Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Muammar Bakry

Cinta Ramadan 22: Cinta Samara

Sakinah berasal dari kata sakana-yaskunu, bisa diterjemahkan tenang, diam, tinggal dan menetep.

Editor: Sudirman
DOK TRIBUN TIMUR
Imam Besar Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M Jusuf dan Rektor Universitas Islam Makassar, Prof Dr Muammar Bakry Lc MA. Dalam Ramadhan 2025 atau Ramadhan1446 H, Muammar Bakry menulis kolom Ramadhan dengan Cinta seriap hari yang diterbitkan di Tribin Timur cetak. 

Oleh: Muammar Bakry

Imam Besar Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M Jusuf

TRIBUN-TIMUR.COM - Hikmah berkeluarga adalah tercapinya samara (sakinah, mawaddah dan rahmah) dalam rumah tangga. Apa perbedaan dari tiga kata tersebut? 

Sakinah berasal dari kata sakana-yaskunu, bisa diterjemahkan tenang, diam, tinggal dan menetap.

Tempat tinggal disebut maskan, dan orang yang tidak memiliki tempat tinggal (homeless) disebut miskin.

Sakinah juga seakar kata dengan sukun, yakni salah satu tanda bacaan yang menghentikan penyebutan huruf hijaiyah.

Kaitan dengan tujuan berkeluarga, sakinah adalah perasaan tenang secara lahir dan batin dengan hadirnya pasangan di sampingnya, tenang hati, jiwa dan pikirannya jika berada di dekatnya. 

Dengan Sakinah, diharapkan bisa menundukkan hasrat bilogis pasangannya masing-masing secara halal dan manusiawi.

Inilah urutan pertama yang terbangun dalam rumah tangga di masa-masa awal dalam pernikahan dalam meniti keluarga untuk saling mengikat dalam jalinan suami istri.

Sementara kata mawaddah bersumber dari akar kata wadda-yawaddu berarti keinginan dan harapan yang didorong atas nama cinta untuk saling menerima apa adanya tanpa syarat. Terbangun saling menghargai, saling menjaga, saling memiliki, saling mangasihi yang didasari dengan rasa cinta kepada pasangannya.

Mawaddah adalah pase kedua dalam pernikahan di saat meniti jalan ke puncak kehidupan dengan kesenangan yang sifatnya material.

Semangat bekerja, semengat bercinta, semangat membangun bersama hingga merasakan kesuksesan bersama.

Sekalipun demikian di masa awal kematangan berumah tangga ini, tidak jarang suatu keluarga belum tercapai keinginan seperti yang mereka impikan.

Namun demikian tidak menjadi penyebab keretakan rumah tangga karena ada penopangnya yakni mawaddah dalam rumah tangga.

Keluarga yang mawaddah tercermin dengan hadirnya keterbukaan di dalamnya. Suami yang mencari nafkah lalu disambut oleh istrinya dengan suka tanpa tergantung pada kuantitas pendapatan suaminya, tapi diterima dengan mengharap keberkahan, adalah gambaran mawaddah yang terbangun dalam rumah tangga.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved