Alan TH dan Anwar Jimpe Hidupkan Lagi Matthes di Kampung Buku Makassar
BF Matthes adalah pendeta Lutheran, filolog, etnograf Bugis-Makassar dari Universitas Leiden Belanda.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Novelis cum sastrawan Indonesia, Alan TH (54), dan pegiat literasi Makassar, Anwar Jimpe Rahman (46), menghabiskan sore Senin (24/3/2025) mereka, dengan mendongengkan Benjamin Frederik Matthes (1818-1908) di Kampung Buku, Jl Abdullah Dg Sirua, Kelurahan Pandang, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Sulsel.
BF Matthes adalah pendeta Lutheran, filolog, etnograf Bugis-Makassar dari Universitas Leiden Belanda.
Matthes juga karib kerja l Colliq Pudjie (1812-1876), bangsawan Bugis, dari Kedatuan Tanete, Barru.
Keduanya berkolaborasi untuk selamatkan sekira 210 ribu bait naskah epos I Lagaligo.
Matthes lahir di Amsterdam, 16 Januari 1818, dan meninggal di kota Nijmegen, Belanda, 9 Oktober 1908.
Bersama nona CN Engelenburg, istri BF Matthes, dia mukim dan keliling Sulsel selama 23 tahun di Sulsel.
Keduanya didampingi Rezky Ramadhani (dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas), sebagai pembanding.
Alan TH adalah alumnus sastra Inggris Universitas Nasional (Unas), angkatan 1995, dan dua dekade bermukim di Jakarta.
Otobiografi Matthes ditulis dalam genre novel sejarah.
Terbit November 2024 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta.
Ini adalah karya pertama dari trilogi Alan TH; termasuk karya Colliq Pudjie.
Novel Matthes terdiri dari 24 bab, dalam 443 halaman.
Isinya biografi sejarah perantauan Matthes di jazirah selatan Sulawesi.
Anwar Jimpe Rahman, insiator diskusi buku ini, menyenut novel Matthes adalah pintu masuk memahami Bugis - Makassar secara utuh.
"Matthes lebih dulu kurang satu abad dari (Christian) Pelras yang cuma lebih 20 tahun di sini," ujarnya, usai diskusi yang dipandu Rahmat Kamaruddin, fellow Westminster Foundation for Democracy (WFD) Political Inclusion Fellowship 2024.
Di mata Jimpe, bersama Collieq Pudjie, Matthes asalah sosok intelektual Eropa pertama yang mendalami manusia Bugis-Makassar, langsung dari kitab utama Bugis, I La Galigo.
Jimpe mengurai, ketidak pupuleran Matthes di Indonesia, karena predikatnya sebagai penginjil.
"Tugas utamannya dari Belanda adalah menerjemahkan Injil kedalam bahasa Bugis. Namun, di tengah misinya dia jatuh cinta dengan La Galigo. Sampai hari ini, kita tak pernah dengar Injil bahasa Bugis karya Matthes," ujar alumnus Hubungan Internasional Unhas ini.
Rezky Ramadhan menyebut, diskusi dan bedah buku ini bersejarah.
"Sudah lama saya baca nama Matthes. Dosen saya, Prof Nurhayati Rahman sering menyebut namanya. Namun, baru kali ini dapat bukunya," ujar dosen sastra Inggris, Unhas ini.
Alan mengklaim novel ini debut biografi Mathhes.
"Di Wiki hanya secuil. Di Perpustakaan Unhas nihil. Saya dapat ini dari perpustakaan besar di Jakarta. itu karya Herman van der Brink (1920) dalam bahasa Belanda." ujar Alan TH.
Raka, sapaan akrab Rachmat Kamaruddin, juga mengkinfirmasi disksusi Matthes ini pertama di Indonesia.
Raka adalah Personal Leadership Project (PLP), Westminster Foundation for Democracy (WFD) Political Inclusion Fellowship 2024.
Fellow. Dia juga aktivis PP Tidar.
Diskusi dihadiri sekitar 30-an pegiat literasi, akademisi, jurnalis, dan mahasiswa.
Matthes sebagai tokoh sejarah jarang disebut ketika orang zaman sekarang membicarakan tentang I La Galigo dengan segala kebesarannya.
Matthes sebagai ahli bahasa, filolog, etnograf, penyusun kamus Bugis-Makassar-Belanda dan tata bahasa Bugis dan Makassar mula-mula pun kurang dikenal karya-karyanya.
Orang lebih tahu Matthes sebagai misionaris utusan NBG alias Lembaga Alkitab Belanda, yang ditugaskan ke Sulawesi Selatan untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bugis dan Makassar.
