Opini Amir Muhiddin
MBG, Program Salah Sasaran
Program ini tentu saja sangat mulia dan strategis karena terkait dengan upaya pengembangan Sumber Daya Manusia, khususnya pada anak usia sekolah.
Sejumlah pakar menyarankan agar MBG ini harus dievaluasi karena membingungkan dan membuat masyarakat, termasuk pelaku ekonomi, baik kecil maupun besar kebingungan.
Diduga kuat apabila program ini berlanjut terus tanpa evaluasi maka kemungkinan MBG ini kurang efektif.
Banyak pakar malah menilai program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini berpotensi tidak tepat sasaran apabila diberikan kepada seluruh anak di seluruh pelosok tanah air.
Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Media Wahyudi Askar mengatakan pemerintah tidak perlu memberikan makan bergizi gratis ini kepada seluruh anak di tanah air.
Pasalnya, dalam studi yang dilakukan oleh CELIOS, apabila makan bergizi gratis ini diberikan kepada seluruh anak di Indonesia setidaknya ada anggaran negara sebanyak Rp50,72 triliun yang akan dinikmati oleh anak-anak dari keluarga mampu.
Oleh sebab itu studi CELIOS menyarankan agar MBG bagi mereka yang mampu tidak perlu, mereka lebih memilih MBG disalurkan ke masyarakat yang lebih membutuhkan.
Karena orang kaya ini memahami bahwa ini sebaiknya bukan untuk mereka. Bahkan ketika anaknya tetap dipaksakan
diberikan MBG di sekolah, akhirnya mereka bawa makanannya ke rumah lalu diberikan ke pembantunya.
Artinya ada subsidi yang tidak tepat sasaran dengan skema MBG yang dilakukan oleh pemerintah,” ungkap Media dalam telekonferensi pers di Jakarta, Senin (10/2).
Media lebih lanjut mengatakan, bahwa pemerintah memiliki dua opsi dalam menjalankan program MBG.
Opsi pertama adalah memangkas anggaran negara dan mengalokasikannya secara penuh hanya untuk program MBG yang jumlahnya mencapai Rp400 triliun.
Jika opsi pertama ini dilakukan, ujar Media, maka negara akan kehilangan kemampuan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, pertanian, dan bahkan layanan publik.
“Belakangan muncul opsi B, yaitu Rp100 triliun untuk MBG dan sisanya untuk program lainnya. Dan dua opsi ini yang
direncanakan oleh pemerintah. Tapi kedua opsi ini menurut kami problematik,” jelasnya.
CELIOS menyarankan pemerintah untuk menjalankan program MBG dengan skema berorientasi target.
Yakni memfokuskan program pemberian makan gratis ini kepada anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu seperti keluarga yang tinggal di daerah terpencil dengan penghasilan kurang dari Rp2 juta per bulan, serta balita dan ibu hamil dan menyusui yang membutuhkan nutrisi tambahan.
Dalam kesempatan yang sama Peneliti CELIOS Bakhrul Fikri mengatakan, pemangkasan anggaran yang dilakukan oleh Prabowo Subianto lewat Instruksi Presiden (Inpres) nomor 1 tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD tahun anggaran 2025 menargetkan penghematan anggaran negara Rp306,7 triliun yang salah satunya akan digunakan untuk membiayai program MBG.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Amir-Muhiddin-Dosen-Fisip-Unismuh-3242.jpg)