Setahun Barru Dipimpin Perempuan
Ema Husain: Andi Ina Bukan Sekadar Bupati Barru, tapi Jawaban Gerakan Perempuan
Pertarungan politik yang dilalui Andi Ina, sejak maju calon bupati hingga terpilih telah mengubah simbol politik yang selama ini dipimpin laki-laki.
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Alfian
TRIBUN TIMUR.COM, MAKASSAR - Aktivis perempuan Husaimah Husain menilai kehadiran Andi Ina Kartika Sari sebagai Bupati Kabupaten Barru bukan sekadar kepala daerah.
Menurut perempuan yang karib disapa Ema Husain itu menyebut hal tersebut menjadi jawaban atas perjuangan panjang gerakan perempuan dalam merebut ruang politik yang setara.
Selama ini, jabatan Bupati Barru selalu dipegang laki-laki.
Andi Ina pun mencatatkan sejarah sebagai perempuan pertama yang menakhodai daerah berjuluk Kota Santri tersebut.
Penilaian tersebut disampaikan Ema Husain dalam dialog publik bertajuk “Barru dalam Nahkoda Perempuan: Setahun Kepemimpinan Andi Ina Kartika Sari” yang digelar Tribun Timur di Kantor Redaksi Tribun Timur, Jalan Cenderawasih, Makassar, Selasa (17/2/2026) sore.
“Dari sisi gerakan perempuan, kehadiran beliau sebagai Bupati Barru bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi menjadi jawaban atas perjuangan panjang perempuan,” ujar Emma.
Menurut Emma, pertarungan politik yang dilalui Andi Ina, sejak maju sebagai calon bupati hingga terpilih telah mengubah simbol politik yang selama dipimpin laki-laki.
Baca juga: Andi Luhur: Politik Barru Kini Lebih Kompak di Bawah Andi Ina
Kehadiran Andi Ina dinilai membuat simbol-simbol kepemimpinan perempuan menjadi nyata di ruang publik.
“Selama ini kepemimpinan selalu dianggap milik laki-laki. Andi Ina datang dan mengubah itu. Ia membuat simbol kepemimpinan perempuan menjadi real. Namun tentu perjuangan tidak berhenti pada simbol,” tegasnya.
Ema mengatakan, tantangan berikutnya adalah bagaimana simbol tersebut diterjemahkan menjadi gerakan substantif yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya perempuan.
Ia menilai kepemimpinan perempuan harus diukur dari sejauh mana kebijakan dan keputusan politik berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan nyata.
Hanya saja, ia mengungkapkan masih adanya ketimpangan gender di Barru.
Baca juga: Dialog Publik Setahun Kepemimpinan Andi Ina, Pengamat Ungkap Ukuran Keberhasilan Kepala Daerah
Dalam konteks kemiskinan, Ema menyebut perempuan kerap menghadapi kemiskinan yang bersifat struktural dan berlapis.
“Kalau laki-laki mungkin miskin satu atau dua dimensi, perempuan bisa mengalami kemiskinan berlapis, bahkan sampai lima dimensi,” ujarnya.
Selain itu, Ema juga menyinggung persoalan stunting yang menurutnya berkaitan erat dengan kemiskinan dan praktik perkawinan anak.
| Andi Ina Kartika Sari Buktikan Jaringan Penting: Kisah Sekolah Rakyat di Lahan 7 Hektare di Barru |
|
|---|
| Angka Kemiskinan Barru Turun di Tengah Tekanan Fiskal |
|
|---|
| Dialog Publik Setahun Kepemimpinan Andi Ina, Pengamat Ungkap Ukuran Keberhasilan Kepala Daerah |
|
|---|
| Andi Ina Paparkan Penurunan Angka Kemiskinan Barru di Tengah Tekanan Fiskal Daerah |
|
|---|
| Setahun Kepemimpinan Andi Ina di Barru, Muh Asratillah: Kolaborasi dan Inovasi Jadi Kunci |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260218-Andi-Ina-dan-Ema-Husain.jpg)