Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Muammar Bakry

Cinta Ramadan 21: Cinta 'Fitnah'

Namun tidak sedikit juga tergelincir dengan apa yang Allah titipkan kepadanya, justru membuatnya semakin jauh dari Allah dan lupa diri.

Editor: Sudirman
DOK TRIBUN TIMUR
Imam Besar Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M Jusuf dan Rektor Universitas Islam Makassar, Prof Dr Muammar Bakry Lc MA. Dalam Ramadhan 2025 atau Ramadhan1446 H, Muammar Bakry menulis kolom Ramadhan dengan Cinta seriap hari yang diterbitkan di Tribin Timur cetak. 

Oleh: Muammar Bakry

Imam Besar Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M Jusuf

TRIBUN-TIMUR.COM - Harta dan anak adalah hiasan dunia yang menjadi wasilah bagi seseorang menikmati hidupnya sesuai nilai yang dipahami dan diyakini.

Ada orang yang menjadikan harta, keluarga dan status sosial yang dimiliki menjadikan ia lebih dekat dengan Allah, mendapatkan ridho dan berkahnya.

Namun tidak sedikit juga tergelincir dengan apa yang Allah titipkan kepadanya, justru membuatnya semakin jauh dari Allah dan lupa diri.

Semua itu adalah ujian, ujian kaya dan ujian miskin. Empat macam model manusia menyikapi ujian hidup itu.

Pertama berhasil Ketika diuji dengan kekayaan tapi gagal jika diuji dengan kemiskinan. 

Kedua berhasil Ketika diuji kemiskinan, tapi gagal Ketika diuji kekayaan. Ketiga, sama saja baginya diuji kekayaan atau kemiskinan tetap gagal.

Dan keempat sama saja  baginya kekayaan atau kemiskinan tidak membuat imannya luntur. Itulah yang dimaksud dalam al-Qur’an bahwa harta dan anakmu adalah fitnah (maksudnya ujian).

Karena itu, boleh jadi seseorang mulia di hadapan Allah karena ia memiliki semua harta dan jabatan sebagai ujian baginya, lalu ia lulus dalam ujian tersebut.

Sangatlah wajar dan manusiawi, jika orang mencintai lawan jenisnya, keluarga, harta dan jabatan.

Akan tetapi semua yang disebutkan itu seharusnya menjadi sarana dalam merasakan cinta hakiki kepada Allah swt.

Caranya bagaimana? Kendalikan semuanya di bawah keinginan Allah swt. 

Orang yang mencintai pasangannya, ia jadikan sebagai pendamping yang halal yang selalu bersama dalam suka dan duka, mencintainya karena Allah, bukan karena maksud tertentu. 

Mencintai harta dengan jalan mencari yang halal lalu keluarkan zakat dan sadaqahnya,  harta yang mengajak kita bersyukur kepada-Nya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved