Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Penutupan Kampus: Langkah Terakhir untuk Menjaga Mutu

Ini menjadi sebuah tindakan akhir, dimana dalam kesempatan sebelumnya telah ada tahapan dan juga proses pembinaan.

Editor: Saldy Irawan
DOK PRIBADI
Ismail Suardi Wekke 

Imail Suardi Wekke
Pemuda ICMI


TRIBUN-TIMUR.COM - Awal tahun 2024, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Teknologi, dan Riset (Kemendikbudristek) menutup 23 kampus di seluruh Indonesia. Salah satunya, di Makassar.

Ini menjadi sebuah tindakan akhir, dimana dalam kesempatan sebelumnya telah ada tahapan dan juga proses pembinaan.

2008 menjadi permulaan wujudnya akreditasi. Dimana akreditasi ini merupakan bagian dari penjaminan mutu. Semasa kemenritekdikti wujud, telah dimasukkan akreditasi dalam komponen kecil sistem Penjaminan Mutu yang terbagi atas internal dan ekternal.

Sehingga akreditasi sejatinya tidaklah berdiri sendiri. Bahkan juga, ada PDDikti, dimana akan menjadi cerminan perguruan tinggi terkait dengan dosen dan mahasiswa. Sementara evaluasi dilaksanakan berkelanjutan.

Masa Depan Perguruan Tinggi

Situasi hari ini, setelah pandemic covid-19 adalah perubahan iklim dan pemanasan global. Dikatakan para pakar bahwa boleh jadi ini, dampaknya akan lebih luas berbanding dengan pagebluk yang sudah terlewati.

Maka, dengan situasi hari ini perguruan tinggi tidak lagi pada soal akreditasi, penjaminan mutu, dan kaitannya dengan adminitrasi pendidikan semata. Bahkan mulai mengintrodusir persoalan-persoalan lingkungan sebagai bentuk mitigasi bencana terhadap datangnya dua hal tadi, perubahan iklim dan pemanasan global.

Salah satu transformasi yang perlu dilakukan oleh perguruan tinggi adalah mengubah model pembelajarannya. Pembelajaran di perguruan tinggi perlu berfokus pada pengembangan keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan di masa depan, seperti keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan kolaborasi.

Selain itu, pembelajaran juga perlu bersifat adaptif dan responsif terhadap perubahan.

Transformasi lainnya yang perlu dilakukan oleh perguruan tinggi adalah meningkatkan kualitas dosen dan tenaga kependidikan. Dosen dan tenaga kependidikan perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni untuk dapat mendidik dan mengajar mahasiswa.

Selain itu, dosen dan tenaga kependidikan juga perlu memiliki kemampuan untuk berinovasi dan mengembangkan metode pembelajaran yang baru.

Perguruan tinggi juga perlu meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak, baik dari dunia pendidikan, industri, maupun masyarakat. Kerja sama ini diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan relevansi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja.

Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi untuk mempersiapkan masa depannya: Meningkatkan kualitas pembelajaran, Meningkatkan kualitas dosen dan tenaga kependidikan, dan Meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak. 

Dengan melakukan transformasi dan upaya-upaya tersebut, perguruan tinggi diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan masa depan dan dapat berkontribusi secara positif bagi pembangunan bangsa.

Berikut adalah beberapa contoh transformasi yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi:

Pengembangan pembelajaran daring dan blended learning, Pengembangan pembelajaran berbasis proyek dan penelitian, dan Pengembangan pembelajaran berbasis kompetensi.

Transformasi-transformasi tersebut dapat dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing perguruan tinggi.

Kuncinya pada Kolaborasi (Gotong Royong)

Kolaborasi (Gotong royong) di perguruan tinggi merupakan salah satu nilai yang perlu ditanamkan kembali kepada seluruh sivitas akademika, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa. Gotong royong merupakan semangat kebersamaan dan saling membantu untuk mencapai tujuan bersama.

Gotong royong merupakan salah satu nilai yang penting untuk ditanamkan di perguruan tinggi. Dengan gotong royong, perguruan tinggi dapat menjadi tempat yang lebih baik untuk belajar, bekerja, dan berkarya.

Betapa kemajuan Korea Selatan tidak dapat dilepaskan dari “Saemaul Undong”.

Sebuah gerakan kolaborasi yang di Indonesia disebut Gotong Royong. Maka, untuk mewujudkan perguruan tinggi unggul, tidak ada pilihan lain kecuali dengan menjadikan Gotong Royong (kolaborasi) sebagai bagian dari budaya mutu di perguruan tinggi.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Cinta dan Syukur

 

Cinta dan Syukur

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved