Kilas Tokyo
Kota Siap Bencana
Pertama, kontinyu mempersiapkan infrastruktur maju dan start mempromosikan beragam teknologi bencana.
Resiko paling besar ketika bencana adalah runtuhnya bangunan dan terjadinya kebakaran hebat.
Di tahun 2005 “Urgent Countermeasures Guidelines for Promoting the Earthquake Resistant Construction of Houses and Buildings” disusun untuk penegakan konstruksi rumah bangunan tahan gempa secara ketat.
Menurut pemerintah Jepang dalam laporan ‘Disaster Management in Japan’, di tahun 2008 diperkirakan masih ada sekitar 21 persen dari tempat tinggal yang tidak cukup tahan gempa.
Umumnya bangunan bangunan tua yang sudah dibangun sebelum peraturan ketat tahan gempa diterapkan.
Resiko besar bencana juga terjadi nya kebakaran.
Kota Tokyo misalnya berusaha menghindarkan kota dari kemungkinan kebakaran dengan mengembangkan pola firebreak belt dan mengatur regulasi rebuilding rumah rumah tua kayu menjadi bangunan tempat tinggal bersama yang modern terutama di distrik sempit padat penduduk.
Langkah Ketiga, mendorong penguatan Preparedness dan Disaster Education ke masyarakat secara menyeluruh.
Meeting point evakuasi ketika terjadi bencana harus dipersiapkan dan disosialisasikan secara baik menyeluruh di setiap lingkungan masyarakat.
Masyarakat juga harus distimulasi untuk start memprsiapkan Emergency Supplies bekal persediaan darurat saat bencana benar benar terjadi.
Pendidikan bencana dan latihan evakuasi di sekolah dan perusahaan juga harus dilakukan dilakukan secara kontinyu dan reguler.
Edukasi diperkuat agar masyarakat punya pemahaman benar dan bisa bertindak sendiri secara tepat untuk mengurangi resiko bencana.
Hasilnya terlihat jelas; ketika Great East Japan Earthquake terjadi tahun 2011, para siswa sebuah sekolah dasar bisa dievakuasi aman berkat edukasi bencana dan latihan cara evakuasi mereka.
Memang mustahil bagi sebuah kota memastikan seratus persen bahwa wilayahnya akan bebas dari bencana.
Makanya negara didunia terus mencoba berbagai cara penanganan.
Salah satu kota yang dianggap maju dalam memerangi banjir yakni Rotterdam Belanda misalnya, setelah bencana banjir besar tahun tahun 1953, mereka membuat banyak dam, bendungan, memperbanyak taman dan area publik penampung air darurat.
Kota kota kita juga seharusnya memiliki kemampuan dalam antisipasi, pencegahan, serta persiapan yang makin baik dan canggih dari waktu ke waktu. Persiapan baik pun terkadang hasilnya tidak sesuai harapan.
Tapi sesuatu yang tanpa persiapan, kehancuran dan kerugian akan jauh lebih besar lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/dr-m-zulkifli-mochtar-st-meng-pengasuh-tetap-kolom-kilas-tokyo-setiap-sabtu.jpg)