Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

BRIN-UNM Kerja Sama Perkuat Publikasi Ilmiah Bereputasi Internasional

Herry Jogaswara menegaskan publikasi berkualitas tidak lahir dari kerja individu semata tetapi membutuhkan sinergi dan kolaborasi

|
Editor: Ari Maryadi
UNM
MOU PENELITIAN - Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Jogaswara bersama Sekretaris LP2M UNM Amirullah Abduh menandatangani kerja sama penguatan kualitas publikasi ilmiah bereputasi. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggandeng Universitas Negeri Makassar (UNM) untuk memperkuat kualitas publikasi ilmiah bereputasi.

Kerja sama ini diwujudkan melalui penyelenggaraan kuliah umum bertajuk "Filsafat Bahasa dalam Publikasi Internasional Bereputasi" di Kawasan Sains Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, sekaligus penandatanganan perjanjian kerja sama kelembagaan antara BRIN dan UNM.

Kegiatan ini bertujuan membangun pemahaman mendalam tentang landasan filosofis publikasi ilmiah sekaligus memperkuat ekosistem riset kolaboratif.

Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Jogaswara, menegaskan publikasi berkualitas tidak lahir dari kerja individu semata, tetapi membutuhkan sinergi dan kolaborasi bermakna antarinstitusi. 

"Kolaborasi ini bukan sekadar formalitas, tapi lahir dari gagasan bersama dan diskusi intensif, serta menghasilkan luaran yang terukur secara ilmiah dan berdampak sosial," kata Herry Jogaswara Selasa (24/6/2025).

Dalam kuliah umum, Sekretaris LP2M UNM Amirullah Abduh menekankan pentingnya filosofi ilmu sebagai fondasi dalam menulis publikasi ilmiah. 

Ia memaparkan tiga prinsip utama yang harus dipegang dalam publikasi, yaitu koherensi, yakni kesesuaian logis dengan teori yang telah ada; Korespondensi, sebagai validasi temuan di lapangan; dan pragmatisme, yaitu kebermanfaatan sosial dari riset yang dilakukan.

"Kalau riset hanya jadi angka, tidak akan bertahan. Tapi jika memberi solusi, ia akan bertahan lebih lama di tengah masyarakat," tegasnya.

Amirullah juga mengingatkan bahwa publikasi bukan sekadar pemenuhan administrative, seperti keluaran kerja minimal (KKM) atau hasil kerja minimal (HKM).

"Kita menulis untuk menyampaikan gagasan yang dapat diuji dan memberi dampak," katanya.

Ia menambahkan bahwa aspek bahasa dalam publikasi juga penting, termasuk ketepatan penggunaan tense untuk menegaskan relevansi temuan.

"Jika temuan kita bersifat lintas waktu, gunakan present tense untuk menunjukkan keberlakuannya yang terus-menerus," jelasnya.

Lebih jauh, ia menyoroti bahwa banyak penulis kurang cermat dalam mendeskripsikan metodologi, khususnya jenis wawancara yang digunakan.

Kesalahan mendasar seperti ini, menurutnya, dapat merusak validitas dan berujung pada penolakan naskah oleh jurnal bereputasi. 

“Wawancara itu ada jenisnya—terstruktur, semi-terstruktur, atau tidak terstruktur. Jika tidak dijelaskan, reviewer akan meragukan validitas data kita,” ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved