Siapa La Pawawoi Karaeng Sigeri Raja Bone ke-31? Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
La Pawawoi Karaeng Sigeri Raja Bone ke-31 diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Sudirman
Ringkasan Berita:
- Raja Bone ke-31, La Pawawoi Karaeng Sigeri diusulkan menjadi Pahlawan Nasional dalam seminar yang digelar di Kabupaten Bone.
- Usulan ini disampaikan Wakil Bupati Bone, Andi Akmal Pasluddin sebagai langkah awal menuju penetapan resmi.
- Seminar pengusulan Pahlawan Nasional ini diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone bersama komunitas Historia Bone dan mahasiswa sejarah UNM, sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Bone ke-696.
TRIBUN TIMUR, MAKASSAR - Raja Bone ke-31 La Pawawoi Karaeng Sigeri diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.
Hal itu disampaikan Wakil Bupati Bone, Andi Akmal Pasluddin saat Seminar Nasional Pengusulan Calon Pahlawan Nasional di Gedung PKK Kabupaten Bone, Kamis (9/4/2026).
“Semoga seminar ini bukan menjadi akhir, melainkan langkah awal menuju penetapan La Pawawoi Karaeng Sigeri sebagai Pahlawan Nasional,” ujar Andi Akmal.
Seminar ini diinisiasi Dinas Kebudayaan (Dikbud) Bone bekerja sama dengan komunitas Historia Bone serta HMPS Pendidikan Sejarah FIS-H UNM.
Seminar ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Bone ke-696.
Baca juga: Dandim Bone Letkol Inf Laode Muhammad Idrus Turun Tangan Perbaiki Jembatan Awangpone
Kepala Dinas Kebudayaan Bone, Andi Murni Al, mengapresiasi peran generasi muda yang terlibat aktif dalam menginisiasi kegiatan tersebut.
“Momentum ini menjadi ajang mengenang perjuangan tokoh sejarah Bone sekaligus meneguhkan nilai keteladanan bagi masyarakat,” ujar Andi Murni.
Ketua Historia Bone, Andi Aso Tenritatta, mengapresiasi atas dukungan pemerintah daerah terhadap ruang partisipasi pemuda dalam pembangunan.
“Harapan kami, pemuda terus dilibatkan dan diberikan ruang untuk berkontribusi aktif demi kemajuan Bone,” katanya.
Siapa La Pawawoi?
La Pawawoi merupakan tokoh penting dalam sejarah perjuangan rakyat Bone melawan kolonial Belanda.
Ia memimpin Kerajaan Bone selama 1895 hingga 1905.
Pada masa kepemimpinannya, ia memimpin langsung perlawanan besar tahun 1905 yang dikenal sebagai peristiwa Rumpa’na Bone.
Istilah Rumpa’na Bone berasal dari ungkapan “Rumpa’ni Bone” yang berarti runtuhnya pertahanan Bone saat diserang Belanda.
Saat itu, pasukan Kerajaan Bone menghadapi serangan militer besar-besaran Belanda.
Putra mahkota Bone, Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae, gugur dalam pertempuran di Bulu Awo pada 18 November 1905.
Ia memimpin langsung pasukan sebagai panglima perang Kerajaan Bone.
Peristiwa itu menjadi pukulan berat bagi perjuangan rakyat Bone.
Pengorbanannya dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan.
La Pawawoi Karaeng Sigeri tetap memberikan perlawanan sengit sebelum akhirnya ditangkap Belanda pada 14 Desember 1905.
Ia kemudian menjalani pengasingan di Bandung sebelum dipindahkan ke Batavia (Jakarta).
Ia wafat pada 11 November 1911 di pengasingan.
Atas jasa-jasanya, La Pawawoi Karaeng Sigeri kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1976 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
| Viral di Bone! Marfina Menikah ke-15 Kali, Suami Terbaru Berusia 22 Tahun |
|
|---|
| Mahasiswa Politeknik KP Bone Ditemukan Tewas Tergantung, Bukti Chat Pacarnya Jadi Petunjuk Awal |
|
|---|
| Polisi Ungkap Motif Penganiayaan Sadis di Bone, Diduga Balas Dendam |
|
|---|
| Keluhan Mitra Menguat, Korwil Diduga Hambat Operasional Dapur MBG di Bone |
|
|---|
| 29 Jam Arif Nelayan Hilang di Perairan Pallette Bone, Basarnas Turunkan 2 Tim |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-04-09-Kolase-Wakil-Bupati-Bone-Andi-Akmal-Pasluddin-kiri.jpg)