Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tips Kesehatan

Operasi Jantung Bukan Akhir, dr Sugisman: Ini Awal Kualitas Hidup Lebih Baik

Medical check-up tiap 6 bulan bisa cegah serangan jantung. dr Sugisman: Jangan tunggu parah, segera screening.  

|
Tribun Timur/Sukmawati Ibrahim
EDUKASI OPERASI JANTUNG - dr Sugisman, Sp.BTKV(K), saat memberikan edukasi kesehatan jantung dalam program Media Tour RS Premier Bintaro di Hyatt Place Makassar, Sabtu (27/9/2025). Jantung bisa diperbaiki, asal ditangani tepat. dr Sugisman ajak masyarakat rutin cek kesehatan dan tak takut operasi. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Namun, kemajuan teknologi medis membuat operasi jantung kini jauh lebih aman dan efektif.

Hal itu disampaikan dr Sugisman, Sp.BTKV(K), dalam sesi edukasi kesehatan bertajuk “Perkembangan Bedah Jantung Terkini” gelaran RS Premier Bintaro melalui program Media Tour 2025 di Hyatt Place Makassar, Jl Jend Sudirman No 31, Sabtu (27/9/2025), pukul 11.30 Wita hingga 15.00 Wita.

Nama Sugisman merupakan akronim dari “Suku Bugis Mandar”, mencerminkan akar budaya sang dokter yang lahir di Majene, Sulawesi Barat (Sulbar).

Ia merupakan alumni SMAN 1 Makassar dan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dalam sesi talkshow, dr Sugisman dominan menggunakan dialek Makassar dan Majene, memperkuat kedekatan emosional dengan peserta.

“Pasien jantung tak perlu takut operasi. Sekarang banyak metode yang lebih aman, alat kesehatan juga makin canggih,” ujarnya lugas.

Sugisman telah berkarier selama 16 tahun di bidang bedah jantung.

Ia aktif sebagai Konsultan Bedah Jantung Dewasa di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Banten.

Putra Sulbar ini juga dokter spesialis Bedah Jantung Dewasa di RS Jantung dan Harapan Kita, Jakarta.

Ia memaparkan, penyakit jantung koroner menjadi kasus terbanyak di Indonesia.

Ukuran pembuluh darah koroner sangat kecil, hanya sekitar 15 milimeter.

Jika tersumbat, bisa menyebabkan serangan jantung.

“Operasi jantung paling umum adalah median sternotomy, di mana jantung dihentikan sementara agar bisa diperbaiki. Tapi sekarang ada teknik OPCAB, bypass jantung tanpa menghentikan detak,” jelasnya.

Teknik terbaru seperti MICS CABG (minimally invasive), robotic cardiac surgery, serta operasi katup jantung dan aorta juga telah tersedia.

Katup jantung rusak harus diganti dengan implan impor seharga mulai Rp30 juta, sedangkan operasi aorta bisa mencapai Rp100 juta.

“Pasien termuda yang pernah saya tangani berusia 25 tahun. Usia terbanyak 40–50 tahun. Jarang yang 60 ke atas,” katanya.

Sugisman menekankan pentingnya medical check-up rutin setiap enam bulan sebagai langkah mitigasi awal.

Pemeriksaan ini bisa mendeteksi potensi penyakit seperti diabetes, asam urat, dan hipertensi yang memperberat kondisi jantung.

“Kalau ada keluhan, segera screening. Jangan tunggu parah. Penyakit di tubuh kita tidak bisa disamakan dengan orang lain,” ujarnya tegas.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi keluarga agar memahami kondisi pasien jantung dan bisa memberi pertolongan pertama yang tepat.

“Jangan asal dipukul atau dipijat. Tindakan tidak tepat bisa berakibat fatal,” katanya. 

“Tujuan operasi jantung bukan membuat pasien takut, tapi meningkatkan kualitas hidup. Kalau ada sumbatan, harus ditindak. Jangan tunggu sampai terlambat,” tambah dr Sugisman.

Baca juga: Sosok Gitaris Rock Makassar Moexin Meninggal karena Serangan Jantung

Akses Pasien BPJS Tetap Terlayani

dr Sugisman juga menegaskan, pasien dengan jaminan BPJS tetap bisa mendapatkan layanan bedah jantung di rumah sakit pemerintah, termasuk RS Jantung Harapan Kita.

“Semua pasien BPJS bisa dilayani dengan baik. Bahkan pembelian implan dan tindakan medis seperti operasi jantung sudah bisa ditanggung. Yang penting, rujukannya jelas dan diagnosisnya tepat,” ujarnya.

Ia menambahkan, literasi kesehatan masyarakat masih rendah.

Banyak yang memilih berobat ke luar negeri padahal fasilitas dan tenaga medis di Indonesia sudah sangat memadai.

“Kadang kemampuan terbatas, tapi karena kurang informasi, malah ke Malaysia atau Singapura. Padahal di Indonesia sudah bisa, dan BPJS pun bisa menanggung,” tegasnya.

Baca juga: Kena Serangan Jantung, Jemaah Haji Kloter 3 Asal Sinjai Wafat di Mekah

Dulu Operasi Mantan Gubernur Sulsel

dr Sugisman juga mengenang momen penting dalam kariernya saat melakukan operasi jantung terhadap Gubernur Sulsel periode 1983-1993 Prof Ahmad Aminuddin, di tahun 2014.

Ia bersama tim RS bolak-balik ke Makassar untuk menangani operasi tersebut.

“Operasinya lancar dan sempat membaik. Tapi takdir berkata lain, beliau wafat seminggu kemudian karena komplikasi,” kenang dr Sugisman tentang Ketua MPR RI tahun 1992 itu.

Marketing Manager RS Premier Bintaro, Chintami H. Passat, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen RS Premier Bintaro memperluas edukasi kesehatan ke berbagai daerah.

“Makassar adalah salah satu kota dengan jumlah pasien jantung yang cukup tinggi. Kami ingin hadir lebih dekat, memberikan pemahaman bahwa operasi jantung bukan hal yang menakutkan, tapi justru solusi untuk meningkatkan kualitas hidup,” jelas Chintami.

RS Premier Bintaro terus memperkenalkan layanan unggulan seperti Heart Centre yang diresmikan tahun ini.

Meski belum ada rencana ekspansi ke Makassar, rumah sakit ini aktif menjangkau masyarakat di Kota Daeng, julukan Ibu Kota Provinsi Sulsel.

Saat ini RS Premier ada di Bintaro, Jatinegara dan Surabaya.

Dari data BPS Sulawesi Selatan dan Dinas Kesehatan, penyakit jantung di Sulsel di tahun 2023 sekitar 18.000 kasus tercatat di fasilitas kesehatan.

Kota Makassar menjadi penyumbang tertinggi, dengan lebih dari 6.000 kasus penyakit jantung, terutama jantung koroner dan kelainan katup.

Untuk tahun 2025, datanya belum tersedia secara publik. (Sukmawati Ibrahim/Tribun Timur)

 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved