Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Haji 2026

Kisah Emmaria Tukang Panjat Lontar Naik Haji, Sabar Nabung dari Rp200 Ribu

Di usianya yang telah mencapai sekitar 87 tahun, Emmaria bukan sekadar jamaah haji biasa

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Renaldi Cahyadi | Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com/Renaldi Cahyadi
HAJI 2026 - JCH Embarkasi Makassar, Kloter 20, Emmaria Rasdi Lasuruga (kanan) dan Ketua KBIH Luwu Utara, Baharuddin Iskandar Pettisaban (kiri) saat ditemui di Aula Arafah, Asrama Haji Sudiang, Senin (4/5/2026). Perjuangan Tukang Panjat buah lontar ke tanah suci 

Ringkasan Berita:
  • Emmaria Rasdi Lasuruga tukang panjat buah lontar naik haji
  • Jamaaa asal Pasang Kayu, Sulawesi Barat (Sulbar) yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 20 Embarkasi Makassar
  • Ia sabar menabung dari Rp200 ribu

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sore itu, Senin (4/5/2026), salah seorang jamaah calon haji (JCH) tampak duduk termenung di barisan para lansia.

Dia adalah Emmaria Rasdi Lasuruga, jamaaa asal Luwu Utara yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 20 Embarkasi Makassar.

Sorot matanya tampak tenang, namun menyimpan cerita panjang. 

Emmaria terlihat sederhana, peci hitam terpasang rapi, kartu identitas tergantung di leher, dan tas kecil yang tak lepas dari genggamannya. 

Tak banyak yang tahu, lelaki renta itu adalah seorang pekerja keras yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon lontar.

Di usianya yang telah mencapai sekitar 87 tahun, Emmaria bukan sekadar jamaah haji biasa. 

Ia adalah simbol keteguhan seorang tukang panjat buah lontar yang akhirnya menjejakkan kaki menuju Tanah Suci setelah penantian panjang.

Meskipun tangannya terlihat sudah keriput namun ia terlihat masih kuat. 

Di usianya yang tak lagi muda, pekerjaan itu tetap ia jalani, memanjat, mengambil nira, lalu mengolahnya menjadi gula merah. 

Rutinitas yang telah ia lakukan bertahun-tahun, demi satu tujuan yakni berangkat haji.

Setiap kali memanjat, Emmaria bisa membawa pulang Rp200-300 ribu. 

Kadang ia melakukannya pagi hingga sore hari.

Malam harinya, nira yang dikumpulkan dimasak perlahan hingga menjadi gula merah. 

Dari penghasilan itu, ia tak lupa menyisihkan sebagian.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved