Opini Muhammad Arsyad
Pelestarian Gletser
Istilah gletser untuk masyarakat Sulawesi Selatan, boleh jadi tidak terlalu akrab karena memang yang dikenal hanya air dan sejenisnya.
Oleh: Muhammad Arsyad
Guru Besar Fisika Ekosistem Karst pada FMIPA UNM Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Hari ini, 22 Maret diperingati sebagai hari Air se Dunia. Tema tahun 2025 ini adalah ‘Glacier Preservation’ yang oleh penulis diterjemahkan menjadi pelestarian gletser.
Istilah gletser untuk masyarakat Sulawesi Selatan, boleh jadi tidak terlalu akrab karena memang yang dikenal hanya air dan sejenisnya.
Namun, karena ini menarik untuk dikaji, maka penulis menjadikannya sebagai judul artikel. Peringatan hari Air se Dunia pertama kali dideklarasikan pada Sidang Umum ke-47 PBB, 33 tahun lalu tepatnya tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brasil.
World day for water adalah perayaan yang ditujukan sebagai usaha untuk menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih dan usaha penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan.
Tema ini menjadi perhatian utama karena keberadaan gletser – keberadaannya di daerah kutub dan puncak gunung – di dalam proses kesehariannya, dapat memengaruhi keadaan air di suatu kawasan.
Hari Air se Dunia menunjukkkan perayaan dan penghormatan atas ketersediaan air bagi hidup makhluk di bumi untuk meningkatkan kesadaran terhadap 2,2 miliar orang yang hidup tanpa akses terhadap air bersih.
Perayaan ini sekaitan dengan tindakan yang diambil untuk mengatasi krisis air global. Pemenuhan kebutuhan air menjadi penting agar intensitas ketidaknyamanan antar individu di dalam warga masyarakat jika kebutuhan ini tidak tercapai.
Kerawanan sosial akan terjadi dan muncul akibat keberpihakan sekelompok orang terhadap sumberdaya air.
Untuk itu, dalam tulisan ini akan dipaparkan langkah-langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya air termasuk ketersediaan air tawar yang dikandung gletser dan terpenuhinya kebutuhan warga dunia.
Keberlanjutan sumberdaya air meliputi sanitasi untuk semua pada tahun 2030. Hal ini untuk memastikan bahwa semua orang memiliki akses terhadap air bersih di seluruh dunia pada tahun 2030.
Gletser adalah sebuah bongkahan es yang mempunyai ukuran besar yang terbentuk di atas daratan melalui proses pengkristalan salju atau endapan salju dalam kurun waktu yang lama.
Definisi lain, gletser sebagai sebuah sungai es yang terbentuk di lmbah pegunungan dan mengalir menuruni lembah pegunungan secara perlahan-lahan yang diakibatkan dari akumulasi es, salju, dan juga bebatuan karena adanya perubahan temperatur.
Gletser adalah bongkahan besar berupa kristal es, salju, batu, sedimen, dan sering kali air cair yang berasal dari darat dan bergerak perlahan menuruni lereng, di bawah pengaruh berat dan gravitasinya sendiri.
Gletser merupakan sumber air bagi daerah pegunungan yang ada di bawahnya. Namun, yang mendapat perhatian adalah gletser yang ada di daerah Antartika yang terus diperkirakan mencair akibat kenaikan temperature., sebagai fenomena perubahan iklim.
Sejatinya, 71 persen permukaan bumi adalah air, termasuk di tanah, udara, dan tubuh manusia. 96,5 persen air di bumi terletak di lautan, 3,5 persen sisanya ada di danau air tawar dan gletser.
Menurut Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (US Geological Survey), diperkirakan bahwa jumlah air yang ada di Bumi adalah 1.386.000.000 kilometer kubik.
Bumi ini pernah diselimuti oleh es yang menebal. Zaman ini disebut periode glasial terakhir, atau yang dikenal sebagai zaman es.
Di mana lapisan es mencapai ukuran terbesarnya sekitar 18.000 tahun yang lalu. Saat gletser kuno menyebar, mereka mengukir dan mengubah permukaan bumi, menciptakan banyak lanskap yang ada saat ini. Selama zaman es pleistosen, hampir sepertiga dari daratan bumi tertutup oleh gletser.
Sementara saat ini, sekitar sepersepuluh daratan Bumi tertutup oleh es glasial. Indonesia menjadi satu dari 12 negara tropis yang memiliki gletser dan satu-satunya (?) di Asia yaitu di Pegunungan Jayawijaya, Papua.
Tujuh negara lain berasal dari Amerika Selatan dan empat negara di Afrika. Salju tropis di Puncak Jaya Papua diperkirakan hilang kurang dari tiga tahun lagi. Laporan terbaru The World Meteorological Organization (WMO) menyebutkan ketebalan gletser di Papua memperlihatkan penurunan yang besar.
Total luas es pada April 2022 sebesar 0,23 kilometer persegi. Diperkirakan, saat ini hanya tinggal dua tempat yang masih bersalju, yaitu East Northwall Firn, dan Carstensz Glacier.
Sedangkan yang di West Northwall Firn sudah hilang. Pencairan tutupan es tropis di Puncak Jaya merupakan indikator sekaligus dampak dari fenomena perubahan iklim. Sangat sedikit yang bisa dilakukan untuk menahan laju pelelehan gletser ini.
Gletser mempunyai dua siklus dalam proses alami di alam, yakni proses penumpukaan dan proses pelelehannya.
Penumpukan berarti proses terbentuknya dari butiran-butiran salju yang mengkristal dalam waktu lama akan menyerupai bongkahan es.
Sedangkan fase pencairan terjadi ketika es gletser mencair dan meleleh, menghasilkan aliran air yang indah yang bisa dinikmati wisatawan.
Sayangnya, karena pemanasan global dan perubahan iklim, ekosistem gletser lebih cepat berubah menjadi aliran air biasa, sehingga ketersediaannya menjadi rentan. Gletser memiliki peran penting dalam ekosistem.
Gletser menyimpan cadangan air dalam bentuk es, yang kemudian dilepas dalam bentuk aliran sungai ketika mencair.
Aliran sungai ini memberikan air bersih kepada hewan dan tumbuhan di sekitarnya. Gletser juga berperan sebagai habitat bagi beberapa spesies yang khusus hidup di daerah yang sangat dingin.
Sejatinya, gletser selain mendinginkan suhu bumi, gletser adalah sumber air tawar terbesar, jauh lebih besar dari danau ataupun sumur.
National Snow & Ice Data Center mengklaim hamparan es gigantik ini menyimpan sekitar 69 persen air tawar dunia.
Di Tiongkok dan India, banyak sungai utama berhulu pada salju dan gletser Himalaya. Di Swiss, para petani selama ratusan tahun menyandarkan air irigasi dari tetesan gletser.
Sementara di Amerika Selatan, gletser memasok kebutuhan air minum bagi jutaan orang. Inilah alasan, mengapa gletser sering dijadikan barometer pemanasan global.
Rumus simpelnya: jika bumi kian panas, gletser mencair kian cepat—dan akibatnya fatal bagi makhluk hidup. Contoh yang paling nyata ialah naiknya permukaan laut, yang kemudian berbuntut pada banjir.
Melihat kecepatan pencairan gletser saat ini, kenaikan air laut diprediksi mencapai satu meter pada akhir abad ke-21.
Ilustrasi untuk membayangkan bahayanya: jika air laut meningkat satu sentimeter saja, sekitar satu juta orang di dataran rendah terpaksa mengungsi.
Salah satu dampak nyata semakin tingginya suhu Bumi, gletser di daerah kutub kian mencair. Selain berkontribusi menambah ketinggian permukaan air laut, melelehnya gletser di kutub juga menyumbang karbon di Bumi.
Penelitian pertama tentang jumlah karbon yang terlepas akibat mencairnya gletser di kutub telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience.
Tak tanggung-tanggung, gletser dan lapisan es merupakan 70 persen cadangan air tawar bumi.
Maka manakala gletser mencair karena kenaikan suhu udara, bongkahan es tersebut akan melepaskan karbon di angkasa dan pasokan air tawar dunia akan terus berkurang.
Kenyataan ini menunjukkan, bahwa gletser memegang peranan penting pada kehidupan manusia dan bagaimana manusia diharapkan dapat beradaptasi dalam perubahan iklim, Perubahan iklim ditandai dengan perubahan pola curah hujan, meningkatnya temperatur, naiknya permukaan laut, dan lainnya.
Gejala ini dirasakan oleh warga Sulawesi Selatan dan kota Makassar beberapa tahun terakhir ini.
Terkini, pasca kejadian banjir di bulan Desember 2024, dan bulan Pebruari 2025 ini.
Bulan Desember 2024, akibat dari banjir yang melanda kota Makassar, jumlah warga yang mengungsi sekitar 1.403 jiwa dari 381 KK dengan 27 titik pengungsian yang telah disiapkan oleh pemerintah.
Kejadian banjir di bulan Pebruari 2025, tercatat lebih dari 4.000 keluarga terdampak banjir di Kabuppaten Maros. Luapan air bahkan merendam hampir semua wilayah daratannya.
Ketinggian air di sebagian wilayah mencapai 2 meter. Hal ini menyebabkan arus lalu lintas di jalan poros Trans-Sulawesi di Maros bahkan lumpuh.
Sementara kota Makassar, terutama di 4 (empat) kecamatan, yakni Manggala, Biringkanaya, Panakukang dan Tamalanrea dengan jumlah total pengungsi 2.196 dari 622 KK. Mudah-mudahan kejadian hujan ekstrim seminggu terakhir ini tidak lagi menyebabkan warga mengungsi.
Namun, pada musim kemarau keadaan menjadi terbalik kebutuhan air semakin meningkat. Sekitar 97 persen dari ketersediaan air tersebut adalah air asin, dan hanya 2,5 persen saja yang merupakan air tawar (fresh water).
Malahan dari 2,5 persen itu hanya 0,4 persen saja yang dikonsumsi oleh penduduk bumi.
