Saksi Kata
Kisah Pilu Petani di Bone, Pikul Gabah Lawan Arus Sungai karena Tak Ada Jembatan
Aktivitas itu telah menjadi rutinitas harian warga, khususnya para petani yang menggantungkan hidup dari hasil sawah.
TRIBUN-TIMUR.COM, BONE — Ketiadaan jembatan penghubung di Desa Tadang Palie, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone, memaksa warga setiap hari harus menyeberangi sungai dengan arus deras dan kedalaman yang mencapai leher orang dewasa.
Pemandangan tersebut bukan hal baru.
Aktivitas itu telah menjadi rutinitas harian warga, khususnya para petani yang menggantungkan hidup dari hasil sawah.
Dengan memikul karung berisi padi di pundak, mereka berjalan perlahan melawan arus sungai demi membawa hasil panen ke tempat tujuan.
Setiap langkah harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
Sedikit saja kehilangan keseimbangan, nyawa menjadi taruhannya.
Kepala Dusun Sompobia, Hermansyah, mengungkapkan bahwa wilayah tersebut memiliki potensi pertanian yang besar.
Luas sawah di kawasan itu mencapai sekitar 100 hektare.
“Sekali panen bisa menghasilkan sekitar 750 ton gabah, dan dalam setahun petani di sini bisa panen dua kali,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (1/4/2026).
Ia menjelaskan, ada tiga desa yang bergantung pada akses sungai tersebut untuk mengangkut hasil panen, yakni Desa Parippung, Cinnong, dan Tadang Palie.
Meski terdapat jembatan, jaraknya sekitar tujuh kilometer dari lokasi sawah sehingga tidak efektif digunakan.
“Kalau dipaksakan lewat sana, biayanya bisa dua sampai tiga kali lipat, dan juga bisa merusak area persawahan warga,” jelasnya.
Untuk mengangkut gabah, petani harus mengeluarkan biaya tambahan.
Gabah diangkut menggunakan ojek ke pinggir sungai dengan ongkos sekitar Rp10 ribu, lalu disusul biaya penyeberangan atau 'matekka' sebesar Rp10 ribu.
Tak hanya hasil pertanian, akses sungai itu juga digunakan untuk kebutuhan lain, termasuk saat ada warga yang meninggal dunia.
| Ikon Haji 2026, Nenek Jumriah: Saya Suka di Sini, Tenang Sekali |
|
|---|
| SAKSI KATA: 'Sesak Dada Saya Dengar Kabar Itu', Kisah Haru Tetangga Kenang Andi Megawati |
|
|---|
| Imam As Salam Palopo Dikeroyok di Masjid, Ahmad: Saya Ingin Mereka Tertib! |
|
|---|
| Perilaku Mabuk Berujung Maut, Safar Gelap Mata Tebas Istri dan Bunuh Kakak Sepupunya |
|
|---|
| 'Guncangannya Keras Sekali', Kesaksian Husain Nelayan Penyelamat Korban Ledakan KM Risnawati Indah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Kepala-Dusun-Sompobia-Desa-Tadang-Palie-Kecamatan-Sibulue-Hermansya.jpg)