Dari Jalanan ke Promosi Doktor UIN
Pintu kedatangan menyambutnya, Kepala UPT RPTC Dinas Sosial, Masri memperkenalkannya seorang anak jalanan yang akan menjadi salah satu narasumbernya.
Menurutnya, banyak anak jalanan yang ditemuinya tidak pernah bercita-cita hidup di jalan.
Sebagian terpaksa membantu ekonomi keluarga. Sebagian sudah tidak punya kelurga. Sebagian lagi menjadi korban eksploitasi.
Ada yang putus sekolah, ada pula yang sejak kecil ikut orang tua mengemis, ada yang telah terbiasa menjadikan jalanan sebagai ruang hidup.
Di sisi lain, Kota Makassar sesungguhnya tidak kekurangan aturan.
Pemerintah memiliki Peraturan Daerah tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan, pengemis, dan pengamen.
MUI juga mengeluarkan fatwa yang melarang praktik eksploitasi dan pemberian uang langsung kepada pengemis di ruang publik. Dan dokumen kebijakan-kebijakan itu yang ditinjaunya.
Namun penelitian Kafrawy menunjukkan bahwa aturan dan fatwa belum cukup menyelesaikan akar masalah anak jalanan, gembel dan pengemis.
Meskipun data anak jalanan berkurang, namun temuan penelitiannya anak-anak jalanan dan pengemis ternyata memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi.
Mereka berpindah dari satu titik lampu merah ke titik lain, mengubah cara mencari nafkah, tidak lagi di lampu merah saja, tapi memenuhi ruang publik di Kota Makassar, sekitar ATM, SPBU, depan tempat perbelanjaan, dan area publik lainnya, mereka bahkan memahami pola razia Satpol PP dan Dinas Sosial.
Ketika satu ruang tertutup, mereka mencari ruang lain untuk bertahan hidup.
"Yang saya lihat selama penelitian, mereka bukan sekadar objek penertiban. Mereka adalah manusia yang sedang berusaha bertahan," katanya.
Karena itu, menurut Kafrawy, relasi antara negara dan agama tidak boleh berhenti pada larangan dan penertiban semata. Negara perlu menghadirkan perlindungan sosial yang lebih kuat, sementara agama perlu terus menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan yang memulihkan martabat mereka.
Baginya, ukuran keberhasilan sebuah kebijakan bukanlah berapa banyak anak jalanan yang hilang dari persimpangan jalan, melainkan berapa banyak yang berhasil kembali ke sekolah, memperoleh perlindungan, dan menemukan masa depan yang lebih baik.
"Anak-anak itu bukan masalah yang harus disingkirkan dari jalanan. Mereka adalah amanah, generasi penerus," tegasnya.
Menjelang ujian promosi doktor, Kafrawy mengaku tidak pernah melupakan wajah anak yang ditemuinya di RPTC pada awal penelitian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/m-kafrawy-saenong-20122.jpg)