KasiSeduh, Ruang Tenang di Balik Kabut Dingin Daerah Malino
Bagi Akram, "KasiSeduh" bukan sekadar untaian huruf untuk papan nama usaha namun sebuah ajakan hangat dari seorang teman
TRIBUN-TIMUR.COM, GOWA - Malino selalu punya cara sendiri untuk membuat detak waktu berjalan lebih lambat. Di sela gemerisik pohon pinus, udara dingin yang menusuk tulang, dan kabut tebal yang perlahan turun menyelimuti Jalan Pendidikan, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, ada sebuah ruang yang menawarkan lebih dari sekadar kafein. Tempat itu bernama KasiSeduh.
Aroma pekat ekstraksi kopi panas menyeruak, beradu sempurna dengan wangi segar daun pinus. Di balik meja bar, Akram Bondan, sang pendiri, memandang uap kopi yang mengepul dari cangkirnya. Di sinilah, di dataran tinggi Sulawesi Selatan, sebuah ide sederhana bermutasi menjadi tempat pulang bagi para pelancong.
"Waktu itu saya duduk menikmati kopi hangat di tengah dinginnya Malino," kenang Akram membuka cerita. "Lalu muncul satu pikiran sederhana: orang-orang yang datang ke sini pasti butuh tempat untuk merasa hangat. Dari situ lahir keinginan membuka kedai ini. Nama 'KasiSeduh' muncul begitu saja, terasa akrab dan dekat." ujarnya, Senin (18/5)
Bagi Akram, "KasiSeduh" bukan sekadar untaian huruf untuk papan nama usaha. Kalimat itu adalah bahasa sehari-hari masyarakat lokal yang jujur dan tanpa sekat. Sebuah ajakan hangat dari seorang teman.
"Kami ingin setiap orang yang datang merasa diterima, duduk tanpa terburu-buru, lalu menikmati momen kecil dalam hidup mereka," tuturnya dengan senyum tulus.
Sisi Manusiawi: Bertahan di Sela Musim Romantis
Banyak mata memandang kedai kopi di daerah wisata sebagai tempat yang romantis dan penuh keuntungan. Namun, Akram paham betul peluh di balik layar kaca tersebut.
Tantangan terbesar di awal berdiri adalah menjaga api keyakinan saat bisnis belum stabil. Sebagai daerah wisata, ritme pengunjung Malino sangat dinamis, membludak di akhir pekan, namun sunyi senyap di hari kerja.
Saat kabut turun dan kedai sedang sepi, Akram dan timnya tidak membiarkan semangat mereka membeku. Mereka menggunakan waktu tersebut untuk mengevaluasi rasa, mencoba menu baru seperti Pine Coffee yang unik, atau sekadar merajut mimpi bersama.
Bagi Akram, suasana hati tim di balik meja bar adalah energi yang akan menular sampai ke meja pelanggan.
Ada satu momen emosional yang terus melekat di ingatan Akram. Suatu hari, di tengah hujan deras dan kabut tebal, seorang pelanggan datang sendirian. Ia duduk berjam-jam, menatap ke luar jendela sembari menyesap kopinya dalam keheningan.
"Sebelum pulang, dia mendatangi saya dan berkata, 'Terima kasih, tempat ini bikin saya lebih tenang.' Di situ saya sadar, kadang orang datang ke coffeeshop bukan cuma mencari kopi, tapi juga mencari ruang untuk bernapas," ungkap Akram dengan mata berbinar.
Sensori Alam dan Kepuasan yang Mengalir Lewat QRIS
Berada di KasiSeduh adalah sebuah petualangan indra. Ketika lampu-lampu kuning hangat mulai menyala membelah kabut, elemen kayu dan sudut-sudut natural kafe ini berpadu dengan lanskap alam Malino.
Keindahan visual ini sengaja dirawat Akram agar setiap foto yang diunggah pengunjung di media sosial mampu mengalirkan rasa tenang yang sama ke dunia luar.
| Kerja Proyek Rp245 M, Mandor Sekolah Rakyat Sinjai Berutang Rp20 Juta ke UMKM |
|
|---|
| Bangun Solidaritas, RT dan RW Karampuang Fun Gathering di Malino |
|
|---|
| Akselerasi UMKM Makassar, Bagaimana KUR Membuka Jalan Mete Bunly Menuju Pasar Ritel Nasional |
|
|---|
| Dapur Andist, Saat Camilan Tradisional Naik Kelas Bersama Rumah BUMN BRI |
|
|---|
| Seminar Saku Sultan 2026 Bahas Transformasi Transaksi Digital dan Masa Depan UMKM |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260518_DWN_KASISEDUH_.jpg)