Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Truk Logistik Mengular di Pelabuhan Bajoe Imbas Blokade Jalan Trans Sulawesi di Luwu Raya

Selain truk logistik, kendaraan pribadi juga harus menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk mendapat jadwal keberangkatan.

Tayang:
Tribun-timur.com/Wahdaniar
TRUK LOGISTIK - Puluhan truk logistik terparkir dan mengantre menunggu jadwal penyeberangan di Pelabuhan Penyeberangan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Rabu (18/2/2026). Antrean kendaraan ini terjadi setelah Jalan Trans Sulawesi di wilayah Luwu Raya diblokade, sehingga arus kendaraan dialihkan ke jalur laut. / Wahdaniar 

TRIBUN-TIMUR.COM - Distribusi logistik lintas provinsi terganggu setelah Jalan Trans Sulawesi di Luwu Raya diblokade.

Luwu Raya meliputi Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur.

Dampaknya, truk-truk barang mengantre panjang di Pelabuhan Penyeberangan Bajoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan untuk menyeberang ke Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Selain truk logistik, kendaraan pribadi juga harus menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk mendapat jadwal keberangkatan.

Lonjakan arus kendaraan tidak sebanding dengan kapasitas angkut kapal yang tersedia.

Sejumlah kapal besar sedang menjalani perawatan (docking), sehingga operasional hanya mengandalkan kapal berukuran lebih kecil.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala UPP Kelas II Bajoe, Muhammad Taufan, membenarkan salah satu kapal terbesar saat ini tidak beroperasi.

"Kebetulan KMP Kota Bumi itu kapal yang paling besar lagi docking. Jadi tinggal kapal-kapal kecil," ujarnya, Rabu (18/2/2026).

Dampak terbesar berasal dari penutupan total jalur darat di Luwu Raya.

Jalur tersebut selama ini menjadi akses utama menuju Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah tanpa melalui penyeberangan laut.

Penutupan akses memaksa kendaraan memutar dan memilih jalur laut, baik melalui Bajoe maupun Pelabuhan Siwa di Kabupaten Wajo.

Lonjakan terjadi bersamaan di dua pelabuhan tersebut.

"Imbas daripada penutupan Luwu Raya. Enggak bisa akses. Terpaksa lewat Bajoe," katanya.

Taufan mengakui penumpukan kendaraan memang terjadi.

Pihaknya berupaya mengatur keberangkatan dan memberlakukan perjalanan tambahan atau sistem pulang-pergi untuk mengurai antrean.

Namun situasi kali ini dinilai tidak biasa karena lonjakan terjadi mendadak di tengah berkurangnya jumlah kapal beroperasi.

Ia menambahkan, antrean paling ekstrem justru terjadi di Pelabuhan Siwa.

"Di Siwa saja, itu mobil bermalam delapan hari," ungkapnya.

Penambahan kapal tidak dapat dilakukan secara instan karena operasional berada di bawah kewenangan perusahaan pelayaran sesuai trayek yang telah ditetapkan.

Selain faktor jalur darat dan keterbatasan armada, kondisi cuaca sempat memengaruhi proses penyeberangan.

Meski begitu, seluruh operasional tetap mengacu pada rekomendasi BMKG demi keselamatan pelayaran.

Ia memastikan cuaca mulai membaik dan aktivitas penyeberangan berangsur normal, meski antrean kendaraan belum sepenuhnya terurai.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved