Opini
Puasa dan Kapitalisme Religius
Pertama, puasa adalah pensucian diri menghapus dosa dengan berbagai takarannya; dosa besar ataupun dosa kecil.
Muhammad Suryadi R
Founder Lingkar Studi Aktivis Filsafat (LSAF) An-Nahdliyyah
RAMADAN kini membersamai kita. Kaum muslim tumpah ruah menyambut kedatangannya dengan ragam ekspresi.
Ramadan -yang juga disebut bulan puasa- sangat istimewa, sebab membawa maslahat begitu banyak dalam kehidupan khususnya kaum muslim.
Pertama, puasa adalah pensucian diri menghapus dosa dengan berbagai takarannya; dosa besar ataupun dosa kecil.
Kedua, seorang muslim yang melaksanakannya dengan sangat baik akan mendapatkan ganjaran sangat besar sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah: 185.
Kendati demikian, dalam perjalanannya, puasa mengalami problem.
Masalah ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan oleh kondisi tertentu.
Dalam perbincangan, puasa tentu tidak bermasalah, tetap sama ketika diturunkannya.
Dalam pelaksanaannyalah seringkali bermasalah.
Penyebabnya karena kondisi yang menurut penulis diakibatkan oleh kecenderungan manusia pada kesadaran materialisme.
Evolusi Kesadaran
Kesadaran manusia seringkali mengalami perkembangan dan dinamika.
Mulanya, kesadaran berada pada tahapan teologis.
Pada fase ini, manusia sangat mistik yang meyakini entitas absolut yang disebut Tuhan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhammad-Suryadi-R-Founder-Lingkar-Studi-Aktivis-Filsafat-LSAF-2.jpg)