Penduduk Indonesia tahun 2024 ini sudah mencapai 279,152 juta jiwa atau 3,45 persen populasi dunia.
Penduduk Sulawesi Selatan sekitar 9,07 juta jiwa dan Kota Makassar melebihi 2juta orang di siang hari.
Kebutuhan air untuk kawasan Maminasata saja dengan pelayanan eksisting PDAM Makassar akan dipenuhi pada tahun 2027.
Artinya, ketersediaan air bersih bagi warga masyarakat masih diusahakan tahun 2025 ini dengan melakukan pemasangan pipa sepanjang 4 km, dari Pabaengbaeng melewati Jalan Veteran sampai di utara kota.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air minum hingga tahun 2037 meningkat mencapai 6.346 liter per detik sehingga diperoleh kebutuhan sebesar 3.201 liter per detik.
Proyeksi ini akan melengkapi proyeksi kebutuhan air minum total untuk Kawasan Mamminasata sebesar 7.080 liter/s pada tahun 2025.
Ekonomi Sulsel diharapkan tumbuh 4,8-5,6 persen di tahun 2025, apalagi pertumbuhan ekonomi kota Makassar menginginkan pertumbuhan yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi propinsi.
Pertumbuhan ekonomi mempersyaratkan ketersediaan air bagi industri, permukiman baru, mobilitas warga, dan kebutuhan lainnya.
Air menjadi kebutuhan hidup dan sangat menentukan akan menjadi langka jika tidak dipelihara. Jadi kebutuhan air sedemikian tinggi dan ketersediaan yang semakin terbatas menjadi buah simalakama.
Akibatnya, konflik antar warga bisa saja terjadi. Hal ini telah diungkapkan oleh Steven Solomon, dalam bukunya Water: The Epic Struggle for Wealth, Power, and Civilization.
Solomon mengungkapkan bahwa “kelangkaan pasokan air dapat menurunkan keamanan nasional dan meningkatkan terorisme di semua negara di dunia.”
Malahan, Sekjen PBB Ban Ki Moon mengatakan, bahwa kelangkaan air akan menyebabkan kemiskinan. Kelangkaan ini akan menimbulkan konflik sosial yang tidak terbayangkan dahsyatnya. Selanjutnya, dikatakan bahawa negara dengan kelangkaan air akan mengalami kesulitan sosial dan pembangunannya pun terhambat.
Kemudian, kelangkaan air juga akan menciptakan ketegangan di kawasan rawan konflik. Kawasan yang masih mempunyai sumber air akan diinvasi oleh kekuatan yang mempunyai senjata dan ekonomi untuk memperoleh air.
Akan ada saatnya, ketika seseorang membutuhkan air, ia akan membawa senjata. Bahkan yang lebih parah lagi, banyak pakar yang menyatakan bahwa perang dunia berikutnya akan disebabkan oleh perebutan sumber air bersih.
Artinya, perlu kewaspadaan ditumbuhkan untuk menjaga dan memelihara sumberdaya air, terutama di era otonomi daerah saat ini.
Untuk hal ini, maka terpeliharanya gletser dan semua sumber air terus dipertahankan oleh Pakar Air dan Iklim terus digaungkan karena: (1) gletser melindungi beberapa ekosistem di sekitarnya, (2) gletser adalah penyedia air tawar untuk kawasan sekitarnta, (3) gletser menjadi obyek penelitian bagi ilmuwan, terutama untuk fenomena perubahan iklim, (4) gletser sebagai pengatur temperatur bumi secara keseluruhan, dan (5) lainnya.
Warga masyarakat hendaknya dibiasakan untuk terus beradaptasi dengan lingkungan akibat dampak yang ditimbulkannya dan sumbangan terhadap perubahan iklim, PBB percaya bahwa setiap individu di planet ini dapat melindungi kesehatan dan menyelamatkan nyawa.
Sejalan dengan peringatam Hari Air se Dunia, Penulis mengajak semua pemangku kepentingan untuk kembali merenung dan memikirkan bahwa air adalah anugrah dan setiap warganegra mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk “menikmati” anugrah tersebut.
Anugrah ini hendaknya diartikan dalam skala luas, baik dari segi memelihara, melindungi dan mengolah titipan anak cucu kita, sehingga keberadaannya dijadikan sebagai modal awal untuk kesejahteraan bersama.-
| Tekad Tomas Trucha Bersama PSM Makassar Bangkit Putaran 2 Super League |
|
|---|
| Polisi Tetapkan 1 Tersangka Kasus Pembalakan Hutan Lindung Tombolopao Gowa |
|
|---|
| Sisir Utara Makassar, Polisi Tangkap Pemuda Pembuat Anak Panah dan Bersenjata Airsoft Gun |
|
|---|
| Dapur MBG Milik Polres Gowa Berdiri di Bajeng Barat, Diresmikan Wakil Bupati dan Ketua DPRD |
|
|---|
| Promo Diler Mobil Awal Tahun: DP Mitsubishi 15 Persen, Toyota Gratis Servis 7 Kali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhammad-Arsyad76.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.