Dari Jalanan ke Promosi Doktor UIN
Pintu kedatangan menyambutnya, Kepala UPT RPTC Dinas Sosial, Masri memperkenalkannya seorang anak jalanan yang akan menjadi salah satu narasumbernya.
Kulitnya menggelap karena terbiasa berada di bawah terik matahari.
Ketika diajak berbincang, anak itu menjawab seperlunya.
"Adek biasa mengemis di mana?" tanya Kafrawy.
"Di lampu merah Mandai, Pak."
"Masih sekolah?" Anak itu menggeleng.
"Sebenarnya mau sekolah, Pak."
Kalimat sederhana itu terus teringat dalam benak Kafrawy selama penelitian tentang anak jalanan, gelandangan, dan pengemis di Kota Makassar.
Kafrawy tidak sanggup melanjutkan pertanyaannya, seperti mengupas luka anak kecil, tentang keluarga, orang tua, ayah dan ibu yang berpisah, meninggalkannya, lalu dititip di rumah nenek, kadang di kost kakak, putus sekolah, turun ke jalan, pertanyaan tentang masa depan, cita-cita.
Ini hanyalah satu cerita dari satu anak yang ditemuinya.
Setiap anak jalanan, gembel dan pengemis punya cerita masing-masing yang sama mirisnya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik berangkat penelitian doktoralnya yang berjudul "Tinjauan Filosofis Kebijakan Publik atas Relasi Fatwa MUI dan Kebijakan Pemerintah Kota Makassar dalam Penanganan Anak Jalanan, Gembel dan Pengemis."
Penelitian itu dipertahankan dalam Ujian Promosi Doktor Program Studi Dirasah Islamiyah Pascasarjana UIN Alauddin Makassar pada 17 Juni 2026.
Selama setahun, Kafrawy menyusuri berbagai sudut Kota Makassar.
Ia mendatangi titik rawan pengemis, lampu merah demi lampu merah, rumah makan, pusat perbelanjaan, ATM, SPBU, hingga lokasi-lokasi yang menjadi tempat beraktivitas anak jalanan, gembel dan pengemis.
Ia juga mewawancarai pengurus MUI, Dinas Sosial Kota Makassar, petugas sosial, dan masyarakat.
Apa yang terlihat dipermukaan, anak jalanan, gembel dan pengemis dan data yang ditemukannya jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan ketertiban kota.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/m-kafrawy-saenong-20122.jpg)