Benar, misi Matthes adalah menerjemahkan Alkitab, tapi ia sadar menerjemahkan itu bukanlah mengganti kata-kata dari bahasa yang satu dengan bahasa lainnya.
Menerjemahkan menuntut kemampuan memindahkan rasa bahasa dengan pengertian yang akurat.
Untuk sampai ke tarap itu Matthes harus menguasai kesusastraan dan mengerti budaya masyarakat penutur bahasa Bugis dan Makassar.
Ia bertemu dengan penggalan demi penggalan lontaraq I La Galigo. Sejak awal ia bisa mencium tingginya nilai susastra I La Galigo.
Niat mengumpulkan seluruh penggalannya didorong oleh kesadaran bahwa dirinya tidak mungkin bisa menerjemahkan Alkitab jika tak sanggup mengumpulkan seluruh naskah I La Galigo dan mempelajarinya dengan baik.
Dalam perjalanannya, Matthes bertemu dengan Ratu Tanette Colliq Pujie yang kehilangan haknya atas takhta Kedatuan Tanette, karena penentangannya terhadap kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di Sulawesi Selatan, terutama di Tanette.
Colliq Pujie dihukum dengan hukum kolonial lalu diasingkan ke Makassar.
Di rumah pengasingan itulah Matthes dan Colliq Pujie menyalin dan mengumpulkan sepenggal demi sepenggal I La Galigo hingga mencapai 225.000 bait lebih puisi epik, yang lebih panjang dari epik Mahabaratha.
Sebelum mulai menerjemahkan Alkitab, Matthes sudah lebih dulu menerbitkan 33 Karya yang mencakup bahasa, kesusastraan, etnografi, geografi, dan lain-lain, yang semuanya berhubungan dengan Bugis, Makassar, dan Sulawesi Selatan.
Siapapun yang ingin tahu lebih dalam tentang “Inklusivitas Matthes” dalam novel Matthes, silakan hadir di acara Bedah Buku dan Diskusi tentang MATTHES DAN INKLUSIVITAS di KAMPUNG BUKU, pada Senin, 24 Maret 2025.
Hampir selama 23 tahun ia berkeliling Sulawesi Selatan dan ia sempat dua kali pergi ke Belanda tahun 1858-1861 dan 1870-1876.
Ia meninggal pada tahun 1906 dan dikebumikan di negerinya.
Christian Pelras (17 Agustus 1934 – 19 Juli 2014) adalah seorang etnolog Prancis
Benjamin Frederik Matthes(Amsterdam, 16 Januari 1818 - Nijmegen, 9 Oktober 1908) adalah seorang penerjemah dan ahli bahasa Alkitab Belanda.
Pendeta Gereja Lutheran yang kemudian bekerja sebagai wakil direktur di N.Z.G Rotterdam. Pada tahun 1848 ia dianugerahi gelar doktor honoris causa dari Universitas Leiden, dan pada tahun yang sama pula Ia menikah dengan nona C. N. Engelenburg.
Setelah berlayar selama 112 hari bersama sang istri, ia mendarat di Batavia pada tanggal 28 Oktober 1848.
Dia baru tiba di Sulawesi Selatan pada tanggal 20 Desember 1848.
Ditulis sebagai "syair kepahlawanan yang dibacakan dengan suara bernyanyi," Raffles malah menganggap I La Galigo nama penulis epos tersebut.
Seiring waktu, ketertarikan juga diperlihatkan pemerintah Kolonial Belanda.
Pada tahun 1847, Benjamin Frederik Matthes ditunjuk oleh pengurus organisasi Alkitab Belanda (Nederlandsch Bijbelgenootschap) untuk meneliti sastra Bugis, termasuk I La Galigo, secara ilmiah langsung di Sulawesi Selatan.
Selain itu, Matthes juga ditugasi menjadi misionaris, serta menerjemahkan Alkitab ke bahasa Bugis dan bahasa Makassar.(*)
| Lorong Bebas Sampah di RW Bontolebang, Cara Sulaiman Jaga Drainase Makassar |
|
|---|
| Efek Perang Iran-AS, Permintaan SPKLU dan Home Charging Mobil Listrik Makassar Naik |
|
|---|
| Pengamat: Pembelajaran Jarak Jauh Berisiko Tekan Ekonomi Lokal Kampus |
|
|---|
| 4 Bulan Air Tak Mengalir, Warga Daya Tetap Dipalak PDAM Makassar: Uangnya Kemana? |
|
|---|
| Harga Bahan Pokok Naik Di Pasar Pamos Cendrawasih, Pembeli: Kecil Sekali Sekarang Tahu dan Tempe |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/NOVEL-MATTHES-Novelis-sejarah-Alan-TH.jpg)