Kilas Tokyo
Kota Siap Bencana
Pertama, kontinyu mempersiapkan infrastruktur maju dan start mempromosikan beragam teknologi bencana.
Oleh : M. Zulkifli Mochtar
Dunia terus menghadapi ancaman bencana alam.
Butuh banyak momen untuk mengingatkan kita bahwa bencana alam bisa terjadi setiap saat, sekaligus tidak melupakan bencana yang sudah pernah terjadi.
Generasi kita yang lahir kedepan harus tahu bahwa gempa seperti Palu tahun 2018, Sulbar tahun 2021, Aceh tahun 2004, Bantul-Yogya tahun 2006 dan gempa dahsyat lain pernah menghancurkan kota kota mereka.
Untuk menuju kota yang lebih bersiap bencana, setidaknya kita butuh segera menyiapkan tiga langkah penting.
Pertama, kontinyu mempersiapkan infrastruktur maju dan start mempromosikan beragam teknologi bencana.
Di infrastruktur, berbagai langkah-langkah struktural seperti perbaikan sungai, bendungan dan sewage system tidak boleh berhenti dilakukan dilakukan.
Mari kita lihat cara cara Jepang mempersiapkan diri menghadapi bencana.
Untuk banjir misalnya, kota Tokyo punya yang komprehensif.
Salah satu aplikasinya dengan membangun Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel atau G-Cans, semacam terowongan tangki air raksasa bawah tanah sebagai pertahanan utama kota melawan banjir.
G-Cans adalah sistem drainase yang prinsipnya cukup sederhana.
Air dari berbagai wilayah kota akan dialirkan melalui sumur selebar sepuluh meter ke dalam lima kolam beton raksasa yang memiliki ketinggian 65 meter dan lebar 32 meter.
Kanal bawah tanah ini mulai dibangun sekitar 14 tahun sejak tahun 1992 dan selesai tahun 2006 dan menghabiskan dana sekitar dua miliar Dollar AS atau sekitar 26 triliun Rupiah.
Inilah salah satu tameng kota Tokyo sehingga terhindar dari bencana banjir.
Langkah Kedua, penerapan regulasi bencana maju dan kuat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/dr-m-zulkifli-mochtar-st-meng-pengasuh-tetap-kolom-kilas-tokyo-setiap-sabtu.jpg)