Tribun UMKM
Perjuangan 3 Dekade Radiah Kenalkan Jagung Marning Khas Bulukumba Hingga Tembus Pasar Nasional
Makanan ringan tradisional ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Bulukumba sejak abad ke-16.
Penulis: Samsul Bahri | Editor: Alfian
TRIBUN-TIMUR.COM, BULUKUMBA - Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tidak hanya dikenal dengan keindahan wisata baharinya yang mendunia.
Daerah di ujung selatan Sulawesi ini juga memiliki kekayaan kuliner tradisional yang melegenda, salah satunya adalah jagung marning, atau dalam bahasa Bugis dikenal sebagai bata wutte.
Makanan ringan tradisional ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Bulukumba sejak abad ke-16.
Dahulu, bata wutte dibuat secara sederhana oleh para orang tua sebagai camilan rumahan.
"Dulu orang tua kita sering buat bata wutte, jagung kering yang digoreng begitu saja," ujar Hj. Radiah, Sabtu (21/6/2025), pelaku usaha jagung marning yang sukses membangkitkan kembali makanan tradisional ini.
Pada masa lalu, belum banyak jenis makanan ringan modern seperti sekarang.
Namun demikian, bata wutte belum dianggap layak jual.
Melihat potensi tersebut, Hj. Radiah mulai berpikir untuk menjadikannya sebagai peluang usaha.
Awal Perjalanan Usaha
Memasuki tahun 1990-an, Hj. Radiah mulai melakukan eksperimen untuk menciptakan resep jagung marning yang lebih menarik dan bisa diterima pasar.
Selama sekitar satu minggu, ia melakukan percobaan hingga menemukan racikan yang pas.
Setelah dianggap cukup layak, produk tersebut ia bagikan kepada kerabat untuk dicicipi.
"Beberapa kali saya kasih coba ke kerabat dulu. Setelah mereka bilang enak, barulah saya mulai jual," kenangnya.
Saat itu, Radiah belum memiliki cukup modal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/JAGUNG-MARNING-Hj-Radiah-ditemani-sang-cucu-packing-snack-jagung-marning.jpg)