Opini Muh Zafran Dzaki A
Menyoal Matinya Budaya Bertanya
Walapun membaca dianggap sebagai salah satu hal yang menambah wawasan kita akan sesuatu.
Akan tetapi saat ini Indonesia sangat kekurangan akan budaya bertanya itu sendiri.
Narasi singkat tentang budaya bertanya di indonesia saat ini dapat dikatakan sangat memperihatinkan.
Jika memaknai kata diatas bertanya juga seharusnya menjadi sorotan penting bagi masyarakat kita saat ini, tidak hanya menyorot tingkat literasi saja harusnya kita juga memberikan perhatian lebih akan critical thingking dengan cara bertanya.
Tiga Faktor Pembunuh Pikiran
Di zaman sekarang orang-orang mulai memberikan paradigma yang buruk sehingga menciptakan stigma yang begitu keras kepada sang pemikir (orang” yang memiliki pertanyaan di kepalanya).
Mereka dianggap sebagai orang yang haus akan perhatian di mana orang-orang memandang yang bertanya sebagai orang sok pintar padahal seseorang yang bertanya itu karena mereka memang tidak tahu.
Hal yang miris malah sering terjadi di lingkungan akademik seperti di sekolahan bahkan perguruan tinggi di mana seharusnya mereka harus memiliki critical thingking tapi faktanya merekalah yang membuat stigma itu sendiri.
padahal seharusnya mereka itu berfikir dan bertanya. Bahkan ada yang berfikiran “kritis dalam agama itu tidak beriman” padahal sebenarnya kita berfikir untuk menambah ilmu sehingga menambah imanya.
Tidak hanya itu pembunuhan terhadap pikiran ini sudah terjadi ketika masih kanak-kanak di mana anak yang harusnya banyak pertanyaan dan menyampaikan ke orang” yang lebih dewasa dihiraukan bahkan dibentak dan dimarahi “duh ributnya”.
Sehingga meninggalkan rasa trauma untuk bertanya akhirnya membunuh nalar bertanya anak hingga dapat dikatakan
pembunuhan fikiran.
Di antara banyaknya faktor yang ada, ada 3 hal yang seharusnya menjadi faktor utama di antaranya : Keluarga, lingkungan dan pendidikan.
Keluarga harusnya menjadi faktor utama dalam membentuk pengetahuan juga karakter seseorang, keluarga dikatakan sebagai pendidik utama seseorang.
Akan tetapi dizaman sekarang banyak sekali orang tua yang kurang mengerti akan hal ini dan malahan membunuh karakter anak pada masa “golden age”nya ,masa dimana anak-anak seharusnya memiliki rasa penasaran yang tinggi akan suatu hal.
Seorang anak yang bertanya kepada orang tuanya tentang apa yang ada dalam fikirinya akan tetapi orang tuanya memarahi anak tersebut dengan mengatakan “kamu jangan ganggu dulu” atau tidak jarang juga orang tua hanya memberikan mereka gadget hanya sebatas untuk membuat anak tersebut diam.
Hal ini justru membuat sang anak ragu untuk bertanya lagi dan hal tersebut berlangsung terus menerus hingga mereka dewasa membuatnya kehilangan minat untuk mempertanyakan hal-hal yang berlangsung disekitarnya.
| Mobil Bekas Dinsos Makassar Disulap Jadi Armada Sosial TRC Saribattang |
|
|---|
| Bahtiar Baharuddin Dicopot Jabat Dirjen Mendagri 2 Pekan Setelah Dicekal ke Luar Negeri Kasus Nanas |
|
|---|
| Ida Farida Resmi Pimpin HPTKes Wilayah Banten |
|
|---|
| Respon Ketua RT/RW Makassar Belum Terima Undangan Resmi Gathering di Pantai Bosowa |
|
|---|
| Laba Bank Sulselbar Terbesar di Sulawesi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muh-Zafran-Dzaki-AMahasiswa-Studi-Agama-agama-UIN-Alauddin-Makassar.jpg)