Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

UIN Alauddin

Terbitkan Jurnal Diskriminasi Janda di India, Eks Ketua BEM Lulus Tanpa Skripsi di UIN Alauddin

Pengganti skripsi, Zulhamdi Suhafid, menuntaskan tugas akhir melalui publikasi artikel ilmiah pada jurnal nasional terindeks Sinta 2.

Tayang:
Penulis: Makmur | Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
UIN ALAUDDIN - Mantan Presiden Mahasiswa UIN Alauddin Makassar Muhammad Zulhamdi Suhafid setelah yudisium sarjana di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Alauddin Makassar, Samata, Kabupaten Gowa, Sulsel, 5 Mei 2026. Zulhamdi meraih gelar sarjana tanpa skripsi. 

Ringkasan Berita:
  • Muhammad Zulhamdi Suhafid lulus tanpa skripsi dari Program Studi Hubungan Internasional UIN Alauddin Makassar.
  • Eks Ketua BEM UIN Alauddin itu menyelesaikan tugas akhir lewat publikasi jurnal nasional terindeks Sinta 2 tentang diplomasi UN Women dalam menghapus stereotip terhadap janda di India.
  • Eks Ketua BEM UIN Alauddin Makassar, Muhammad Zulhamdi Suhafid, berhasil meraih gelar S1 tanpa skripsi. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Muhammad Zulhamdi Suhafid lulus tanpa skripsi Strata Satu (S1) Hubungan International, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Muhammad Zulhamdi Suhafid merupakan eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UIN Alauddin.

Pengganti skripsi, Zulhamdi Suhafid, menuntaskan tugas akhir melalui publikasi artikel ilmiah pada jurnal nasional terindeks Sinta 2.

Artikel membahas strategi diplomasi UN Women, lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam memengaruhi kebijakan Pemerintah India untuk menghapus stereotip terhadap janda.

Penelitian itu terbit dalam jurnal Islamic World and Politics Vol. 8 No. 2 Desember 2024.

“Fenomena diskriminasi terhadap janda di India masih sangat tinggi. Saya melihat belum banyak penelitian yang fokus pada isu tersebut,” ujar Zulhamdi, Jumat (8/5/2026).

Baca juga: KKN UIN Alauddin Gelar Pekan Olahraga, Bangkitkan Sportivitas Warga Komba Selatan Luwu

Dalam risetnya, ia menyoroti kondisi janda di wilayah Vrindavan, India.

Para janda hidup dalam tekanan sosial dan budaya yang kuat. 

Mereka dibatasi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara berpakaian hingga ruang bersosialisasi di masyarakat.

Zulhamdi kemudian meneliti bagaimana UN Women hadir melakukan diplomasi terhadap Pemerintah dan Masyarakat India.

Ia menemukan ada dua pendekatan utama yang digunakan organisasi internasional.

Pertama melalui kampanye sosial bertujuan membangun kesadaran masyarakat terkait penghapusan stigma terhadap janda.

Kampanye itu melibatkan laki-laki dewasa hingga anak-anak untuk bersama-sama membangun kesadaran tentang kesetaraan gender.

Sementara pendekatan kedua dilakukan lewat strategi advokasi bersama pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat.

“UN Women tidak hanya melakukan kampanye, tapi juga membangun gerakan kolektif bersama pemerintah dan LSM,” katanya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved