Opini Andi Yahyatullah Muzakkir
Pemimpin Baru dan Sinjai 461 Tahun, Akankah Maju dan Sejahtera Bersama?
Sungguh usia yang sudah matang sebagai daerah yang terus dinamis menjalankan proses pembangunan di Sulawesi Selatan ini.
Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir
Founder Anak Makassar Voice dan Mimbar Sastra Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Kabupaten yang berjuluk Bumi Panrita Kitta atau tanah para cendekiawan (panrita) kini berusia 461 tahun pada tanggal 27 Februari 2025.
Sungguh usia yang sudah matang sebagai daerah yang terus dinamis menjalankan proses pembangunan di Sulawesi Selatan ini.
Ini menjadi catatan penting sebab hari jadi Sinjai kemarin juga bertepatan dengan beralihnya kepemimpinan daerah.
Kita telah memiliki Bupati dan Wakil Bupati baru yang terpilih melalui pilkada langsung.
Sebelum itu kita tahu, bahwa ada empat pasangan calon yang bertarung pada pilkada kemarin.
Paslon pertama Muzayyin Arif-Andi Ikhsan Hamid, Hj. Ratnawati Arif - A Mahyanto Mazda, Hj. Nursanti-Lukman H.Arsal dan pasangan A. Kartini Ottong-Muzakkir.
Berdasarkan keputusan KPU telah menetapkan Hj. Ratnawati Arif dan A Mahyanto Mazda sebagai Bupati dan Wakil Bupati terpilih dengan raihan suara terbanyak.
Ini menandakan iklim kompetisi calon pemimpin di Sinjai berjalan secara dinamis. Kita rupanya tak kekurangan tokoh.
Sebagai kabupaten yang mendapat julukan Panrita Kitta, putra dan puteri terbaik pada Pilkada kemarin telah menunjukkan kapasitas dan kelayakannya.
Melalui cara pandang, ide dan gagasan yang tertuang dalam visi dan misi masing-masing paslon. Akhirnya, paslon terpilih selama lima tahun ke depan akan membuktikan diri, serta menunaikan janji-janji politiknya.
Dalam momentum hari jadi Sinjai tahun ini, hal utama yang harus kita kukuhkan adalah identitas kultural yang sering kita gaungkan yakni Panrita Kitta atau tanah para cendekiawan.
Identitas kultural ini mesti dikuatkan dengan perhatian pemimpin baru kepada dunia pendidikan.
Terutama menyangkut kesejahteeaan para guru, guru honorer dan kita berharap pemimpin baru dapat melahirkan kebijakan berbasis pendidikan gratis agar dapat diakses oleh semua kalangan.
Identitas Panrita Kitta atau tanah para cendekiawan tentu menjadi beban moril pemimpin baru dalam menjalankan programnya.
Ironis sekali apabila pendidikan hanya menjadi prioritas kesekian. Ini tentu menjadi ajang refleksi diri bagi para pemimpin yang terpilih.
Berbarengan dengan adanya pemimpin baru dan momentum hari jadi Sinjai juga menjadi momen refleksi untuk melahirkan perubahan mendasar seperti tata kelola pemerintahan yang adil dan transparan.
Sebab, harus kita akui bahwa tata kelola pemerintahan masih belum sehat.
Kesan yang kerap muncul adalah nepotisme dan kolusi. Sinjai harus menjadi kabupaten terdepan yang menjadi spirit pembangunan yang berintegritas.
Ini juga wujud mengejewantahkan identitas kultural kita sebagai julukan bumi Panrita Kitta.
Sebab sebagai pemimpin yang cerdas dan memiliki kapasitas intelektual, idealnya dalam memimpin harus mencerminkan kejujuran, keselarasan antara perkataan dan perbuatan.
Dan ini tuntutan yang harus ditunjukkan lebih dulu oleh para pemimpin baru yang terpilih.
Langkah selanjutnya selain mengukuhkan identitas kultural juga pemimpin baru Sinjai ini mestinya melahirkan spirit “pembangunan berbasis kerakyatan.”
Artinya, Bupati dan Wakil Bupati baru mesti melahirkan kebijakan yang selalu orientasinya pada kepentingan rakyat demi kesejahteraan bersama.
Jangan sampai momentum hari jadi Sinjai kali ini hanya mengulang rutinitas seremonial belaka dan kehadiran pemimpin baru hanya menjadi simbol formalitas belaka.
Kita menginginkan momentum hari jadi Sinjai sebagai ajang refleksi diri untuk menjadi kabupaten yang maju dan terdepan.
Dan kehadiran Bupati dan Wakil Bupati baru sebagai simbol utama dalam hal kesejahteraan Kabupaten Sinjai.
Apalagi tema hari jadi kali ini adalah Maju Bersama, Sejahtera untuk Semua.
Selamat bekerja Bupati dan Wakil Bupati Sinjai dan selamat hari Jadi Sinjai yang ke 461 tahun.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.