Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Akademisi Unhas Bedah Buku Pilpres 2024 Karya Todung Mulya Lubis

Akademisi Unhas bedah 3 buku Pilpres 2024 karya Todung Mulya Lubis, membahas hukum, etika, dan psikologi dalam sengketa Pilpres 2024.

Penulis: Rudi Salam | Editor: Sukmawati Ibrahim
Rudi Salam/Tribun Timur
Diskusi dan bedah buku karya Todung Mulya Lubis di Makassar membahas Pilpres 2024, menggabungkan perspektif hukum, etika, dan psikologi. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Dua akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Hasrullah dan Fajlurrahman Jurdi, membedah tiga buku terkait Pilpres 2024 karya Dr. Todung Mulya Lubis

Bedah buku ini berlangsung saat Peluncuran dan Diskusi Buku dengan tema Pilpres 2024: Antara Hukum, Etika, dan Pertimbangan Psikologis di Ruang Balla 1 Hotel Santika, Jalan Sultan Hasanuddin, Makassar, Kamis (12/12/2024).

Peluncuran dan diskusi buku karya diplomat dan ahli hukum penyelesaian sengketa ini dipusatkan di Jakarta dan tersambung secara hybrid di beberapa kota, termasuk Makassar.

Adapun tiga buku terkait Pilpres 2024 yang ditulis Todung Mulya Lubis dan kawan-kawan berjudul Antara Hukum dan Politik: Membedah Putusan MK dalam Sengketa Pilpres 2024, Keadilan Elektoral di MK, dan Suara Publik Bergaung di MK.

Dalam sambutannya, Todung Mulya Lubis menyoroti pelaksanaan Pilpres 2024 yang menghadirkan perdebatan yang tidak hanya berkaitan dengan hukum, tetapi juga politik, etika, dan psikologi. 

Menurutnya, di tengah pertarungan dalil dan bukti di ruang sidang utama gedung MK antara tiga tim hukum pasangan calon, publik juga menyuarakan kegelisahan mereka melalui amicus curiae atau pandangan para sahabat pengadilan.

“Kita harus berani mengkaji dengan kritis. Pemilu, Pilpres, dan Pilkada memiliki sifat konstitusional. Seperti sengketa Pilpres. Kita sudah melihat tanda-tanda hukum dikebiri, ketika ada wacana perpanjangan masa jabatan Pilpres,” katanya.

Ketiga buku ini menyajikan beberapa suara publik yang bergaung selama 14 hari kerja, terhitung sejak permohonan sengketa diregistrasi oleh Kepaniteraan MK. 

Selain suara publik, buku ini juga menyajikan dinamika persidangan dan pernak-pernik yang mewarnainya.

Akademisi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas, Dr. Hasrullah, menilai bahwa buku ini sangat relevan dan menjadi catatan sejarah. 

Ia pun mengapresiasi penulis, karena yang dilakukannya merupakan sebuah gerakan intelektual dan sosial.

“Ini tidak hanya untuk kepentingan hukum, tapi bagi orang kampus, buku ini merupakan hasil penelitian yang dilahirkan di masa Pilpres 2024 untuk melihat dari perspektif hukum dan politik,” katanya.

Sementara itu, Akademisi Hukum dan Tata Negara Unhas, Fajlurrahman Jurdi, menilai bahwa ketiga buku ini memiliki materi yang serupa, namun konten dan analisisnya berbeda.

“Buku ini penting bagi peneliti dan dosen untuk menyimpan memori dan intelektualitas,” kata Fajlurrahman. (*)

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved