Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Banyak Pasien Tak Sadar Terinfeksi TBC, Ulasan dr Nurjannah Cara Penanganannya

Banyak pasien enggan memeriksakan diri atau berhenti minum obat di tengah jalan karena merasa sudah sembuh.

Penulis: Risma Syam | Editor: Saldy Irawan
DOK PRIBADI
dr Nurjannah Lihawa 2025 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR  Stigma dan kurangnya pengetahuan masih menjadi penghambat utama dalam penanganan penyakit tuberkulosis (TBC).

Banyak pasien enggan memeriksakan diri atau berhenti minum obat di tengah jalan karena merasa sudah sembuh.

Padahal, TBC bisa disembuhkan total jika diketahui sejak dini dan ditangani secara konsisten hingga tuntas.

"Masih banyak pasien yang malu memeriksakan diri dan menghentikan pengobatan di tengah jalan karena merasa sudah sehat," kata dr Nurjannah Lihawa, SpP(K), saat diwawancarai via telepon, Jumat (18/7/2025) sore.

Pengobatan TBC bukan hanya soal menyembuhkan diri sendiri, tapi juga mencegah penyebaran penyakit ke orang lain.

Namun hingga saat ini, masih ada yang meremehkan proses pengobatan dan berhenti di tengah jalan.

"Kalau pengobatannya tidak tuntas, dampaknya bukan cuma ke dirinya sendiri, tapi juga ke orang-orang terdekatnya," jelas dr Nurjannah Lihawa, yang akrab disapa dr. Nuke.

dr Nuke menyebut ada dua konsekuensi besar jika penderita TBC tidak menjalani pengobatan dengan benar.

Pertama, kerusakan paru-paru bisa menjadi permanen, bahkan setelah kuman TBC dinyatakan mati.

"Kerusakan paru akan sangat luas, sehingga penyembuhannya tidak sempurna. Artinya, pasien akan tetap minum obat dan kumannya mati. Tapi kerusakan paru yang ada di tubuhnya akan menjadi gejala sisa untuk seumur hidupnya," jelasnya.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, lanjutnya, yaitu risiko munculnya TBC kebal obat (MDR-TB) jika pasien tidak disiplin minum obat.

"Kuman bisa kebal. Kalau sudah masuk tahap ini, pengobatannya jadi jauh lebih sulit, lama, dan mahal," ungkapnya.

Selain itu, penderita TBC yang tidak berobat tuntas juga berpotensi menularkan penyakit ini ke lingkungan sekitar.

"Inilah kenapa TBC seperti tidak ada habisnya dan sering dikira penyakit keturunan. Satu orang bisa jadi sumber penularan kalau dia tidak berobat dengan benar," tegasnya.

Gejala TBC sering kali tidak disadari sejak awal. Pasien hanya mengira dirinya sedang flu biasa atau kelelahan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved