Petani Bone Menantang Maut, Lewati Sungai Angkut Gabah di Bone Sulsel
Petani menantang mau menyeberangi sungai demi membawa gabah di Desa Tadangpalie, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone.
Penulis: Wahdaniar | Editor: Muh Hasim Arfah
TRIBUN-TIMUR.COM, BONE- Tribuners masih ingat ketika Presiden Prabowo Subianto menyayangkan pemerintah daerah tidak menggunakan anggaran desa untuk membangun jembatan.
Hal itu itu dia sampaikan ketika menerima tamu dalam Prabowo Menjawab!, 19 Maret 2026 lalu.
Kini kejadian itu terjadi do di Desa Tadangpalie, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Para petani harus menantang mau saat mengangkut hasil panen.
Tak adanya jembatan penghubung membuat warga terpaksa menyeberangi sungai dengan arus deras dan kedalaman yang mencapai leher orang dewasa.
Pemandangan itu menjadi rutinitas harian. Para petani memikul karung berisi padi di pundak, berjalan perlahan melawan arus sungai demi membawa hasil panen ke tempat tujuan.
Langkah mereka terlihat hati-hati. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, nyawa bisa menjadi taruhannya.
Baca juga: Demo di Pelabuhan Bajoe Bone, Massa Tolak Penutupan Dermaga 2
“Kalau tidak begini, kami tidak bisa bawa keluar padi. Mau tidak mau harus lewat sungai,” ujar Naha (40) saat dikonfirmasi, Senin (30/3/2026).
Naha mengaku, kondisi tersebut sudah dialami bertahun-tahun tanpa ada perubahan berarti.
Menurutnya, saat debit air meningkat, risiko menjadi lebih besar.
“Kalau hujan deras, air bisa sampai leher. Arusnya kuat sekali. Kami takut, tapi tidak ada pilihan lain,” katanya.
Ia menuturkan, sering kali petani harus menunda pengangkutan hasil panen karena kondisi sungai yang tidak memungkinkan untuk dilintasi.
Akibatnya, kualitas padi bisa menurun dan berdampak pada pendapatan mereka.
“Kadang kami tunggu air surut. Tapi kalau terlalu lama, padi bisa rusak. Jadi serba salah,” ucapnya.
Hal serupa dirasakan Ani (35), warga lainnya yang juga bergantung pada hasil pertanian.
Ia mengaku selalu dihantui rasa cemas setiap kali anggota keluarganya harus menyeberangi sungai.
“Setiap kali suami saya turun ke sungai, saya cuma bisa berdoa. Takut sekali kalau terjadi apa-apa,” ujarnya dengan suara lirih.
Menurutnya, keberadaan jembatan bukan sekadar kebutuhan, melainkan harapan besar bagi keselamatan warga.
“Kalau ada jembatan, kami tidak perlu lagi was-was seperti ini. Anak-anak juga bisa lewat dengan aman,” tambahnya.
Kondisi ini tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi warga, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi keselamatan mereka.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan melihat kondisi di lapangan dan merealisasikan pembangunan jembatan permanen.
“Sudah lama kami menunggu. Semoga pemerintah bisa dengar suara kami,” tandasnya.
Hingga kini, warga Desa Tadangpalie masih harus bertahan dengan kondisi tersebut, berharap suatu hari akses yang layak dan aman benar-benar bisa mereka rasakan.(*)
| Ingat Ningsih Tinampi? Dukun Dulu Viral Ngaku Dikawal Malaikat dan Nabi saat Obati Pasien, Kabarnya |
|
|---|
| Kawasan Timur Indonesia: Jangkar Intelektual Kita |
|
|---|
| Daftar Sembilan Nama Calon Pengganti Hery Susanto di Ombudsman, Ada Putra Sulsel |
|
|---|
| Hery Susanto Jabat Ketua Ombudsman Tersingkat: Jumat Dilantik Prabowo, Kamis Ditangkap Kejagung |
|
|---|
| Dipecat dari Kantornya, Pemuda Nekat Mencuri Uang Rp 130.000 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260330_MENANTANG-MAUT_petani-menantang-maut.jpg)