Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Aswar Hasan

Politik Burung Unta

Metafora Burung Unta merujuk pada perilaku seseorang, kelompok, atau pemerintah yang menolak menghadapi atau mengakui masalah yang ada

|
Editor: Sudirman
Ist
Aswar Hasan, Dosen Fisipol Unhas 

Oleh Aswar Hasan

Dosen FISIP Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Presiden Prabowo Subianto dalam pidato perdananya pada sidang Paripurna MPR di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, mengajak bangsa ini gagah menatap ancaman dan bahaya, sekaligus berani menghadapi segala kesulitan yang menimpa.

Prabowo; seluruh anak bangsa agar tidak memiliki sikap seperti Burung Unta, yang bila melihat sesuatu yang tidak enak langsung memasukkan kepalanya ke dalam tanah, alias penakut (Sebagaimana ditulis di editorial media Indonesia, 21/10-2024).

Metafora Burung Unta merujuk pada perilaku seseorang, kelompok, atau pemerintah yang menolak menghadapi atau mengakui masalah yang ada, seperti Burung Unta yang dalam mitos sering digambarkan mengubur kepalanya di dalam pasir ketika merasa terancam.

Dalam konteks politik, metafora ini digunakan untuk menggambarkan pemimpin atau pembuat kebijakan yang memilih untuk mengabaikan masalah serius, krisis, atau isu penting dengan harapan masalah tersebut akan hilang atau terselesaikan dengan sendirinya, padahal kenyataannya tidak.

Secara umum, perilaku Burung Unta ini mengisyaratkan penghindaran tanggung jawab dan tindakan yang perlu diambil dalam menghadapi tantangan atau kesulitan politik, seperti krisis ekonomi, korupsi, atau bencana lingkungan.

Akibat dari tindakan ini sering kali berujung pada memburuknya situasi yang seharusnya bisa ditangani lebih awal.

Istilah Burung Unta sering digunakan dalam konteks percakapan sehari-hari, terutama dalam ranah politik dan sosial.

Meskipun secara harfiah merujuk pada burung besar yang tidak bisa terbang, istilah ini memiliki makna kiasan yang lebih dalam.

Dalam konteks politik, "politik burung unta" memiliki arti,  selalu menghindari masalah. Politik Burung Unta merujuk pada tindakan seseorang atau kelompok yang sengaja menghindari masalah atau kenyataan yang tidak menyenangkan. Menutup mata.

Mereka memilih untuk tidak menghadapi masalah secara langsung, seolah-olah dengan mengabaikan masalah tersebut, masalah itu akan hilang dengan sendirinya.

Menunda-nunda kaputusan dan pekerjaan. Seringkali, politik Burung Unta dikaitkan dengan penundaan dalam pengambilan keputusan atau tindakan.

Melakukan politik Burung Unta dalam menangani masalah kemiskinan misalnya, Partai politik itu dituduh melakukan politik Burung Unta dengan tidak memberikan solusi konkret atas masalah yang dihadapi negara.

Gema alunan suara pidato perdana Prabowo di Gedung MPR/DPR RI itu, belum senyap, perilaku anggota kabinetnya di bidang Menkum HAM Yusril ihza Mahendra dan Natalius Pigai sudah memperlihatkan gejala sifat dan karakter Burung Unta ia menyembunyikan sesuatu dari rasa ingin tahu publik mengenai pelanggaran HAM dan penyelesaiannya di masa lalu.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved