Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Akpol 1995

Sosok Jenderal Ungkap Kejahatan Baru Bermodus Lowongan Kerja ke Luar Negeri

Sosok Jenderal bintang satu Himawan Bayu Aji berhasil mengungkap kejahatan baru bermodus lowongan kerja ke luar negeri.

Editor: Ari Maryadi
Humas Polri
Dirtipidsiber Bareskrim Polri Brigjen Himawan Bayu Aji 

TRIBUN-TIMUR.COM -- Sosok Jenderal bintang satu berhasil mengungkap kejahatan baru bermodus lowongan kerja ke luar negeri.

Salah satu negara yang jadi korbannya berasal dari Indonesia.

Kejahatan tersebut meraup keuntungan sebanyak Rp1,5 triliun.

Kasus kejahatan tersebut diungkap Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri.

Dittipidsiber Bareskrim Polri dipimpin jenderal bintang satu.

Namanaya Brigjen Himawan Bayu Aji, lulusan akademi Kepolisian 1995 Batalyon Patria Tama.

Brigjen Himawan Bayu Aji mengungkap alasan sindikat penipuan online berkedok lowongan kerja (loker) paruh waktu jaringan internasional menyasar empat negara.

Keempat negara menjadi korban scam online ini ialah Indonesia, Thailand, India, dan Tiongkok.

“Jadi dia melihat Indonesia karena warga negara yang ikut itu Indonesia kemudian di-blasting ke beberapa negara. China karena penduduknya banyak, kemudian India itu padat,” kata Direktur Tindak Pidana Siber (Dirtipidsiber) Bareskrim Polri Brigjen Himawan Bayu Aji dikutip dari situs resmi Humas Polri.

Selain perihal kepadatan penduduk, Himawan menyebut sindikat penipuan ini telah memetakan aktivitas online negara yang disasar.

Pemetaan dilakukan pelaku dengan melihat social engineering, cara dimana penipu atau pelaku menggunakan kesalahan atau kecerobohan individu untuk mencuri data atau informasi penting yang konfidensial.

“Selain mereka juga secara sosial engineering memprofiling kira-kira mana yang mungkin atau jadi korban terbanyak,” ungkap jenderal bintang satu itu.

Adapun sindikat ini melancarkan aksinya dengan menyebarkan tautan website melalui platform online seperti Facebook, Telegram, dan WhatsApp.

Aksi scamming itu dikendalikan dari Kota Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

“Kenapa ini di Dubai? Karena ini pusatnya mereka di Dubai, kita ambilnya Dubai ini kita juga hasil penelusuran yang diberangkatkan kemudian ada di Dubai, ada penerjemah di sana,” ungkap dia.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved