OPINI
Nasib Pakkiok Bunting dalam Tradisi Pernikahan Makassar
Syair Pakkiok Bunting merupakan salah satu sastra lisan suku Makassar berupa serangkaian larik-larik puitis yang digunakan dalam prosesi penyambutan p
Oleh: Muhammad Hasyim
Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra UNM, Pendiri Kosakata Makassar, dan Dewan Kesenian Takalar
KARYA sastra yang baik adalah sebuah karya yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Hubungan sastra dengan masyarakat pendukung nilai-nilai kebudayaan tidak dapat dipisahkan.
Itu karena sastra menyajikan kehidupan dan sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial (masyarakat).
Walaupun karya sastra meniru alam dan dunia subjektif manusia.
Di samping itu sastra berfungsi sebagai kontrol sosial yang berisi ungkapan sosial beserta problematika kehidupan masyarakat.
• Wali Murid Keluhkan Sulit Akses Hasil Pengumuman PPDB di Makassar
Masalah kesastraan, khususnya sastra daerah merupakan masalah kebudayaan nasional yang perlu digarap dengan sungguh-sungguh dan berencana.
Sastra daerah itu merupakan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang bangsa Indonesia.
Di era kekinian tak sediki masyarakat Sulawesi Selatan yang mungkin sudah tidak memerhatikan budaya dan adat istiadatnya.
Terutama generasi muda yang lebih dominan mengadopsi budaya negara lain.
Salah satu budaya yang kurang diperhatikan itu adalah adat 'Pakkiok Bunting' dalam budaya Makassar.
Kini sangat jarang ditemukan di tengah-tengah masyarakat kita. Termasuk di Sulawesi Selatan.
Padahal tradisi Makassar ini dilakukan saat penyambutan pengantin yang disertai penuturan syair.
Frasa Pakkiok Bunting (bahasa Makassar) terdiri atas dua kata yakni pakkiok artinya pemanggil atau penyambutan dan bunting berarti pengantin atau mempelai.
Syair Pakkiok Bunting merupakan salah satu sastra lisan suku Makassar berupa serangkaian larik-larik puitis yang digunakan dalam prosesi penyambutan pengantin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/muhammad-hasym_fbs-unm.jpg)