga Uang Ratusan Juta Dikuras

Meski demikian, eskalasi paling mencolok terjadi pada 2025.

Sepanjang 2025, jumlah korban justru menurun menjadi 58 orang, tetapi nilai kerugian melonjak tajam hingga Rp18,8 miliar.

Lonjakan ini mengindikasikan bahwa sindikat love scam kian menargetkan korban dengan kapasitas finansial lebih besar atau menggunakan skema penipuan yang lebih kompleks dan sistematis.

Penipuan daring bermodus asmara atau online love scam tidak lagi bisa dipahami sekadar kejahatan finansial.

Di balik rayuan dan janji cinta, terdapat proses sistematis untuk menundukkan korban secara emosional, psikologis, hingga sosial.

Modus ini bahkan kerap menjadikan korban sebagai alat kejahatan lanjutan.

Ketua RSC-WSC Diah Agung Esfandari, menyebut love scam sebagai kejahatan berbasis grooming, proses manipulasi bertahap yang bertujuan mengontrol korban secara total.

Online love scam adalah bagaimana scammer memanipulasi korban agar tunduk berdasarkan cinta. Bukan hanya diambil uangnya, tapi korban dibuat mau melakukan apa saja. Itu proses grooming,” kata Diah lewat Podcast Awas KBGO bertajuk Love Scam: Modus KBGO dengan Total Kerugian Mencapai Miliaran

Menurutnya, scammer sejak awal telah memetakan calon korban yang bisa dieksploitasi lebih jauh.

Korban tidak hanya dijadikan sumber uang, tetapi juga ATM berjalan, kaki tangan pengambil dana di bank, bahkan objek eksploitasi seksual.

Scammer tahu siapa yang bisa dijadikan ‘budak’.

Diah-sapaannya menepis anggapan bahwa korban love scam adalah individu yang lemah secara intelektual atau emosional.

Berdasarkan pendampingan yang dilakukan komunitasnya, justru banyak korban berasal dari kelompok berpendidikan, memiliki pekerjaan mapan, stabil secara emosi, dan bermoral baik.

Kemampuan scammer dalam membaca psikologi korban membuat siapa pun berpotensi terjebak.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved