Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dari Jalanan ke Promosi Doktor UIN

Pintu kedatangan menyambutnya, Kepala UPT RPTC Dinas Sosial, Masri memperkenalkannya seorang anak jalanan yang akan menjadi salah satu narasumbernya.

Tayang:
dok pribadi
Peneliti Lembaga Studi Kebijakan Publik & Pengajar di PP. Ash-Shalihin Gowa, M Kafrawy Saenong 

— Kisah Penelitian Pengasuh Pondok Pesantren Dr M Kafrawy Saenong SSos Msi

TRIBUN-TIMUR.COM - Berbekal Maps, Kafrawy menelusuri jalan Poros Barombong menuju Rumah Perlindungan dan Trauma Center (RPTC) Dinas Sosial Kota Makassar.

Tempat sejumlah anak jalanan, gelandangan, dan pengemis menjalani pembinaan setelah terkena razia.

Bagi sebagian orang, lokasi itu mungkin hanya sebuah fasilitas sosial di pinggir kota.

Namun bagi Kafrawy, tempat itu menjadi pintu masuk untuk penelitian disertasinya, memahami kehidupan mereka yang selama ini lebih sering menengadahkan tangan di lampu merah.

Pintu kedatangan menyambutnya, Kepala UPT RPTC Dinas Sosial, Masri memperkenalkannya dengan seorang anak jalanan yang akan menjadi salah satu narasumbernya.

Dengan tatapan kosong, anak itu bercerita tentang hari-harinya di jalanan.

Bukan cerita indah seorang anak kecil, cerita bermain dan belajar, tapi cerita sedih.

Cerita tentang keluarganya, orang tua bercerai, tentang kemiskinan, dan masa depan.

Percakapan singkat itu menjadi salah satu momen yang membekas dalam ingatan Kafrawy selama menjalani penelitian disertasinya.

Anak yang seharusnya menikmati dan mengisi ingatan masa kecil dengan bermain dan belajar justru harus sudah mengenal kerasnya jalanan kota dan jalan hidupnya sendiri.

Selama setahun, Kafrawy tidak hanya membaca dokumen kebijakan Pemerintah Daerah (Perda) Kota Makassar dan fatwa MUI Sulsel, membaca berita di media massa.

Ia juga menyusuri jalan-jalan Kota Makassar, berbagai lampu merah, mendatangi rumah singgah, serta berbincang langsung dengan anak jalanan, gelandangan, dan pengemis.

"Saya menyadari bahwa di balik istilah anak jalanan, gelandangan, dan pengemis, ada manusia yang menyimpan cerita hidup, berliku-liku, penuh perjuangan, mereka bukan sekadar objek kebijakan," ujar Kafrawy.

Seorang anak perempuan berusia sekitar 11 tahun yang Kafrawy wawancara. Tubuhnya kurus.

Kulitnya menggelap karena terbiasa berada di bawah terik matahari.

Ketika diajak berbincang, anak itu menjawab seperlunya.

"Adek biasa mengemis di mana?" tanya Kafrawy.

"Di lampu merah Mandai, Pak."

"Masih sekolah?" Anak itu menggeleng.

"Sebenarnya mau sekolah, Pak."

Kalimat sederhana itu terus teringat dalam benak Kafrawy selama penelitian tentang anak jalanan, gelandangan, dan pengemis di Kota Makassar.

Kafrawy tidak sanggup melanjutkan pertanyaannya, seperti mengupas luka anak kecil, tentang keluarga, orang tua, ayah dan ibu yang berpisah, meninggalkannya, lalu dititip di rumah nenek, kadang di kost kakak, putus sekolah, turun ke jalan, pertanyaan tentang masa depan, cita-cita.

Ini hanyalah satu cerita dari satu anak yang ditemuinya.

Setiap anak jalanan, gembel dan pengemis punya cerita masing-masing yang sama mirisnya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik berangkat penelitian doktoralnya yang berjudul "Tinjauan Filosofis Kebijakan Publik atas Relasi Fatwa MUI dan Kebijakan Pemerintah Kota Makassar dalam Penanganan Anak Jalanan, Gembel dan Pengemis."

Penelitian itu dipertahankan dalam Ujian Promosi Doktor Program Studi Dirasah Islamiyah Pascasarjana UIN Alauddin Makassar pada 17 Juni 2026.

Selama setahun, Kafrawy menyusuri berbagai sudut Kota Makassar.

Ia mendatangi titik rawan pengemis, lampu merah demi lampu merah, rumah makan, pusat perbelanjaan, ATM, SPBU, hingga lokasi-lokasi yang menjadi tempat beraktivitas anak jalanan, gembel dan pengemis.

