Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Prof Firdaus Resmi Sandang Guru Besar UIN Alauddin, Usung Tafsir Sufi Nusantara

Prof Dr Firdaus, M.Ag resmi menyandang status sebagai guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Tayang:
Penulis: Sayyid Zulfadli Saleh Wahab | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
GURU BESAR - Prof Dr Firdaus, M.Ag saat orasi ilmiah pada pengukuhan guru besar di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Jalan HM Yasin Limpo, Romangpolong, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Senin (18/5/2026). Prof Firdaus mengangkat tema orasi ilmiah 'Tafsir Sufi Nusantara: Paradigma dan Urgensinya dalam Membumikan Spiritualitas Al-Qur’an pada Konteks Lokal'. 

TRIBUN-GOWA.COM - Prof Dr Firdaus, M.Ag resmi dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Dosen Fakultas Adab dan Humaniora tersebut dikukuhkan dalam Sidang Senat Terbuka Luar Biasa di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Jalan HM Yasin Limpo, Romangpolong, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Senin (18/5/2026).

Prof Firdaus dikukuhkan bersama dua dosen lainnya, yakni Prof Dr Hj Asni, S.Ag., M.HI dalam bidang kepakaran Hukum Keluarga Islam di Indonesia, serta Prof Dr Nur Syamsiah, M.Pd.I.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof Firdaus menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Tafsir Sufi Nusantara: Paradigma dan Urgensinya dalam Membumikan Spiritualitas Al-Qur’an pada Konteks Lokal”.

Ia menegaskan Alquran tidak boleh dipahami hanya sebagai teks suci yang statis, tetapi sebagai firman hidup yang tetap relevan sepanjang zaman.

“Al-Quran tidak boleh kita pandang sekadar sebagai teks suci yang statis atau kitabullah yang terjebak dalam lembaran-lembaran kertas. Ia adalah firman hidup yang terus berbicara melintasi ruang dan waktu,” ujar Prof Firdaus.

Menurutnya, Alquran hadir bukan hanya mengatur aspek hukum dan norma, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual manusia.

Namun, di tengah arus modernitas, pemahaman terhadap Al-Quran dinilai kerap dipersempit pada aspek legal-formal dan persoalan halal-haram semata.

“Pemahaman yang kering ini membuat batin manusia modern mengalami kekosongan spiritual dan krisis makna hidup,” katanya.

Karena itu, ia menilai Tafsir Sufi Nusantara menjadi pendekatan penting untuk menjembatani keagungan teks suci dengan realitas sosial serta kebutuhan spiritual masyarakat.

“Tafsir ini menawarkan pendekatan yang lembut, reflektif, dan mendalam, yang mampu menghubungkan teks suci dengan kebutuhan batin masyarakat kita,” jelasnya.

Prof Firdaus menjelaskan Tafsir Sufi Nusantara memiliki akar kuat dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya melalui pemikiran tokoh-tokoh sufi seperti Sahal al-Tustari, Muhyiddin Ibnu Arabi, hingga Al-Qusyairi.

Tradisi tafsir tersebut, kata dia, mengajarkan transformasi batin manusia secara bertahap, mulai dari syariat, tarekat, hakikat, hingga mencapai ma’rifatullah.

Ia juga menekankan bahwa Tafsir Sufi Nusantara memiliki paradigma unik karena memadukan tiga unsur utama, yakni teks wahyu sebagai rujukan normatif, pengalaman spiritual penafsir, dan konteks budaya lokal.

“Keunikan ini melahirkan metodologi yang seimbang. Tidak menafikan pendekatan tekstual, tidak pula mengabaikan konteks sosial, tetapi menyempurnakannya melalui pendekatan intuitif atau penyingkapan makna batiniah,” bebernya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved