Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Arafah hingga Kurban, Perjalanan Cinta Seorang Hamba kepada Allah

Salah satunya adalah Arafah, hamparan suci yang setiap tahun dirindukan jutaan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia.

Tayang:
Penulis: Hardiyanti Kamaluddin | Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
OPINI - Hardiyanti Kamaluddin 

Arafah sebagai tempat adalah Padang Arafah, sedangkan Arafah sebagai waktu adalah tanggal 9 Zulhijjah, hari yang begitu dimuliakan dalam Islam.

Lalu mengapa 9 Zulhijjah disebut Yaumul Arafah?

Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam kitab tafsirnya, Mafatihul Ghaib atau yang dikenal dengan Tafsir Al-Kabir, menjelaskan kisah agung Nabi Ibrahim AS.

Pada malam Tarwiyah, yakni malam 8 Zulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. 

Sepanjang hari beliau merenung dan bertanya dalam hati, apakah mimpi itu benar berasal dari Allah atau hanya godaan setan.

Karena itulah Tarwiyah secara filosofis dimaknai sebagai malam perenungan.

Namun ketika mimpi itu kembali hadir pada malam Arafah, malam 9 Zulhijjah, Nabi Ibrahim AS akhirnya yakin bahwa itu benar-benar perintah Allah SWT.

Dengan penuh ketundukan beliau berkata, “Araftu ya Rabbi annahu min indik,” yang berarti, “Kini aku mengetahui wahai Tuhanku, bahwa ini benar-benar perintah-Mu.”

Keyakinan itulah yang kemudian membawa Nabi Ibrahim AS pada puncak ujian keimanan. 

Pada malam berikutnya, beliau kembali menerima mimpi yang sama, yakni perintah untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail AS.

Dengan hati yang dipenuhi kepasrahan dan keyakinan kepada Allah SWT, keesokan harinya tepat pada 10 Zulhijjah, Nabi Ibrahim AS melangkah menuju Mina untuk melaksanakan perintah tersebut.

Karena peristiwa agung itulah, 10 Zulhijjah kemudian dikenal sebagai Yaumun Nahr atau hari penyembelihan, simbol keikhlasan dan pengorbanan seorang hamba kepada Tuhannya.

Di situlah letak makna Arafah: kesadaran, pengenalan, dan keyakinan total kepada Allah SWT. 

Bahwa seorang hamba harus belajar mengenal kehendak Tuhannya, meski terkadang terasa begitu berat bagi perasaan manusia.

Ujian Nabi Ibrahim AS bukan sekadar tentang menyembelih putranya. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved