Opini Muhammad Arsyad
Pelestarian Gletser
Istilah gletser untuk masyarakat Sulawesi Selatan, boleh jadi tidak terlalu akrab karena memang yang dikenal hanya air dan sejenisnya.
Kejadian banjir di bulan Pebruari 2025, tercatat lebih dari 4.000 keluarga terdampak banjir di Kabuppaten Maros. Luapan air bahkan merendam hampir semua wilayah daratannya.
Ketinggian air di sebagian wilayah mencapai 2 meter. Hal ini menyebabkan arus lalu lintas di jalan poros Trans-Sulawesi di Maros bahkan lumpuh.
Sementara kota Makassar, terutama di 4 (empat) kecamatan, yakni Manggala, Biringkanaya, Panakukang dan Tamalanrea dengan jumlah total pengungsi 2.196 dari 622 KK. Mudah-mudahan kejadian hujan ekstrim seminggu terakhir ini tidak lagi menyebabkan warga mengungsi.
Namun, pada musim kemarau keadaan menjadi terbalik kebutuhan air semakin meningkat. Sekitar 97 persen dari ketersediaan air tersebut adalah air asin, dan hanya 2,5 persen saja yang merupakan air tawar (fresh water).
Malahan dari 2,5 persen itu hanya 0,4 persen saja yang dikonsumsi oleh penduduk bumi.
Penduduk Indonesia tahun 2024 ini sudah mencapai 279,152 juta jiwa atau 3,45 persen populasi dunia.
Penduduk Sulawesi Selatan sekitar 9,07 juta jiwa dan Kota Makassar melebihi 2juta orang di siang hari.
Kebutuhan air untuk kawasan Maminasata saja dengan pelayanan eksisting PDAM Makassar akan dipenuhi pada tahun 2027.
Artinya, ketersediaan air bersih bagi warga masyarakat masih diusahakan tahun 2025 ini dengan melakukan pemasangan pipa sepanjang 4 km, dari Pabaengbaeng melewati Jalan Veteran sampai di utara kota.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air minum hingga tahun 2037 meningkat mencapai 6.346 liter per detik sehingga diperoleh kebutuhan sebesar 3.201 liter per detik.
Proyeksi ini akan melengkapi proyeksi kebutuhan air minum total untuk Kawasan Mamminasata sebesar 7.080 liter/s pada tahun 2025.
Ekonomi Sulsel diharapkan tumbuh 4,8-5,6 persen di tahun 2025, apalagi pertumbuhan ekonomi kota Makassar menginginkan pertumbuhan yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi propinsi.
Pertumbuhan ekonomi mempersyaratkan ketersediaan air bagi industri, permukiman baru, mobilitas warga, dan kebutuhan lainnya.
Air menjadi kebutuhan hidup dan sangat menentukan akan menjadi langka jika tidak dipelihara. Jadi kebutuhan air sedemikian tinggi dan ketersediaan yang semakin terbatas menjadi buah simalakama.
Akibatnya, konflik antar warga bisa saja terjadi. Hal ini telah diungkapkan oleh Steven Solomon, dalam bukunya Water: The Epic Struggle for Wealth, Power, and Civilization.
Solomon mengungkapkan bahwa “kelangkaan pasokan air dapat menurunkan keamanan nasional dan meningkatkan terorisme di semua negara di dunia.”
Malahan, Sekjen PBB Ban Ki Moon mengatakan, bahwa kelangkaan air akan menyebabkan kemiskinan. Kelangkaan ini akan menimbulkan konflik sosial yang tidak terbayangkan dahsyatnya. Selanjutnya, dikatakan bahawa negara dengan kelangkaan air akan mengalami kesulitan sosial dan pembangunannya pun terhambat.
Kemudian, kelangkaan air juga akan menciptakan ketegangan di kawasan rawan konflik. Kawasan yang masih mempunyai sumber air akan diinvasi oleh kekuatan yang mempunyai senjata dan ekonomi untuk memperoleh air.
Akan ada saatnya, ketika seseorang membutuhkan air, ia akan membawa senjata. Bahkan yang lebih parah lagi, banyak pakar yang menyatakan bahwa perang dunia berikutnya akan disebabkan oleh perebutan sumber air bersih.
Artinya, perlu kewaspadaan ditumbuhkan untuk menjaga dan memelihara sumberdaya air, terutama di era otonomi daerah saat ini.
Untuk hal ini, maka terpeliharanya gletser dan semua sumber air terus dipertahankan oleh Pakar Air dan Iklim terus digaungkan karena: (1) gletser melindungi beberapa ekosistem di sekitarnya, (2) gletser adalah penyedia air tawar untuk kawasan sekitarnta, (3) gletser menjadi obyek penelitian bagi ilmuwan, terutama untuk fenomena perubahan iklim, (4) gletser sebagai pengatur temperatur bumi secara keseluruhan, dan (5) lainnya.
Warga masyarakat hendaknya dibiasakan untuk terus beradaptasi dengan lingkungan akibat dampak yang ditimbulkannya dan sumbangan terhadap perubahan iklim, PBB percaya bahwa setiap individu di planet ini dapat melindungi kesehatan dan menyelamatkan nyawa.
Sejalan dengan peringatam Hari Air se Dunia, Penulis mengajak semua pemangku kepentingan untuk kembali merenung dan memikirkan bahwa air adalah anugrah dan setiap warganegra mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk “menikmati” anugrah tersebut.
Anugrah ini hendaknya diartikan dalam skala luas, baik dari segi memelihara, melindungi dan mengolah titipan anak cucu kita, sehingga keberadaannya dijadikan sebagai modal awal untuk kesejahteraan bersama.-
| Tekad Tomas Trucha Bersama PSM Makassar Bangkit Putaran 2 Super League |
|
|---|
| Polisi Tetapkan 1 Tersangka Kasus Pembalakan Hutan Lindung Tombolopao Gowa |
|
|---|
| Sisir Utara Makassar, Polisi Tangkap Pemuda Pembuat Anak Panah dan Bersenjata Airsoft Gun |
|
|---|
| Dapur MBG Milik Polres Gowa Berdiri di Bajeng Barat, Diresmikan Wakil Bupati dan Ketua DPRD |
|
|---|
| Promo Diler Mobil Awal Tahun: DP Mitsubishi 15 Persen, Toyota Gratis Servis 7 Kali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhammad-Arsyad76.jpg)