Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Remaja dan Narkoba

Ini berarti remaja merupakan kelompok kedua terbesar penyalahguna narkotika di bumi nusantara dengan jumlah kurang lebih 1,1 juta jiwa.

Editor: Sudirman
Ist
Muhammad Hatta, Staf Dokter Badan Narkotika Nasional 

Itu sebabnya kelompok ini didominasi oleh kelompok remaja, pelajar/mahasiswa atau usia sekolah.

Strategi komunikasi yang keliru di masa lampau turut memberi andil peningkatan prevalensi penyalahguna narkoba di kalangan remaja.

Ketika putauw(heroin kelas 3) populer di kalangan remaja kita pada paruh dekade 2000, pemerintah menggunakan strategi :menakut- nakuti (mongering) berupa gambaran pecandu narkotika yang loyo, berbadan kurus kering, suka membolos sekolah atau kerja dan sakit-sakitan.

Gambaran tersebut akhirnya terpatri di benak masyarakat awam hingga kini.

Padahal sebagian besar generasi pengguna sabu malah berbadan ideal, sepintas kelihatan sehat dan malah rajin bekerja.

Paradigma rerata mereka adalah: “saya bukan pecandu karena saya sehat dan produktif seperti warga biasa lainnya.

Saya hanya mengkonsumsi vitamin penambah stamina saja”;

Bagi mereka, pemakaian sabu tak lagi merupakan moda kriminal, melainkan hanya sekedar vitamin penambah stamina.

Sedemikian dalamnya paradigma keliru tersebut sehingga para pecandu biasanya enggan untuk direhabilitasi pada awal-awal pemakaian sabu.

Dalam dunia rehabilitasi pecandu, fenomena ini dikenal dengan istilah tahap pre kontemplasi, di mana mereka belum sadar bahwa tindak penggunaan narkoba yang mereka lakukan dapat merugikan diri mereka sendiri serta keluarga dan masyarakat sekitar.

Dampak akhirnya, penyalahguna baru dibawa ke pusat-pusat rehabilitasi narkotika saat sudah jatuh dalam tahap adiksi berat atau dibekuk aparat.

Pendidikan karakter bangsa sejak usia dini merupakan solusi menangkal paradigma keliru di atas.

Bahaya narkotika yang lebih besar ketimbang manfaatnya, dapat ditekankan lebih dalam kepada anak dan remaja kita.

“Modifikasi budaya” sejak awal tersebut telah terbukti dapat merubah paradigma dan budaya lokal yang kadung dianut oleh masyarakat setempat(Suyanto,2010).

Informasi tentang efek negatif sabu (badan jadi loyo, sekujur badan terasa sakit, dan halusinasi pada dosis berat) mestinya lebih dikedepankan oleh media ketimbang tahayul penambah stamina.

Di aras pendidikan tinggi, materi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba idealnya dimasukkan pada perkuliahan semester awal perkuliahan seperti Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) dan Tahun Pertama Bersama (TPB).

Diharapkan dua solusi tersebut di atas dapat menurunkan tingkat penyalahgunaan narkoba pada remaja yang ujungnya menjadi daya ungkit optimalisasi generasi emas 2045. Semoga.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved