Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

300 KK Diklaim Terdampak Ekonomi Imbas Penutupan Sementara Pelabuhan Bajoe Bone

Sejumlah profesi yang paling terdampak antara lain pedagang asongan, tukang ojek, sopir transportasi rute Bone–Makassar hingga buruh angkut.

Penulis: Wahdaniar | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Wahdaniar
PELABUHAN BAJOE - Anggota Aliansi Masyarakat Bajoe Bersatu, Fahri Rusli (baju hitam), saat ditemui Selasa (28/4/2026). Aliansi masyarakat Bajoe Bone bersatu sebut 300 KK terdampak akibat penutupan pelabuhan.  

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE - Penutupan sementara Pelabuhan Penyeberangan Bajoe di Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, berdampak besar terhadap warga yang selama ini menggantungkan hidup di kawasan tersebut.

Anggota Aliansi Masyarakat Bajoe Bersatu, Fahri Rusli, mengungkapkan sekitar 300 kepala keluarga (KK) terdampak akibat penghentian aktivitas pelabuhan selama proses perbaikan.

“Kurang lebih 300 KK yang sudah terdata terdampak. Kami juga tidak tahu pasti jumlah keseluruhannya, tapi angka itu yang sudah terkumpul,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (28/4/2026).

Menurutnya, penutupan pelabuhan selama 21 hari ke depan membuat aktivitas ekonomi masyarakat lumpuh. 

Sejumlah profesi yang paling terdampak antara lain pedagang asongan, tukang ojek, sopir transportasi rute Bone–Makassar hingga buruh angkut.

“Yang paling parah itu pedagang asongan, ojek, transportasi, dan buruh angkut. Mereka ini sepenuhnya bergantung pada aktivitas di pelabuhan,” jelasnya.

Ia menyebut, rata-rata penghasilan para pekerja tersebut berkisar Rp100 ribu per hari. 

Dengan tidak adanya aktivitas penyeberangan, otomatis pemasukan mereka terhenti.

“Kalau pedagang asongan dan ojek itu rata-rata penghasilannya sekitar Rp100 ribu per hari. Dengan penutupan ini, tentu mereka tidak punya penghasilan lagi,” tambahnya.

Baca juga: Dermaga Pelabuhan Bajoe Bone Diperbaiki Mulai 1 Mei, Operasional Normal Awal Juni 2026

Fahri juga mengungkapkan, pihak PT ASDP Indonesia Ferry sebelumnya menjanjikan solusi berupa pelatihan kewirausahaan UMKM.

 Namun hingga kini, belum ada kejelasan terkait teknis pelaksanaannya.

“Memang ada janji dari ASDP terkait seminar kewirausahaan UMKM, tapi teknisnya kami belum tahu seperti apa. Harapan kami, perbaikan ini bisa selesai lebih cepat dari 21 hari,” katanya.

Seorang pedagang asongan di Pelabuhan Bajoe, Rahma, mengaku sudah menerima informasi terkait penutupan tersebut.

 Ia menyebut pada hari ini menerima bantuan sembako, namun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kami sudah diberitahu akan adanya penutupan. Tadi juga sempat diberikan bantuan sembako berupa beras, Indomie, teh, dan terigu. Tapi kan ini bantuannya hanya sekali, sementara kami kehilangan pekerjaan kurang lebih satu bulan,” ungkapnya.

Rahma yang telah puluhan tahun berjualan di pelabuhan itu mengaku sepenuhnya bergantung pada aktivitas penyeberangan. 

Bahkan, barang dagangan yang dijualnya merupakan titipan dari orang lain dengan sistem bagi hasil.

“Saya sudah lama berjualan di sini, sudah puluhan tahun. Dagangan yang saya jual juga bukan punya saya, saya ambil dari orang lain lalu dibagi hasilnya,” ujarnya.

Dalam sehari, ia biasanya memperoleh penghasilan sekitar Rp100 ribu dari pagi hingga malam hari.

“Sehari paling banyak saya dapat Rp100 ribu, dari pagi sampai malam, kadang sampai jam 10 atau 11 malam,” jelasnya.

Ia berharap ada solusi konkret dari pihak terkait agar para pedagang tidak kehilangan mata pencaharian sepenuhnya.

“Kami sangat menggantungkan hidup di sini. Katanya pihak ASDP mau membuka bagian depan supaya kami tetap bisa berjualan, tapi teknisnya kami tidak tahu. Jangan sampai kami disuruh sewa tenant, karena harganya pasti mahal. Kami ini bisa apa,” tandasnya.

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved