Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

KasiSeduh, Ruang Tenang di Balik Kabut Dingin Daerah Malino

Bagi Akram, "KasiSeduh" bukan sekadar untaian huruf untuk papan nama usaha namun sebuah ajakan hangat dari seorang teman

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Muh. Abdiwan
Tribun-timur.com/Muh. Abdiwan
MENJELANG MALAM - Suasana senja di cafe Kasiseduh di Jalan Pendidikan, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Senin (18/5). Cafe ini tak hanya menawarkan secangkir kopi hangat, tetapi juga ruang tenang bagi para pelancong yang ingin sejenak bernapas dari hiruk pikuk kehidupan. 

Namun, mengelola ketenangan di tempat wisata juga menuntut kedisplinan logistik yang ketat akibat cuaca pegunungan yang tak menentu. Di sinilah efisiensi teknologi mengambil peran penting.

Kehadiran pembayaran digital via QRIS mengubah lanskap operasional KasiSeduh menjadi jauh lebih modern dan aman.

"Dulu, masalah klasik seperti mencari uang pas atau kembalian receh cukup sering terjadi dan menyita waktu," jelas Akram.

"Sekarang, semuanya jauh lebih praktis. Saat akhir pekan ketika Malino sangat ramai, QRIS sangat membantu memangkas antrean di kasir. Pelanggan bisa lebih cepat menikmati kopi mereka tanpa menunggu lama."

Dari sisi manajemen, transaksi non-tunai ini memberikan rasa aman ekstra karena tim tidak perlu menyimpan terlalu banyak uang tunai di laci kasir saat kedai sedang padat.

Selain itu, pencatatan otomatis memudahkan Akram memantau menu apa saja yang paling laris setiap harinya.

Teknologi ini bahkan pernah menjadi juru selamat bagi wisatawan. "Pernah ada pelanggan luar daerah yang lupa membawa dompet dan kebingungan karena ATM di sekitar Malino sedang gangguan. Karena kami menyediakan QRIS, mereka tetap bisa nongkrong dengan tenang tanpa rasa khawatir," cerita Akram.

Suara Pengunjung: Kehangatan Nyata di Tengah Dingin Pegunungan

Kenyamanan yang ditawarkan KasiSeduh diakui langsung oleh para pengunjung yang singgah. Ridoh, seorang wisatawan asal Kota Makassar, membagikan pengalamannya saat menghabiskan sore di kedai ini.

"Nongkrong di KasiSeduh itu rasanya magis banget. Begitu kabut Malino mulai turun, duduk di sudut kafe yang berbahan kayu sambil megang cangkir kopi hangat itu bener-bener bikin stres hilang. Suasananya tenang, ditambah gemerisik angin di pohon pinus," ujar Ridoh.

Tidak hanya soal suasana, Ratih juga terkesan dengan kemudahan layanan di kafe ini.

"Waktu ke sini sama teman-teman, kami sempat khawatir karena malas ribet bawa uang cash banyak-banyak ke daerah pegunungan. Untungnya di sini ada QRIS. Tinggal scan menggunakan BRImo dari HP, transaksi beres dalam hitungan detik. Benar-benar kafe modern yang mengerti kebutuhan pengunjung," tambahnya sembari tersenyum.

Tumbuh Bersama Pemuda Lokal

KasiSeduh tidak ingin sukses sendirian di atas awan Malino. Akram berkomitmen memberikan dampak sosial dengan melibatkan dan membuka lapangan kerja bagi pemuda lokal. Ia ingin kedai kopi ini tumbuh dan mengakar bersama masyarakat setempat.

Melihat lima tahun ke depan, mimpi Akram sangat konsisten: ia ingin KasiSeduh menjadi ikon yang selalu dirindukan orang setiap kali kaki mereka menginjakkan tanah Malino. Bukan hanya karena rasa kopinya yang jujur, tapi karena cerita dan kehangatan kemanusiaan yang tertinggal di sana.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved