Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Wawancara Eksklusif Tribun Timur

Donald Trump Menang Pilpres AS: Siap-siap, Perang Dagang Jilid 2

Podcast Ngobrol Virtual Tribun Timur Rabu (6/11/24), Dosen HI Universitas Hasanuddin Makassar, Ishaq Rahman mengulas efek kemenangan Donald Trump.

Penulis: Hasriyani Latif | Editor: Alfian
Ist
Donald Trump terpilih pada Pilpres AS 2024. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik Donald Trump memenangkan Pilpres AS 2024.

Trump keluar sebagai pemenang setelah berhasil meraih suara popular terbanyak sekaligus meraup suara elektoral lebih dari ambang batas minimal yang dtetapkan.

Dalam Podcast Ngobrol Virtual Tribun Timur edisi Rabu (6/11/24), Dosen HI Universitas Hasanuddin Makassar, Ishaq Rahman mengulas seperti apa efek kenangan Trump bagi dunia.

Dipandu Host I Luh Devi Sania, berikut petikan wawancaranya:

Tanggapan Anda Trump unggul sementara? 

Sebenarnya, ini tidak begitu mengagetkan. Beberapa polling menjelang pemilihan menunjukkan selisih yang sangat tipis, bahkan di bawah 2 persen dan ini di luar margin error.

Artinya, kedua kandidat memang memiliki peluang yang sama besar sampai menjelang pemilihan.

Perbedaan Pilpres di Indonesia? 

Ada perbedaan mendasar yang dipengaruhi oleh sistem pemerintahan masing-masing. Indonesia adalah negara kesatuan, sementara AS adalah negara federal.

Di Indonesia, pilpres dilakukan secara langsung, di mana semua warga negara yang memiliki hak pilih datang ke TPS dan memberikan suara.

Di AS prosesnya lebih kompleks. Selain pemilihan langsung (popular vote), terdapat juga sistem electoral vote.

Sistem ini melibatkan orang-orang yang disebut elektor, yang berada dalam lembaga yang disebut electoral college. Mereka yang akhirnya menentukan hasil pilpres.

Apa itu electoral college?

Sistem di mana setiap negara bagian memiliki jumlah elektor yang berbeda sesuai dengan jumlah penduduknya, tetapi minimal ada tiga elektor per negara bagian.

Totalnya ada 538 elektor dari seluruh negara bagian. Kandidat yang memperoleh minimal 270 suara elektor akan otomatis menjadi presiden.

Kecenderungan suara Pennsylvania? 

Dalam pemilihan kemarin, Pennsylvania telah menyelesaikan penghitungan suara. Kini, negara bagian yang tersisa adalah Arizona, Wisconsin, Nevada, Alaska, dan Maine.

Namun, tren suara di negara bagian ini cenderung mengarah ke Partai Republik, sehingga ini menjadi peluang besar bagi Trump untuk unggul, termasuk di Pennsylvania.

Dugaan kecurangan di Philadelphia?

Unggahan Trump tersebut mencerminkan karakternya yang sering kali mengeluarkan pernyataan kontroversial.

Selama masa jabatannya pada 2017-2021, Trump terkenal sering membuat pernyataan yang mengejutkan, baik untuk isu domestik maupun internasional. 

Ini mungkin bagian dari strateginya untuk memengaruhi elektoral college atau para elektor yang memegang suara pemilihan.

Rekam jejak Trump?

Trump dapat digambarkan dengan tiga kata: pragmatis, kontroversial, dan penuh ketidakpastian. Sikap pragmatisnya terlihat baik dalam kebijakan domestik maupun internasional.

Misalnya terhadap Iran, ia bersikap tegas, namun terhadap Korea Utara, ia membuka dialog, yang menjadi pertemuan bersejarah bagi seorang presiden AS dengan pemimpin tertinggi Korea Utara.

Karakternya yang pragmatis dan kontroversial ini membuat kebijakannya sulit ditebak, yang sering kali menciptakan ketidakpastian.

Ada perbedaan kebijakan jika terpilih lagi? 

Berdasarkan rekam jejaknya, Trump kemungkinan besar akan mempertahankan karakter dan pendekatan kebijakannya seperti pada periode pertama.

Ketidakpastian menjadi hal yang konsisten dari Trump, bahkan ketika dunia internasional menghadapi berbagai ketidakstabilan geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah, Rusia-Ukraina, dan isu-isu global lainnya.

Yang dijanjikan akan terlaksana?

Trump cenderung mempertahankan kebijakan-kebijakan dari periode sebelumnya.

Selama kampanye, ia mengusung slogan 'We Will Fix It' menunjukkan bahwa ia ingin memperbaiki kebijakan-kebijakan yang menurutnya telah dirusak oleh pemerintahan Biden.

Secara umum, pendekatan Trump terhadap kebijakan dalam negeri dan luar negeri memiliki karakteristik yang konsisten, termasuk prinsip America for Americans atau nasionalisme ekonomi.

Pendekatan dalam kebijakan luar negeri? 

Trump diperkirakan akan melanjutkan pendekatan unilateralisme, di mana AS akan menangani isu internasional secara mandiri tanpa terlalu bergantung pada organisasi internasional.

Selain itu, ia dikenal sebagai proteksionis yang siap melindungi kepentingan ekonomi AS, seperti yang ia lakukan saat memulai perang dagang dengan China pada 2018.

Terhadap aliansi internasional?

Trump dikenal kritis terhadap sekutu lama, terutama NATO, yang ia anggap hanya menguntungkan anggota lain di luar AS.

Dalam hubungan luar negerinya, Trump lebih mengutamakan hubungan pribadi dengan para pemimpin negara, serta memiliki pandangan pragmatis terhadap apa yang dianggap sebagai lawan atau musuh negara.

Terkait keamanan nasional dan imigrasi?

Pada periode pertama, Trump memiliki kebijakan yang tegas terhadap keamanan perbatasan, terutama dengan Meksiko dan kemungkinan besar ia akan melanjutkan pendekatan ini.

Sikapnya yang transaksional juga mencerminkan bahwa ia menilai hubungan antarnegara dari segi keuntungan dan kerugian bagi AS, tanpa terlalu mengindahkan aspek ideologi.

Dampak pada hubungan AS-China? 

Konflik teknologi kemungkinan besar akan meningkat, terutama terkait isu keamanan siber dan teknologi 5G.

Trump pernah menuduh bahwa teknologi Huawei dimanfaatkan oleh China untuk tujuan mata-mata. Dengan demikian, terpilihnya kembali Trump bisa memicu perang dagang jilid 2 dengan China, yang dampaknya akan dirasakan secara global.

Konflik yang sudah berlangsung? 

Dalam konflik Timur Tengah, Trump kemungkinan akan tetap mendukung Israel secara terbuka, tanpa terlalu mengandalkan diplomasi melalui organisasi internasional seperti PBB.

Terkait Rusia, walaupun hubungan kedua negara bersifat konfliktual, Trump cenderung memberikan respek pribadi terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, terutama atas sikap nasionalisme dan cinta tanah airnya.

Dukungan terhadap Israel pengaruhi Pilpres?

Dukungan terhadap Israel sangat signifikan di AS, terutama mengingat pengaruh lobi Yahudi di AS.

Walaupun ada dukungan untuk hak-hak Palestina di panggung publik, lobi Yahudi dan para elite di belakang layar cenderung mendukung Israel secara konsisten.

Dampak ekonomi global? 

Kebijakan Trump yang cenderung unilateral dan proteksionis dapat memicu ketidakpastian ekonomi global.

Jika terjadi konflik atau perebutan pengaruh antara negara besar, ini dapat mengganggu ekonomi global, termasuk ekonomi negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Kemungkinan hubungan Indonesia-AS?

Memiliki beberapa potensi, baik dari sisi sistemik maupun personal. Secara historis, Indonesia dan AS telah menjadi mitra strategis, terutama di bidang ekonomi dan pertahanan.

Di sisi personal, baik Prabowo maupun Trump adalah sosok nasionalis yang sangat mencintai negaranya masing-masing, sehingga hubungan yang bersifat personal antara keduanya bisa memberikan warna khusus pada hubungan bilateral ini.

Pengaruh hubungan diplomatik Indonesia?

Secara sistemik, Indonesia dan AS telah lama menjalin hubungan yang baik, terutama di level pemerintah. Indonesia tidak pernah berada dalam posisi yang konfrontatif secara terang-terangan dengan AS.

Hubungan ini terlihat dalam kerja sama ekonomi dan pertahanan.

Banyak personel militer Indonesia yang mendapatkan pelatihan di Amerika, dan kita juga sering mengadakan latihan militer bersama serta berbagi informasi intelijen dan teknologi persenjataan. Hubungan ini juga semakin erat setelah peristiwa terorisme, seperti bom Bali.

Kedekatan Indonesia dengan Tiongkok?

Memang, selama masa pemerintahan Presiden Jokowi, Indonesia tampak lebih dekat dengan Tiongkok, terutama karena kerjasama ekonomi dan investasi.

Sementara itu, Amerika Serikat memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan Tiongkok, sehingga sedikit banyak mempengaruhi kedekatan Indonesia dengan Amerika. 

Namun, pengaruhnya tidak terlalu signifikan, karena hubungan Indonesia-Amerika di tingkat negara tetap terjaga baik.

Daya tarik sisi personal Prabowo dan Trump?

Adanya kemiripan karakter antara Prabowo dan Trump, yaitu keduanya adalah sosok nasionalis yang memiliki kecintaan kuat terhadap negara masing-masing.

Hal ini bisa menjadi dasar yang baik untuk membangun hubungan bilateral yang lebih erat dan bersahabat. Ditambah lagi, Trump pernah mencabut larangan masuk Prabowo ke AS pada 2020, yang menandai hubungan yang lebih baik.

Trump akan mengunjungi Indonesia?

Ada kemungkinan jika terjalin hubungan yang lebih dekat antara kedua negara. Ini bisa menjadi momen penting dalam hubungan Indonesia-Amerika, karena hanya enam presiden Amerika yang pernah berkunjung ke Indonesia dalam sejarah.

Jika terjadi, kunjungan tersebut akan mempererat kerjasama dan membuka jalan bagi dialog yang lebih dalam.

Dukungan AS terhadap Israel?

Memang sudah lama dan ini bisa menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan hubungan yang baik antara Indonesia dan AS, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk berkomunikasi lebih efektif dengan Amerika terkait isu Palestina.

Keterlibatan diplomatik dengan Amerika bisa menjadi jalan bagi Indonesia untuk memperjuangkan dukungannya terhadap Palestina, mengingat Amerika adalah negara yang paling didengar oleh Israel.

Perang dagang pengaruhi Indonesia?

Jika perang dagang antara Amerika dan Tiongkok berlanjut, maka posisi Indonesia akan semakin strategis bagi AS.

Amerika mungkin akan lebih membutuhkan Indonesia, baik sebagai mitra ekonomi maupun sebagai sekutu di kawasan Asia Tenggara. Ini dapat menjadi peluang yang baik bagi Indonesia untuk memperkuat hubungan dan memperjuangkan kepentingan nasionalnya.

Hubungan Trump dengan pemimpin negara besar?

Trump dikenal memiliki pendekatan yang sangat pragmatis dan idiosinkratik atau bergantung pada hubungan pribadi dalam diplomasi.

Selama masa kepresidenannya sebelumnya, Trump menunjukkan karakter ini dengan sejumlah pemimpin negara lain.

Misalnya, dia memuji Vladimir Putin sebagai pemimpin yang kuat dan berkharisma, serta mendekati Kim Jong-un dari Korea Utara melalui diplomasi langsung untuk membahas pembatasan senjata nuklir. 

Namun, dengan Tiongkok, hubungan Trump menjadi tegang karena perang dagang dan pandemi Covid-19, di mana Trump secara terbuka menyalahkan Tiongkok sebagai penyebab pandemi global.

Dengan Angela Merkel dan Justin Trudeau?

Trump memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan beberapa pemimpin Eropa.

Misalnya, hubungannya dengan Angela Merkel, Kanselir Jerman saat itu, sering kali bersifat konfrontatif meskipun Jerman merupakan sekutu tradisional AS di NATO. 

Dengan Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, Trump juga sering menunjukkan ketidaksenangan, yang bahkan mendorongnya untuk menarik diri dari Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

Trump tampaknya lebih mempertimbangkan pandangan pribadinya terhadap setiap pemimpin daripada faktor hubungan antar-negara atau kedekatan tradisional.

Pendekatan Trump berdiplomasi dengan 'musuh'?

Kemungkinan besar, jika kembali menjabat, Trump akan melanjutkan diplomasi langsung dengan Kim Jong-un.

Trump memiliki gaya diplomasi yang unik, di mana ia lebih memilih bertemu langsung, bahkan dengan pemimpin yang dianggap 'musuh'.

Pendekatan ini jarang dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya, yang biasanya menjalankan diplomasi di tingkat yang lebih rendah sebelum ada pertemuan puncak.

Namun, Trump melihat nilai dalam komunikasi langsung dan berani mengambil langkah ini demi mencapai stabilitas dan keamanan, khususnya terkait isu nuklir Korea Utara.

Masih ada komunikasi antara mereka?

Bahkan setelah pertemuan langsung mereka, hubungan komunikasi antara Trump dan Kim Jong-un berlanjut.

Dilaporkan bahwa mereka saling berkirim surat secara berkala, menunjukkan bahwa Trump memiliki pendekatan yang sangat personal dalam menjalin komunikasi dengan Kim, yang tidak umum dalam politik internasional di masa kini. Ini menunjukkan bahwa Trump mungkin mempertahankan pendekatan serupa jika dia kembali berkuasa.

Pendekatan diplomasi Trump?

Trump cenderung mengandalkan hubungan personal dan langsung dengan pemimpin negara lain, terlepas dari hubungan tradisional antar negara.

Gaya ini berbeda dengan pendekatan diplomasi Amerika yang biasanya melewati proses birokrasi dan persiapan panjang sebelum pertemuan puncak. 

Bagi Trump, hubungan antar-pribadi lebih menentukan arah kebijakan dan dia melihat nilai dalam pendekatan langsung yang memungkinkan dialog lebih terbuka.

Bagaimana sebaiknya Indonesia memandang Trump?

Sangat penting bagi masyarakat untuk melihat Trump dengan perspektif bijak dan menghindari pandangan yang terlalu konflikual. Tentu kita tahu bahwa AS secara tradisional mendukung Israel, namun cara terbaik dalam menghadapi masalah internasional adalah dengan diplomasi.

Mekanisme ini adalah cara beradab untuk menyelesaikan perbedaan antar-negara.

Di era kepemimpinan Prabowo di Indonesia, dan jika Trump kembali menjabat sebagai presiden AS, mungkin ada peluang bagi kedua pemimpin untuk berkontribusi secara positif dalam berbagai isu global, termasuk di Timur Tengah dan konflik Israel-Palestina.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved