Dari Jalanan ke Promosi Doktor UIN
Pintu kedatangan menyambutnya, Kepala UPT RPTC Dinas Sosial, Masri memperkenalkannya seorang anak jalanan yang akan menjadi salah satu narasumbernya.
Anak yang hanya memiliki satu harapan sederhana: hidup seperti anak lainnya, memiliki masa kecil bahagia, memiliki kehidupan yang lebih baik dan kembali bersekolah.
Pada akhirnya, penelitian ini bukan semata-mata tentang fatwa, regulasi, atau relasi antara agama dan negara.
Penelitian ini adalah tentang manusia-tentang anak-anak yang masih menunggu kesempatan kedua untuk mengubah hidup mereka.
Bermain dan belajar. Dunia memberinya kesempatan untuk menjadi manusia lebih baik.
"Pernahkah kita melihat seorang anak kecil berdiri di lampu merah sambil menengadahkan tangan? Pernahkah kita benar-benar menatap wajahnya? Menatap matanya yang kosong, yang seolah terlalu dini mengenal kesedihan? Atau justru kita segera mengalihkan pandangan karena tidak sanggup menahan tatapan itu?
Pernahkah kita menyelipkan uang receh di kantong ke tangannya, lalu melanjutkan perjalanan ketika lampu berubah hijau? Pernahkah kita bertanya, dari mana anak itu berasal? Di mana ibunya? Di mana ayahnya?
Mengapa pada usia ketika anak-anak lain sedang belajar membaca, bermain sepeda, atau bercita-cita menjadi dokter dan guru, ia justru berdiri di tengah debu dan asap kendaraan, meminta belas kasihan dari orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya?"
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membawa Kafrawy, mahasiswa S3, menyusuri jalan-jalan Kota Makassar selama setahun.
Ia tidak hanya ingin mengetahui bagaimana pemerintah kota dan agama memandang anak jalanan, gelandangan, dan pengemis melalui Perda dan Fatwa.
Ia ingin mendengar cerita yang selama ini tenggelam di balik angka statistik, laporan pemerintah, dan operasi penertiban.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/m-kafrawy-saenong-20122.jpg)