Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Haji 2026

Puncak Haji Usai, Ancaman Kelelahan dan Penyakit Masih Mengintai Jamaah

Namun bagi petugas haji, berakhirnya Armuzna bukan berarti berakhir pula tantangan penyelenggaraan haji.

Tayang:
Penulis: Muh Hasim Arfah | Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/MCH
PULANG KE INDONESIA- Jamaah haji JKB-1 bersiap pulang ke Indonesia di Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, beberapa waktu lalu. Memasuki hari ke-44 operasional haji, sebanyak 27.086 jemaah Indonesia yang tergabung dalam 69 kelompok terbang telah dipulangkan ke Tanah Air dari Makkah. 

Kawasan Mina dinilai menjadi titik paling kompleks selama puncak haji karena tingkat kepadatan jamaah yang jauh lebih tinggi dibandingkan Arafah.

Akibatnya, berbagai persoalan muncul mulai dari keterbatasan ruang tenda, jamaah yang terpisah dari rombongan, hingga pengaturan waktu lempar jumrah di Jamarat.

“Di Mina memang situasinya relatif lebih padat dibandingkan Arafah sehingga persoalannya lebih banyak dan perlu menjadi bahan evaluasi,” ujarnya.

Meski demikian, terdapat kabar menggembirakan dari sektor kesehatan. Pemerintah Arab Saudi memberikan apresiasi kepada Indonesia karena berhasil menekan angka kematian jamaah secara signifikan pada musim haji tahun ini.

Menurut Gus Irfan, hingga saat ini angka kematian jamaah Indonesia turun hampir 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kalau tahun lalu mencapai 467 orang, tahun ini sejauh ini belum sampai 200,” ungkapnya.

Penurunan tersebut dinilai tidak lepas dari penerapan kebijakan istitha’ah kesehatan yang lebih ketat sebelum keberangkatan, peningkatan pembinaan jamaah, serta penguatan layanan kesehatan selama operasional haji.

Meski angka kematian menurun, pemerintah tetap melakukan evaluasi terhadap sistem layanan kesehatan yang ada, termasuk operasional Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah keterbatasan fungsi KKHI akibat regulasi Arab Saudi yang tidak memperbolehkan layanan rawat inap.

Selain itu, kebutuhan dokter dan perawat juga masih menjadi tantangan yang harus dibenahi untuk musim haji mendatang.

Karena itu, Kemenhaj mulai mengkaji sejumlah model layanan baru, termasuk kemungkinan menghadirkan klinik satelit yang berfungsi sebagai fasilitas pemeriksaan awal sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit.

“Kami berpikir tentang klinik satelit untuk pelayanan rawat jalan sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit. Tapi konsep ini masih akan dimatangkan setelah musim haji selesai,” kata Gus Irfan.

Bagi pemerintah, fase pasca-Armuzna bukan sekadar masa menunggu kepulangan jamaah.

Ini adalah periode penting untuk menjaga kesehatan, memastikan kualitas pelayanan tetap prima, sekaligus mengevaluasi berbagai catatan agar penyelenggaraan haji Indonesia semakin baik pada tahun-tahun mendatang. 

 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved