Solar Langka
Solar Langka, Harga Ikan Naik Rerata 42 Persen di Bone Sulsel
Harga sejumlah komoditas ikan di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan naik signifikan
Penulis: Wahdaniar | Editor: Muh Hasim Arfah
Ringkasan Berita:
- Ikan Bandeng yang sebelumnya berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp50 ribu per kilogram, naik 42 persen.
- Kenaikan harga ikan dipicu oleh kelangkaan bahan bakar jenis solar.
TRIBUN-TIMUR.COM, BONE- Harga sejumlah komoditas ikan di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan naik signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan harga tersebut terjadi di Pasar Tradisional Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone.
Nelayan dan masyarakat mulai mengeluh.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Jumat (27/3/2026) sejumlah jenis ikan mengalami lonjakan harga yang cukup drastis dibandingkan sebelumnya.
Ikan kembung misalnya, kini dijual dengan harga Rp50 ribu per kilogram di pasaran.
Sementara itu, ikan bandeng yang sebelumnya berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp50 ribu per kilogram. Naik 42 persen.
Kenaikan serupa juga terjadi pada ikan tongkol yang melonjak dari Rp35 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram. Naik 42 persen.
Ikan tuna pun ikut terdampak, dari harga sebelumnya Rp35 ribu per kilogram kini mencapai Rp50 ribu per kilogram.
Baca juga: Musim Panen, Pertamina Sulawesi Tambah Pasokan BBM Solar di Sinjai
Tidak hanya itu, harga udang bahkan mengalami kenaikan lebih tinggi, dari Rp35 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram.
Sedangkan ikan teri yang sebelumnya Rp100 ribu per kilogram kini tembus hingga Rp150 ribu per kilogram.
Untuk ikan cakalang, saat ini dijual dengan harga Rp50 ribu per ekor.
Seorang nelayan di Kecamatan Tanete Riattang Timur, Hasan (45), mengungkapkan kenaikan harga ikan dipicu oleh kelangkaan bahan bakar jenis solar.
Menurutnya, nelayan kesulitan mendapatkan solar di SPBU, sehingga terpaksa membeli secara eceran dengan harga yang jauh lebih mahal.
“Solar sekarang langka di Pertamina, jadi kami beli eceran. Harganya bisa dua kali lipat dari harga biasa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meningkatnya biaya operasional saat melaut membuat nelayan terpaksa menyesuaikan harga jual ikan.
Di sisi lain, kondisi ini juga berdampak langsung pada masyarakat, khususnya ibu rumah tangga yang harus mengatur ulang pengeluaran harian.
Salah seorang warga, Nur Mia (40), mengaku kaget dengan kenaikan harga ikan yang cukup tinggi.
“Biasanya satu kilo ikan bisa untuk dua sampai tiga kali makan. Sekarang tidak cukup lagi untuk sehari,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga, terutama dengan memastikan ketersediaan bahan bakar bagi nelayan.
Menurutnya, jika kondisi ini terus berlanjut, maka akan semakin memberatkan masyarakat kecil.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, karena ini sangat terasa bagi kami,” katanya.(*)
| Aktivitas Melaut Nelayan Bone Terganggu Imbas Solar Langka |
|
|---|
| Solar Langka, Nelayan Wotu Lutim Tak Bisa Melaut |
|
|---|
| Solar Langka Lagi di Sulsel, Truk Antre di Badan Jalan Poros |
|
|---|
| Jeritan Nelayan Kepulauan Selayar, BBM Langka, Jika Dapat Harganya Mahal |
|
|---|
| Solar Langka, Aktivitas Nelayan di Tupabiring Maros Sulsel Terhenti |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260327_SOLAR-LANGKA_solar-langka-di-Bone-Sulsel.jpg)