Ia juga mewawancarai pengurus MUI, Dinas Sosial Kota Makassar, petugas sosial, dan masyarakat.
Apa yang terlihat dipermukaan, anak jalanan, gembel dan pengemis dan data yang ditemukannya jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan ketertiban kota.

Menurutnya, banyak anak jalanan yang ditemuinya tidak pernah bercita-cita hidup di jalan.

Sebagian terpaksa membantu ekonomi keluarga. Sebagian sudah tidak punya kelurga. Sebagian lagi menjadi korban eksploitasi.

Ada yang putus sekolah, ada pula yang sejak kecil ikut orang tua mengemis, ada yang telah terbiasa menjadikan jalanan sebagai ruang hidup.

Di sisi lain, Kota Makassar sesungguhnya tidak kekurangan aturan.

Pemerintah memiliki Peraturan Daerah tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan, pengemis, dan pengamen.

MUI juga mengeluarkan fatwa yang melarang praktik eksploitasi dan pemberian uang langsung kepada pengemis di ruang publik. Dan dokumen kebijakan-kebijakan itu yang ditinjaunya.

Namun penelitian Kafrawy menunjukkan bahwa aturan dan fatwa belum cukup menyelesaikan akar masalah anak jalanan, gembel dan pengemis.

Meskipun data anak jalanan berkurang, namun temuan penelitiannya anak-anak jalanan dan pengemis ternyata memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi.

Mereka berpindah dari satu titik lampu merah ke titik lain, mengubah cara mencari nafkah, tidak lagi di lampu merah saja, tapi memenuhi ruang publik di Kota Makassar, sekitar ATM, SPBU, depan tempat perbelanjaan, dan area publik lainnya, mereka bahkan memahami pola razia Satpol PP dan Dinas Sosial.

Ketika satu ruang tertutup, mereka mencari ruang lain untuk bertahan hidup. 

"Yang saya lihat selama penelitian, mereka bukan sekadar objek penertiban. Mereka adalah manusia yang sedang berusaha bertahan," katanya.

Karena itu, menurut Kafrawy, relasi antara negara dan agama tidak boleh berhenti pada larangan dan penertiban semata. Negara perlu menghadirkan perlindungan sosial yang lebih kuat, sementara agama perlu terus menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan yang memulihkan martabat mereka.

Baginya, ukuran keberhasilan sebuah kebijakan bukanlah berapa banyak anak jalanan yang hilang dari persimpangan jalan, melainkan berapa banyak yang berhasil kembali ke sekolah, memperoleh perlindungan, dan menemukan masa depan yang lebih baik.

"Anak-anak itu bukan masalah yang harus disingkirkan dari jalanan. Mereka adalah amanah, generasi penerus," tegasnya.

Menjelang ujian promosi doktor, Kafrawy mengaku tidak pernah melupakan wajah anak yang ditemuinya di RPTC pada awal penelitian.

Anak yang hanya memiliki satu harapan sederhana: hidup seperti anak lainnya, memiliki masa kecil bahagia, memiliki kehidupan yang lebih baik dan kembali bersekolah.

Pada akhirnya, penelitian ini bukan semata-mata tentang fatwa, regulasi, atau relasi antara agama dan negara.

Penelitian ini adalah tentang manusia-tentang anak-anak yang masih menunggu kesempatan kedua untuk mengubah hidup mereka.

Bermain dan belajar. Dunia memberinya kesempatan untuk menjadi manusia lebih baik. 

"Pernahkah kita melihat seorang anak kecil berdiri di lampu merah sambil menengadahkan tangan? Pernahkah kita benar-benar menatap wajahnya? Menatap matanya yang kosong, yang seolah terlalu dini mengenal kesedihan? Atau justru kita segera mengalihkan pandangan karena tidak sanggup menahan tatapan itu?

Pernahkah kita menyelipkan uang receh di kantong ke tangannya, lalu melanjutkan perjalanan ketika lampu berubah hijau? Pernahkah kita bertanya, dari mana anak itu berasal? Di mana ibunya? Di mana ayahnya?

Mengapa pada usia ketika anak-anak lain sedang belajar membaca, bermain sepeda, atau bercita-cita menjadi dokter dan guru, ia justru berdiri di tengah debu dan asap kendaraan, meminta belas kasihan dari orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya?"

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membawa Kafrawy, mahasiswa S3, menyusuri jalan-jalan Kota Makassar selama setahun.

Ia tidak hanya ingin mengetahui bagaimana pemerintah kota dan agama memandang anak jalanan, gelandangan, dan pengemis melalui Perda dan Fatwa.

Ia ingin mendengar cerita yang selama ini tenggelam di balik angka statistik, laporan pemerintah, dan operasi penertiban.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
1 - 4
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved