Literasi Ulama
Catatan Harian AGH Ahmad Surur
Fadly Ibrahim menyimpan catatan harian AGH. Ahmad Surur sejak 2012, sebelumnya disimpan AGH Yusuf Surur.
Oleh: Firdaus Muhammad
Pembina Pesantren An-Nahdlah, Dosen UIN Alauddin, dan Pengurus MUI Sulsel
TRIBUN-TIMUR.COM - Berawal dari catatan harian Anregurutta Haji (AGH) Ahmad Surur al-Bugisi al-Pammani (1861-1932), tersingkap jejak ulama Pompanua dan jejaringnya.
Beliau merupakan ulama penulis, aktif mengabadikan aktivitasnya melalui catatan harian.
Fadly Ibrahim menyimpan catatan harian AGH. Ahmad Surur sejak 2012, sebelumnya disimpan AGH Yusuf Surur.
AGH Ahmad Surur lahir pada tahun 1861, putra pasangan Syekh Abdul Majid dengan Hajah Hadijah binti Abubakar.
AGH Ahmad Surur lama mukim mengaji di Mekkah dan belajar dari beberapa ulama.
Beliau berinteraksi dengan sosok ulama seperti Sayyid Abdullah Dahlan dan Syekh Abdul Rasyid al-Bugisy, ayah kandung AGH. Muhammad As’ad, pendiri Pesantren As’adiyah.
Pengabdian AGH Ahmad Surur diantaranya membina pengajian di Pompanua, beliau meneruskan pengajian yang dibina Syekh Abdul Majid dan AGH Abdul Hayyi. AGH Ahmad Surur dikenal disiplin.
Pengajian yang dibinanya mendahului pesantren As’adiyah yang berdiri tahun 1930 maupun Pesantren Amiriyah Bone berdiri tahun 1933.
Selain mengajarkan kitab kuning di Pompanua, AGH Ahmad Surur juga sebagai imam distrik sejak tahun 1923 untuk wilayah Palili Desa Pompanua, Bone.
Pada tahun 1928 beliau juga menghimpun kaum remaja yang diberi nama Yong Berejama sebagai remaja yang aktif di masjid dan kader untuk berdakwah yang dipusatkan di masjid.
Sejak mukim di Pompanua, AGH Ahmad Surur aktif menulis. Dalam temuan Fadly Ibrahim, naskah-naskah yang ditulis dalam catatan harian itu memberikan wawasan ihwal perjalanan hidupnya sewaktu menjabat imam di Pompanua sejak tahun 1925-1932.
AGH. Ahmad Surur menulis aktivitas hariannya pada kertas bergaris merah dan biru berukuran folio hingga 200 halaman. Catatan harian itu ditulis dengan aksara lontara dan bahasa arab.
Kegiatan harian sebagai imam dituangkan dalam catatan itu mulai hajatan masyarakat, pendirian masjid, jamaah yang meninggal atau syukuran aqiqah, pengajian, kunjungan ulama, penentuan bulan hijriah, hari-hari baik, serta agenda menerima tamu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Pengamat-politik-Universitas-Islam-Negeri-Alauddin-Makassar-Prof-Firdaus-Muhammad-nnn.jpg)